vivixtopz

Jurnalisme Dasar


— Kembali ke Muka … —

Modul

JURNALISME DASAR

 

Oleh: Ahmad Taufiq MA

 

 

1

Apakah Berita Itu?

Jenis-jenis berita

Dari mana berita berasal

Peran wartawan

Obyektivitas dan keadilan

Pemasok berita

 

2

Mendapatkan Berita

Lima W dan Satu H

Observasi

Penelitian sumber

Wawancara aturan dasar

Memahami secara tepat

 

3

Menyampaikan Berita

Fokus

Penulisan

Lead

Struktur berita

Penutup

Rujukan

Kutipan dan sound bite

Bilangan

 

4

Menyunting Berita

Tugas di surat kabar

Tugas dl media siaran

Peran redaktur

Menyunting naskah

Pelatihan

Judul berita, keterangan gambar dan tease

Grafik dan gambar

Penyeliaan

 

5

Media Siaran dan Online

Bentuk berita dan istilah

Media siaran

Penulisan berita media

Siaran suara gambar

Siaran berita

Bentuk berita online

Penulisan online

 

6

Jurnalisme Khusus

Keterampilan wartawan beat

Pemerintah dan politik

Bisnis dan ekonomi

Kesehatan, ilmu pengetahuan, dan lingkungan

Kepolisian dan pengadilan

Olahraga

Pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan wartawan

Tentang jajak pendapat

 

7

Etika dan Hukum

Prinsip-prinsip etika

Pembuatan keputusan beretika

Kode etika

Kode tingkah laku

Standar masyarakat

Isu-isu hukum

 

8

Sumber Daya Jurnalistik

Kelompok keanggotaan

Pelaporan dan penyuntingan

Jurnalisme khusus

Pelatihan jurnalistik

Kebebasan berekspresi

Buku

Kode etika

 

PENGANTAR

Jurnalisme adalah sebuah profesi sekaligus seni, karena wartawan memiliki ketrampilan khusus dan tunduk pada standar-standar umum. Lalu apa yang membuat jurnalisme berbeda dengan pekerjaan lain seperti bidang kedokteran dan hukum, padahal ketiganya bisa digambarkan dengan istilah-istilah yang mirip? Barangkali perbedaan terbesarnya adalah peran khusus yang dimainkan media berita dalam sebuah masyarakat yang bebas.

Pers yang bebas sering disebut sebagai oksigen bagi demokrasi, karena salah satunya tidak bisa hidup tanpa lainnya. Penulis masalah politik Prancis Alexis de Tocqueville pun beranggapan demikian, “Anda tidak bisa membaca surat kabar yang sesungguhnya tanpa demokrasi. Dan Anda tidak akan bisa punya demokrasi tanpa surat kabar,” tulisnya. Sejak itu, ungkapan sederhana itu sudah terbukti benar. Negara demokrasi, baik yang sudah mapan maupun yang sedang tumbuh, bergantung pada izin dari masyarakat yang mendapatkan informasi, dan media berita merupakan sumber utama bagi informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa mengatur diri sendiri.

Guna menjamin wartawan dapat menyediakan informasi, banyak negara sudah membuat perlindungan hukum bagi pers yang bebas. Di Amerika Serikat, misalnya, jurnalisme adalah satu-satunya profesi yang disebutkan dalam konstitusi. Disebutkan, “Kongres tidak boleh membuat undang-undang yang membatasi kebebasan berbicara atau pers.”

Wartawan di sebuah masyarakat yang bebas tidak hanya mempunyai perlindungan hukum. Mereka juga mempunyai tanggungjawab. Baik yang diuraikan dengan jelas maupun tersirat. Tapi di hampir semua kasus, tujuannya sama: agar warga selalu mendapat informasi, dan wartawan bertanggungjawab untuk menyediakan informasi akurat dan adil, bebas dari pengaruh luar.

 

“Tujuan pokok jurnalisme adalah menyediakan bagi warga informasi yang akurat dan dapat diandalkan yang mereka butuhkan agar mereka bisa berfungsi dalam sebuah masyarakat yang bebas.”

 

Dalam masyarakat yang demokratis, media berita memiliki fungsi tambahan, yakni sebagai “anjing penjaga” perilaku cabang-cabang politik dan yudikatif pemerintah. Media menjaga demokrasi agar tetap berjalan, dan memastikan bahwa golongan mayoritas yang berkuasa tidak menginjak-injak hak-hak minoritas.

Tapi, peran utama jurnalisme dalam masyarakat yang bebas tetap sama. Yaitu menyediakan informasi akurat dan dapat diandalkan yang warga butuhkan.

Buku panduan ini menyediakan pengantar singkat tentang dasar-dasar jurnalisme, sebagaimana yang dipraktikkan dalam sistem demokrasi. Tujuannya adalah agar ada sebuah pedoman yang bermanfaat dan praktis, yang akan membantu semua wartawan melakukan pekerjaan yang lebih baik bagi masyarakat yang mereka layani.

 

 

1

APAKAH BERITA ITU?

 

Berita adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang sedang terjadi. Dalam istilah kamus, berita diartikan sebagai: laporan tentang kejadian-kejadian baru-baru, atau informasi yang sebelumnya tidak diketahui.

Lalu, apa yang membuat sebuah berita cukup layak untuk diterbitkan atau disiarkan?

Secara umum, berita adalah informasi yang menarik minat luas khalayaknya. Dan penerbitan atau penyiaran sebuah berita tergantung pada banyak faktor, khususnya adalah “nilai-nilai berita” yang wartawan putuskan untuk mereka liput.

Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut:

a. Ketepatan waktu

Maksudnya: apakah sesuatu terjadi baru-baru ini, ataukah kita baru saja mengetahuinya? Dan inilah yang akan menjadi “layak berita”.

Makna “baru-baru ini,” bervariasi menurut jenis medianya. Untuk majalah mingguan, apa saja yang terjadi sejak edisi terakhir (minggu lalu), masih bisa dianggap layak. Untuk saluran berita TV kabel 24 jam, berita yang mungkin paling layak mungkin adalah breakang news, atau sesuatu yang sedang terjadi saat ini dan dapat dilaporkan secara langsung oleh wartawan dari tempat kejadian.

b. Dampak

Yaitu, banyak atau sedikitnya orang yang terpengaruh. Seperti: pencemaran jaringan air minum yang melayani kota berpenduduk 20.000 jiwa, memiliki dampat luas karena berpengaruh langsung pada khalayak kita. Atau laporan tentang tewasnya 10 anak setelah minum air yang tercemar, karena khalayak cenderung akan bereaksi emosional terhadap berita tersebut.

c. Kedekatan

Kedekatan yang dimaksud adalah: apakah sesuatu itu terjadi dekat dengan kita dan melibatkan warga setempat. Seperti: berita kecelakaan pesawat terbang di Jepang, mungkin akan menjadi berita utama di Tokyo, tapi berita ini mungkin tidak akan muncul di halaman depan di Brasil, kecuali jika pesawat itu mengangkut penumpanq dari Brasil.

d. Kontroversi

Maksudnya, apakah ada orang yang berbeda pendapat tentang berita ini. Karena memang sudah kodrat manusia untuk tertarik pada berita-berita yang melibatkan konflik, ketegangan, atau debat publik. Orang suka memihak, dan melihat pihak mana yang akan menang.

Walau konflik yang dimaksud tidak selalu memperlihatkan gontok-gontokan satu pihak dengan pihak lainnya. Berita tentang para dokter yang memerangi penyakit, atau warga yang menentang UU yang tidak adil, juga merupakan berita yang melibatkan konflik.

e. Tokoh penting

Ini untuk memandai adakah orang terkenal yang terlibat dalam berita itu. Kegiatan atau kecelakaan biasa akan menjadi berita jika melibatkan orang penting, seperti perdana menteri atau bintang film. Pesawat yang jatuh di Jepang akan menjadi berita utama di seluruh dunia, jika ada seorang bintang musik rock terkenal menjadi salah satu penumpangnya.

f. Topik pembicaraan

Maksudnya, apakah orang-orang saat ini membicarakan hal tersebut. Seperti: sebuah rapat pemerintah tentang keamanan penerbangan mungkin tidak menarik, kecuali jika rapat itu diselenggarakan segera selepas terjadi kecelakaan tragis sebuah pesawat.

Atau pula, sebuah insiden dalam pertandingan sepak bola mungkin dapat muncul menjadi berita selama beberapa hari karena pertandingan itu memang tengah menjadi topik pembicaraan orang-orang di kota kita.

g. Keganjilan

harus diteliti, apakah kejadian yang akan diliput memiliki ketidak-laziman. Seperti jika ada manusia menggigit anjing. Karena biasanya yang terjadi adalah anjing menggigit manusia. Berita yang luar biasa dan tak terduga seperti ini tentu menggugah rasa penasaran alami kita sebagai manusia.

Apa saja yang bisa menjadi berita, juga bergantung pada jenis khalayak yang dituju. Bukan hanya “di mana mereka tinggal”, tetapi juga “siapa mereka”. Masing-masing komunitas tentu memiliki gaya hidup dan keprihatinan yang berbeda, sehingga mereka akan tertarik pada jenis-jenis berita yang berbeda pula.

Acara siaran berita radio yang ditujukan kepada pendengar muda, mungkin berisi berita tentang musik atau olahraga yang tidak akan ditampilkan dalam surat kabar bisnis dengan sasaran pembaca yang lebih tua dan mapan. Majalah mingguan yang meliput berita kedokteran akan melaporkan uji coba sebuah obat, karena para dokter yang membaca mingguan itu dianggap akan tertarik.

Organisasi berita yang baik adalah yang memandang pekerjaan mereka sebagai pelayan publik. Maka berita yang mereka sajikan merupakan bahan informasi menarik yang ingin diketahui warga. Sayangnya saat ini kebanyakan organisasi berita justru menjadi bisnis yang harus mendapatkan laba agar tetap hidup.

Beberapa berita terbaik yang terjadi sehari-hari kenyataannya adalah penting dan menarik. Tapi organisasi berita biasanya membagi jenis berita dalam dua kategori dasar: berita keras dan berita lunak, yang juga disebut feature.

==========

Jenis-jenis Berita

Berita keras adalah berita hari ini. Itulah yang anda lihat di halaman depan surat kabar atau di bagian atas sebuah Situs berita, dan yang anda dengan pertama kali dalam sebuah siaran berita. Misalnya, perang, politik, bisnis, dan kejahatan sering menjadi topik berita keras. Sebuah pemogokan yang diumumkan hari ini oleh para pengemudi bus kota yang menyebabkan ribuan penumpang terlantar adalah sebuah berita keras. Waktu kejadiannya tepat, kontroversial, dan membawa danpak luas sampai ke dekat rumah. Warga perlu informasi itu segera karena hal itu berdanpak pada kehidupan sehari-hari mereka.

Sebaliknya, sebuah berita tentang atlet yang dibesarkan di sebuah panti asuhan akan cocok sebagai berita lunak. Ini adalah kisah kemanusiaan yang melibatkan seseorang yang terkenal dan merupakan sebuah kisah tidak lazim yang cenderung akan dibicarakan dengan kawan-kawan. Tapi tidak ada alasan yang mendesak untuk menerbitkan atau menyiarkan berita itu pada hari tertentu. Menurut definisi, maka berita itu merupakan sebuah berita feature. Banyak surat kabar dan situs berita menyediakan seksi khusus untuk kisah-kisah tenting gaya hidup, rumah tangga dan keluarga, seni, dan hiburan. Surat kabar yang lebih hesar bahkan punya seksi mingguan untuk jenis feature khas seperti makanan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

Topik bukanlah situ-satunya hal yang membedakan antara berita keras dan feature. Dalam kebanyakan hal, berita keras dan berita lunak ditulis berbeda. Berita keras biasanya ditulis agar pembaca mendapatkan informasi terpenting sesegera mungkin. Penulis feature sering memulai dengan sebuah anekdot atau sebuah contoh yang dirancang terutama untuk menarik minat pembaca, sehingga kisahnya mungkin lebih panjang untuk sampai ke topik utamanya.

Beberapa berita mencampurkan kedua pendekatan ini. Berita yang tidak begitu peka waktu tapi yang berfokus pada isu-isu penting sering disebut “feature berita”. Kisah tentang perjuangan warga untuk mengatasi AIDS, misalnya, akan menjadi berita keras. Feature berita merupakan cara yang efektif untuk menjelajahi tren-tren atau masalah sosial yang rumit dengan menceritakan kisah-kisah pribadi tentang orang-orang yang mengalami hal-hal itu. (Kita akan membahas perbedaan gaya penulisan ini dengan lebih rinci pada Bab 3, “Mengisahkan Berita.”)

 

Dari Mana Berita Berasal

 

Wartawan menemukan berita di semua jenis tempat, tapi kebanyakan berita berasal dari salah satu dari ketiga hal mendasar ini: kejadian yang berlangsung alamiah seperti bencana alam dan kecelakaan; kegiatan terencana, seperti rapat dan konferensi pers; upaya wartawan.

 

Kejadian tak terencana sering menjadi berita utama. Kapal tenggelam, pesawat jatuh, tsunami, atau tanah longsor sangat layak berita bukan hanya pada saat kejadian tetapi juga sering berhari-hari dan berminggu-minggu sesudahnya. Luasnya liputan itu bergantung pada kedekatan dengan lokasi kejadian dan pada orang yang terlibat. Sebuah kecelakaan mobil yang fatal di Paris mungkin tidak akan menjadi berita besar kapan saja. Tapi kecelakaan yang terjadi di Paris pada 1979 menjadi berita heboh, bukan saja di Prancis tetapi juga di seluruh dunia karena salah satu korbannya adalah Putri Diana.

Warga yang menyaksikan bencana alam sering menghubungi organisasi berita. wartawan juga mengetahui kejadian-kejadian ini dari para penanggap pertama: polisi, pemadan kebakaran dan petugas penyelamat. Di beberapa negara, organisasi berita bisa memantau komunikasi darurat antara para penanggap pertama dan mengirim wartawannya ke lokasi secepat mungkin sehingga mereka bisa menyaksikan kejadian itu berlangsung.

Di banyak ruang redaksi, sumber berita yang paling jelas adalah jadwal acara sehari-hari di kota, yang mencakup rapat pemerintah, pembukaan bisnis, atau acara-acara komunitas. Daftar kegiatan yang sering disebut “buku harian” itu tidak secara otomatis layak berita tapi bisa menjadi titik awal yang baik bagi wartawan yang mencari berita. wartawan yang secara teratur meliput jenis-jenis isu atau lembaga khusus, yang juga disebut wartawan “beat”, mengatakan mereka sering mendapatkan ide berita dari agenda rapat-rapat yang akan datang.

Siaran pers juga menjadi sumber berita, tapi lagi-lagi itu hanya menjadi titik awal saja. Puluhan siaran pers berdatangan ke ruang redaksi setiap hari lewat surar, faks atau bahkan di video llewat satulit. Pejahat dan instansi pemerintah banyak mengeluarkan siaran pers, tapi organisasi besar seperti usaha swasta dan kelompok nirlaba juga mengeluarkan siaran pers agar pihak media mengetahui kegiatan mereka. Sebuah siaran pers mungkin mirip dengan berita tapi karena dikeluarkan oleh seseorang dengan kepentingan khusus pada subyeknya, maka siaran pers cenderung tidak mencerminkan kisah yang lengkap. Siaran pers secara fakta mungkin benar tapi biasanya hanya berisi fakta-fakta yang menampilkan citra hositif orang-orang atau organisasi yang disebutkan dalam siaran itu.

Kalaupun sebuah siaran pers tampak layak berita, wartawan profesional harus memastikan keotentikannya, kemudian baru mulai mengajukan pertanyaan untuk menentukan berita yang sesungguhnya sebelum memutuskan apakah itu layak dilaporkan.

Kejadian-kejadian terencana, seperti demonstrasi, juga bisa menghasilkan berita, tapi wartawan harus waspada agar tidak dimanipulasi oleh para penggeraknya yang ingin menceritakan berita itu dari sisi mereka saja. Politikus sudah makan lihai dalam merekayasa peristiwa atau “kesempatan berfoto” untuk menarik liputan, bahkan ketika mereka tidak punya nilai berita sama sekali. Itu tidak berarti bahwa wartawan harus mengabaikan peristiwa-peristiwa demikian. Mereka hanya perlu melakukan liputan tambahan untuk mendapatkan kisah yang lengkap.

Kebanyakan wartawan mengatakan cerita terbaik mereka berasal dari upaya mereka sendiri. Kadang-kadang saran tentang berita datang dari orang asing, yang mungkin berkunjung, mennelpon, atau mengirim email ke ruang redaksi dengan membawa keluhan atau keprihatinan. Beberapa organisasi berita secara aktif mencari ide dari warga masyarakat yang mereka layani dengan meninggalkan nomor telepon atau alamat email untuk menampung saran. wartawan banyak menghabiskan waktu untuk membina hubungan dengan orang-prang yang dapat memberi mereka informasi. (Kita akan nernicara tentang pembentukan sumber dalam Bab 2, “Mendapatkan Berita.”)

Wartawan sering menemukan berita hanya dengan berkeliling atau mendengarkan pembicaraan orang. Apa yang Anda dengar di pertandingan olahraga atau di antrian di kantor pos bisa menjadi berita. Tanyalah orang-orang yang Anda jumpai saat Anda meliput berita tentang kehidupan mereka dan tetangga mereka dan Anda mungkin akan menemukan diri Anda berada di sebuah jalur menuju ke sebuah berita yang tidak ditemukan oleh orang lain.

Cara lain untuk menemukan berita adalah dengan bertanya apa yang sudah terjadi sejak sebuah berita terakhir kali dimuat di koran arau ditayangkan di udara. Sebuah laporan lanjutan sering menuntun ke perkembangan-perkembangan mengejutkan yang sering justru lebih layak berita ketimbang laporan pertamanya. Misalnya, sebuah kisah tentang kebakaran satu hari setelah kejadian bisa menunjukkan berapa jumlah orang yang tewas dan besarnya kerugian harta henda.

Tetapi laporan lanjuran beberapa minggu kemudian mungkin menemukan bahwa sebuah kegagalan dalam sistem komunikasi radio ternyata membuat para perugas pemadan kebakaran tidak mungkin memberi tanggapan cukup cepat untuk menyelamatkan jiwa orang.

Dokumen, data, dan arsip publik juga dapat menuntun ke berita besar. wartawan dapat menggunakannya untuk melihat-lihat tren atau untuk menemukan penyimpangan. Tugas semacam ini memerlukan lebih banyak upaya, tapi hasilnya hampir selalu sepadan dengan jerih payahnya. Jauh lebih mudah jika data itu tersedia secara elektronik, tentu saja, tapi wartawan pun sudah mulai memasukkan data dari dokumen ke dalam komputer sehingga mereka bisa mencari informasi yang paling penting dari sekumpulan data statistik.

Misalnya, sebuah daftar tentang orang-orang yang sudah menerima tiket pelanggaran kecepatan mungkin bisa menghasilkan sebuah berita jika dipilah menurut nama prang dan bukan tanggal kejadian. Begitulah cara wartawati relevisi Nancy Amons mengetahui bahwa seorang pengemudi di kotanya sudah berhasil meengumpulkan satu lusin tiket pelanggaran lalu lintas selama tiga tahun dan bahkan menyebabkan tewasnya seorang pengemudi lain tanpa pernah kehilangan SIMnya. Ketika Nancy melakukan penyelidikan, para pejabat kota mengaku bahwa mereka bekerja kurang baik.

 

Peran wartawan

Teknologi baru memungkinkan siapa saja yang punya komputer untuk menyebarkan informasi sama luasnya dengan organisasi berita yang paling besar pun. Tapi sebuah situs Internet yang dirancang dengan baik, betapa baik pun penulisannya dan seringnya diperbarui, situs itu tidak selalu merupakan sumber berita yang dapat diandalkan.

Sesungguhnya, dalam dunia yang semakan kompleks ini di mana informasi tidak lagi menjadi komoditas yang langka, peran wartawan sudah menjadi makan penting ketimbang dulu-dulu.

Tidak seperti penyebar propaganda atau gossip, wartawan memilah-milah informasi yang ada dan menentukan seberapa banyak informasi yang berharga dan dapat diandalkan sebelum menyampaikannya kepada publik. Berita, entah keras atau feature, harus akurat. wartawan bukan saja mengumpulkan informasi yang mereka perlukan untuk menyampaikan beritanya. Mereka harus memverifikasi informasi itu sebelum menggunakannya. wartawan mengandalkan observasi dari tangan pertama sebisa mungkin dan banyak sumber lain untuk memastikan bahwa informasi yang mereka peroleh dapat diandalkan. Dan, kecuali dalam kasus-kasus yang langka, mereka menyebutkan jatidiri sumber informasi mereka sehingga khalayak dapat mengevaluasi kredibilitas informasi itu.

“Dalam dunia yang semakan kompleks ini di mana informasi tidak lagi menjadi komoditas yang langka, peran wartawan sudah menjadi makan penting ketimbang dulu-dulu.”

Tapi jurnalisme lebih dari sekadar penyebaran informasi berdasar fakta. Propaganda bisa juga didasarkan pada fakta, tapi fakta-fakta itu disajikan sedemikian rupa untuk mempengaruhi pendapat orang. Seperti sudah kita catat di muka, para pejabat hubungan masyarakat juga menggunakan fakta, tapi mereka mungkin hanya menceritakan suatu sisi saja dari berita itu. Sedangkan wartawan berusaha untuk bersikap adil dan tuntas. Mereka herusaha menceritakan kisah yang akurat dan otentik, berita yang menggambarkan realitas, bukan persepsi mereka sendiri atau persepsi orang lain tentang hal itu.

Perbedaan lain antara jurnalisme dan bentuk informasi lain adalah bahwa wartawan berusaha bebas dari pengaruh orang yang mereka liput. Seorang profesional hubungan masyarakat yang dipekerjakan oleh sebuah organisasi dan menulis tentang organisasi itu cenderung tidak akan memasukkan informasi yang mungkin akan menyebabkan informasi itu tampak jelek. wartawan sebaliknya akan berusaha menyediakan gambaran yang lengkap meskipun tidak sepenuhnya positif.

Wartawan bukan sekadar penghantar bagi sudut pandang mereka sendiri atau bagi informasi yang disediakan oleh orang lain. Mereka benar-benar melukukan pelaporan sendiri, mereka tidak mencampuradukkan fakta dengan opini atau desas-desus, dan mereka membuat keputusan redaksional yang baik. Sebuah tanggung jawab utama jurnalisme, kata Bill Keller, redaktur pelaksana New York Times, adalah “menerapkan penilaian pada informasi”.Tidak seperti pemasok informasi, wartawan memberikan kesetiaan utama mereka kepada masyarakat. Sebagaimana dinyatakan dalam kode etika Montreal Gazette di Kanada, “Aset terbesar surat kabar adalah integritas.

Penghirmatan pada integritas itu diraih dengan susah payah dan mudah lepas.” Untuk menjaga integritas itu, wartawan bekerja keras menghindari konflik kepentingan, yang nyata maupun yang dirasakan. (Kita akan berbicara tentang hal ini pada Bab 7, “Etika dan Hukum.”)

 

Obyektivitas dan Keadilan

Konsep onjektivitas dalam jurnalisme berkembang hampir satu abad yang lalu, sebagai reaksi terhadap pelaporan yang sensasional dan didorong oleh opini yang merupakan hal biasa pada kebanyakan surat kabar zaman itu. Istilah “objektivitas” pada mulanya dipakai untuk menggambarkan sebuah pendekatan atau metode jurnalistik; wartawan akan berusaha menyampaikan berita dengan cara yang objektif, tanpa mencerminkan bias pribadi maupun kelompok.

Waktu berjalan, objektivitas lalu disyaratkan dari para wartawan sendiri. Redaktur pelaksana Washington Post memandang konsep itu sedemikain seriusnya sampai ia tidak mau mendaftar sebagai pemilih. Tapi banyak wartawan saat ini mengakui bahwa objektivitas yang total adalah mustahil. Pada 1996, Himpunan Jurnalis Profesional AS membuang kata “objektivitas” dari kode etika mereka. Bagaimana pun wartawan adalah manusia juga. Mereka menyukai pekerjaan mereka dan mereka juga punya pandangan pribadi. Menyatakan bahwa mereka benar-benar objektif sama artinya dengan mengatakan bahwa mereka tidak punya nilai. Sebaliknya, wartawan sudah banyak yang sepakat bahwa mereka harus sadar akan pandangan mereka sendiri sehingga mereka bisa tetap menakannya. Khalayak harus tidak bisa menyimpulkan dari sebuah berita tentang pandangan wartawan. Dengan menggunakan metode ilmiah yang objektif untuk menverifikasi informasi, wartawan dapat melaporkan berita yang tidak menggambarkan pandangan pribadi mereka sendiri. Berita itu sendiri, dengan kata lain, harus tidak memihak dan adil.

Wartawan juga berusaha bersikap adil dallam meliput dengan tidak menceritakan satu sisi berita saja. Mereka mencari pandangan yang berbeda dan melaporkannya tanpa berpihak pada satu sisi mana pun. Selain menverifikasi pernyataan tentang fakta, mereka akan mencari pandangan berbeda dalam kasus-kasus yang sedang diperdebatkan.

Namun adil tidak artinya dengan berimbang. Berimbang menyiratkan bahwa hanya ada dua pihak dalam sebuah berita, padahal kasus demikian ini jarang ada, dan bahwa setiap pihak harus diberi bobot yang setara. wartawan yang berusaha mencari jenis keseimbangan semu seperti itu dalam berita mereka sebenarnya bahkan bisa menghasilkan liputan yang secara menndasar tidak akurat. Misalnya, sebagian besar ekonom independen mungkin sepakat tentang konsekuensi dari sebuah kebijakan pos belanja tertentu, sementara segelintir ekonom lain punya pandangan berbeda, padahal pandangan mereka sudah terbukti salah di masa lalu. Sebuah berita yang memberikan waktu dan ruang yang sama pada pandangan kedua belah pihak itu jadinya malah akan menyesatkan.

Tantangan bagi wartawan adalah melaporkan semua sudut pandang yang penting dengan cara yang adil kepada oran-orang yang terlibat dan yang juga menyajikan gambaran yang lengkap dan jujur kepada khalayak. “Adil artinva, antara lain, mendengarkan sudut-sudut pandang berbeda, dan memasukkan mereka ke dalam jurnalisme,” ujar wartawan dan penulis blog Dan Gillmor. “Itu tidak berarti membebek kebohongan atau pelintiran untuk mencapai keseimbangan yang malas itu dan yang akan memaksa wartawan mencari kutipan-kutipan berlawanan ketika fakta-fakta yang ada sepenuhnya mendukung salah satu sisi.”

 

Pemasok Berita

Wartawan di seluruh dunia merapunyai ciri-ciri tertentu yang sama. Mereka penasaran dan gigih. Mereka ingin tahu mengapa sesuatu terjadi dan mereka tidak mau mendapatkan jawaban tidak. Mereka tidak bisa diintimidasi oleh orang yang berkuasa dan mereka menjaga pekerjaan mereka dengan sungguh-sungguh. Kevin Marsh, redaktur pada Radio 4 BBC, mengatakan bahwa seorang wartawan yang baik punya “kemampuan untuk menangkap kebenaran besar – dan dengan rasa malu untuk melepaskannya kembali jika fakta-faktanya tidak cocok.” Pekerjaan wartawan memang menantang dan rumit.

Seperti kata Philip Graham, mendiang ketua dewan direksi Washington Post Company, “(Seorang wartawan punya) tugas mustahil yang tak terhindarkan untuk menyediakan setiap minggu sebuah konsep kasar pertama sebuah sejarah yang tidak akan pernah selesai tentang sebuah dunia yang tidak dapat pernah kita pahami.”

Wartawan saat ini punya penyaluran yang lebih banyak ketimbang kapan pun dalam sejarah, dari surat kabar komunitas kecil sampai saluran berita televisi dunia dan situs berita di Internet. Masing-masing saluran media ini punya kelebihan dan kekurangan sendiri.

Di kebanvakan negara, surat kabar hanian pada umumnya punya staf paling besar dan menyajikan liputan lebih mendalam tentang jajaran topik yang luas ketimbang media siaran. Ditambah dengan situs Internet, banyak surat kabar sudah mulai mengatasi keterbatasan mereka pada jadwal tradisional mereka untuk terbit setiap hari. Tapi mereka kebanyakan hanya menjangkau khalayak yang melek huruf dan berkelebilaan, orang-orang yang dapat membaca dan punya cukup uang untuk membeli koran atau punya akses ke komputer untuk membaca koran tersebut secara online.

Radio, sebagai salah satu sumber berita yang paling banyak dipakai di dunia, punya kelebihan karena tingkat kecepatan dan ketersediaannya. wartawan radio bisa mengudarakan beritanya dengan cepat dan siapa saja yang punya radio transistor bisa mendengarkan berita itu hampir dari mana saja dan kapan raja. wartawan radio menyiarkan beritanya disertai dengan suara selain kata-kata, sehingga pendengar merasakan bahwa mereka benar-benar mengalami sebagian dari kejadian yang diberitakan itu. Berita radio mengudara berkali-kali sehari sehingga dengan mudah dapat diperbarui. Tapi kebanyakan stasiun radio hanya menyediakan waktu terbatas untuk masing-masing acara warta berita, sehingga beritanya cenderung berupa ringkasan raja dari berita-berita yang lebih besar tanpa kedalaman seperti dalam berita di surat kabar.

Dengan suara dan gambar, acara warta berita televisi dapat memperlihatkan kepada penonton apa yang sedang terjadi, bukan sekadar menceritakan berita itu. Salah satu kelebihan stasiun televisi adalah kemampuannya untuk menyampaikan emosi dan berbagi pengalaman dengan penonton.

Kemajuan teknologi – kamera kecil, penyuntingan digital, dan sambungan satulit mobil – sudah memungkinkan stasiun televisi bisa hampir secepat radio untuk mengudarakan beritanya. Tapi ketergantungan media ini pada gambar bisa menjadi kendala. Televisi kadang-kadang menghindari berita yang rumit karena berita demikian biasanya secara visual kurang mendesak.

Baru-baru ini, perbedaan tradisional antara berita media cetak dan media siaran mulai memudar. Di Amerika Serikat dan negara-negara lain, banyak organisasi berita menyampaikan berita dalam berbagai bentuk media termasuk Internet. Karena Internet bisa diperluas tanpa batas, maka berita online tidak harus tunduk pada keterbatasan waktu dan orang seperti yang dialami oleh media cetak dan siaran. Situs-situs berita bisa menyediakan lebih banyak informasi dan membuatnya tetap bisa diakses untuk waktu yang lama. Dan pembaca bisa memilih-milih berita yang paling menarik minat mereka.

Situs-situs berita online yang berafiliasi dengan surat kabar, radio dan stasiun televisi mungkin tampak mirip. Situs-situs itu memberi ilustrasi foro pada beritanya, dan banyak pula yang menayangkan rekaman berita dalam video atau siaran berita yang lengkap. Mereka juga menyediakan versi “podcast”, yakni memasang nama-nama file berita mereka di Internet sehingga pelanggan bisa mengunduh berita itu ke dalam komputer mereka untuk dibaca kemudian. Pada beberapa situs anda bisa membaca teks sebuah berita atau mendengarkan suara penulis yang membacakan teks beritanya. Organisasi berita bahkan memasang weblog (umum dikenal dengan kependekannya, “blog”) mereka sendiri, sehingga para wartawannya bisa membuat buku harian online tentang berita-berita yang sedang mereka liput atau keputusan yang dibuat di ruang redaksi.

Dalam dunia berita yang terus berevolusi ini, banyak wartawan menemukan bahwa mereka membutuhkan ketrampilan tambahan untuk menjalankan pekerjaan yang diharapkan dari mereka. wartawan mungkin diharapkan untuk memotret foto yang akan dipakai di Internet, selain mewawancarai sumber berita dan menulis berita untuk surat kabar. Redaksi mungkin diminta untuk memasang berita di Internet, selain harus memeriksa tulisan wartawan dan menulis judul berita. Jurukamera mungkin perlu merekam video selain membuat foto diam, dan mungkin harus menyediakan teks untuk mengiringi gambar-gambar mereka. Banyak organisasi berita sekarang menyediakan pelatihan bagi wartawan yang sudah mulai memainkan peran-peran haru di ruang redaksi. Dan beberapa pengajar jurnalistik sekarang menerapkan apa yang mereka sebut “kurikulum konvergensi” untuk membantu mahasiswa mempelajari berbagai macam ketrampilan yang mungkin mereka perlukan kelak.

Tapi untuk semua tuntutan baru ini, jantung dari jurnalisme yang baik tetap sama. Sebagaimana ditulis oleh Bill Kovadi dan Tom Rosentiel dalam buku mereka, Elemen-Elemen Jurnalisme ada sejumlah prinsip jelas yang disepakati oleh para wartawan dalam sebuah masyarakat yang demokratis dan yang layak diharapkan oleh warganya:

Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.

Kesetiaan pertamanya adalah pada warga negara.

Intisari jurnalisme adalah disiplin pada verifikasi.

Para praktisinya harus mempertahankan independensi dari pihak-pihak yang mereka liput.

Jurnalisme harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan.

Jurnalisme harus menyediakan sebuah forum untuk kritik dan kompromi publik.

Jurnalisme harus berusaha menjadikan hal-hal yang paling menarik dan relevan.

Jurnalisme harus menjaga agar beritanya komprehensif dan proporsional.

Para praktisinya harus diperbolehkan menggutamakan hati nurani pribadi mereka.

 

Nilai-nilai ini membedakan jurnalisme dengan semua bentuk komunikasi yang lain. Taat pada prinsip-prinsip itu tidaklah mudah. wartawan menghadapi tekanan untuk berkompromi dengan standar-standar itu hampir setiap hari. Tapi mengingat terus prinsip-prinsip itu merupakan cara terbaik untuk memastikan bahwa jurnalisme dapat menjalankan fungsi utamanya, memberi warga informasi yang mereka butuhkan guna melakukan keputusan tentang kehidupan mereka.

 

 

2

 

MANDAPATKAN BERITA

 

Petunjuk itu datang dari seorang mantan pejabat pemerintah yang menyarankan agar ia melihat-lihat jumlah rakit penyelamat pada kapal-kapal feri di negara bagian Washington. wartawan Eric Nalder, saat itu bekerja untuk Seattle Times, memutuskan untuk mengeceknya. Teleponnya yang pertama ditujukan kepada direktur keselamatan jaringan feri, yang baru saja menduduki jabatannya, tapi yang mau memberi Nalder nama dan tempat tinggal pendahulunya. Kelika ia mengecek ke mantan direktur tersebut lewat telepon, mantan pejabat itu memang membenarkan adanya kurangnya jumlah rakit penyelamat itu. Jauh dari rasa puas karena sudah mendapatkan berita yang bagus, Nalder tampaknya baru saja mulai.Untuk mendapatkan berita yang lengkap, Nalder memerlukan dokumen-dokumen yang menunjukkan jumlah rakit penyelamat untuk setiap kapal feri. Ia harus menganalisis data untuk menentukan gawatnya kelangkaan rakit itu. Ia juga ingin naik ke salah satu feri itu dan berbicara dengan penumpang lain dan awaknya. Baru saat itulah ia siap untuk menulis sebuah berita untuk halaman pertama, yang mengungkapkan bahwa feri-feri di negara bagiannya ternyata punya rakit penyelamat yang jumlahnya hanya mampu mengevakuasi satu dari setiap tujuh penumpang.

Meliput adalah proses yang melelahkan dan melibatkan pengumpulan fakta dan pengecekan data secara cermat. wartawan kadang-kadang menyaksikan suatu berita sendiri, tapi yang lebih umum adalah mereka mengetahui rinciannya dari pihak lain yang mengalami sesuatu secara langsung atau yang merupakan pakar dalam topik itu. Informasi itu lalu diperkuat atau ditunjang oleh sumber-sumber tambahan, dan dicocokkan dalam bentuk catatan, laporan atau arsip publik.

Informasi yang dikumpulkan oleh seorang wartawan harus menjawab pertanyaan yang biasa disebut dengan lima W dan satu H: who (siapa), what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). Bergantung pada kompleksitas sebuah berita, seorang wartawan mungkin akan mengajukn pertanyaan-perranyaan itu dalam berbagai cara berbeda.

 

Who

Siapa yang terlihat dalam berita itu? Siapa yang terkena danpaknya?

Siapa orang yang bisa menceritakannya dengan paling baik?

Siapa saja yang terlewat dari berita ini? Siapa yang punya informasi lebih banyak tentang hal ini?

Siapa yang berkonflik dalam berita ini? Apakah mereka punya persamaan?

Siapa lagi yang bisa diajak bicara mengenai hal ini?

 

What

Apa yang sudah terjadi?

Apa poin berita ini? Apa yang benar-benar harus saya beritakan?

Apa yang pembaca, penonton, atau pendegar perlu ketahui untuk memahami berita ini?

Apa yung sudah mengejutkun saya? Fakta terpenting tunggal apa yang sudah saya peroleh?

Apa (bagaimanariwayatnya di sini?

Apa yang terjadi kemudian?

Apa yang bisa dilakukan orang tentang hal ini?

 

Where

Di mana hal ini terjadi?

Di mana lagi saya bisa mendapatkan cerita yang lengkap?

Ke mana selanjutnya cerita ini akan menuju? Bagaimana ini akan berakhir?

 

When

Kapan hal ini terjadi?

Kapan titik balik dalam berita ini terjadi?

Kapan saya harus melaporkan berita ini?

 

Why

Mengapa hal ini terjadi? Apakah ini sebuah kasus tersendiri atau bagian dari sebuah tren?

Mengapa orang bertingkah laku seperti itu? Adakah motif tertentu?

Mengapa berita ini penting? Mengapa pula orang harus menonton, membaca, atau mendengarkan?

Mengapa saya yakan saya menyampaikan berita ini dengan benar?

 

How

Bagaimana hal ini terjadi?

Bagaimana ada hal-hal yang akan berubah karena sesuatu yang sudah terjadi itu?

Bagaimana berita ini akan membantu pembaca, pendengar atau penonton? Masyarakat?

Bagaimana saya mendapatkan informasi ini? Apakah rujukannya jelas?

Bagaimana orang akan menggambarkan berita ini kepada temannya?

 

Banyak wartawan menggunakan daftar cek mental semacam ini untuk memastikan bahwa mereka sudah menggunakan semua unsur penting dalam sebuah berita.

 

Observasi

 

“Wartawan yang baik menggunakan semua indera mereka di lokasi.”

 

Observasi di lokasi adalah salah satu dasar bagi liputan yang baik. Wartawan ingin menyaksikan kejadian-kejadian untuk mereka sendiri di mana pun sehingga mereka bisa menggambarkannya dengan akurat bagi khalayaknya. wartawan yang baik menggunakan semua indera mereka di lokasi. Mereka melihat, mendengar, mencium, mencicipi, dan merasakan berita itu agar khalayaknya pun demikian.

Untuk melakukan hal ini dengan baik, wartawan membutuhkan catatan yang akurat tentang observasi mereka. Seorang wartawan media cetak dapat melakukan tugas ini dengan sebuah buku catatan dan pena atau pensil, tapi banyak juga yang membawa perekam audio dan kamera, terutama jika mereka juga diharapkan untuk mengumpulkan berita bagi edisi online mereka. Untuk radio, wartawan perlu menangkap suara, dan untuk televisi, suara dan gambar.

Menggunakan alat perekam merupakan salah satu cara untuk memastikan bahwa kutipan-kutipan yang dipakai adalah akurat. Tapi alat elektronik sering gagal, sehingga penting bagi semua wartawan untuk menjadi pencatat yang trampil. Berikut adalah petuah untuk membuat catatan dari para wartawan kawakan:

Cacat segala fakra, rincian, pemikiran, gagasan. Buat masing-masing hal itu jelas, dan dari mana asalnya.

Gambar diagram ruangan, lokasi, atau benda-benda yang saling berkaitan.

Dapatkan selalu nama-nama dan gelar yang dieja dengan benar serta informasi untuk melakukan kontak. Tanyakan tanggal dan tahun kelahiran agar Anda yakan umur orang itu benar.

Sebutkan aturan-aturan dasar wawancara dalam buku catatan.

Jangan penuhi buku catatan ini. Sisihkan ruangan untuk penjelasan.

Kosongkan bagian dalam sampul buku itu untuk ditulisi pertanyaan kelak.

Segera beri penjelasan pada catatan-catatan itu.

 

Banyak wartawan menggunakan tulisan steno sendiri untuk kata-kata yang sudah umum sehingga mereka bisa mencatat dengan lebih cepat. Mereka kemudian menjelaskan catatan itu, mengeja singkatan untuk menghindari adanya kebingungan kelak. Mereka juga akan menandai informasi yang paling penting dalam berita itu, apa saja yang perlu mereka tindak lanjuti atau mereka cek demi akurasi, dan pertanyaan-pertanyaan yang masih perlu dijawab.

Tampaknya sudah jelas, tapi wartawan harus yakan bahwa mereka punya piranti yang diperlukan sebelum pergi ke luar untuk meliput berita: buku catatan, pena, pita perekam atau perekam digital, dan baterai baru.

Tidak ada yang lebih membuat jengah dibanding saat tiba di lokasi dan menemukan bahwa tidak ada film atau pita di kamera mereka, atau satu-satunya pena yang anda bawa kehabisan tinta. wartawan zaman sekarang sering membawa piranti tambahan: telepon genggam, dan komputer laptop. Beberapa hal lain yang sederhana bisa juga berguna. Menaruh karet gelang di buku catatan untuk menandai halaman kosong berikut membuatnya mudah menemukan halaman itu. Kantung plastik bisa melindungi buku catatan Anda di tengah hujan, sehingga buku itu tetap kering dan tintanya tidak melebar.

Teropong kecil akan membantu Anda melihat apa yang sedang terjadi jika Anda tidak bisa mendekati lokasi. Kalkulator akan membantu Anda mengkonversi informasi tentang jumlah seperti berton-ton bahan bakar yang ada dalam pesawat terbang ke dalam istilah-istilah yang lebih umum bagi khalayak seperti liter dan galon.

 

Penelitian

Wartawan cenderung mengumpulkan lebih banyak informasi dibanding jumlah yang bisa mereka masukkan ke dalam berita, tapi informasi itu selalu membantu mereka memahami kejadian atau isu yang sedang mereka liput.

Kadang-kadang informasi latar belakang sangat penting untuk memberi arti yang lebih dalam pada berita. Dalam kisah Eric Nalder tentang rakit penyelamat itu, misalnya, ia memasukkan fakta bahwa perairan yang diarungi oleh kapal feri itu pada bulan Januari cukup dingin untuk membunuh seseorang dalam waktu setengah jam saja. Informasi itu relevan dengan kasus kurangnya jumlah rakit penyelamat itu karena menamhah jelas pentingnya masalah tersehut. Persis informasi seperti inilah yang dicari wartawan ketika mereka melakukan penelitian untuk sebuah berita, baik sebelum mereka meninggalkan ruang redaksi maupun sepanjang jalan ketika pertanyaan muncul.

Wartawan zaman sekarang punya piranti penelitian yang jauh lebih banyak daripada dulu berkat komputer dan Internet. Banyak di antara piranti itu berupa versi teknologi tinggi dari peralatan dasar dalam bidang itu: buku alamat dagang, almanak, ensiklopedi, dan peta. Yang lain berupa database dan laporan yang akan jauh lebih sulit dicari di hari-hari sebelum ada Internet karena akan diperlukan kunjungan pribadi ke perpustakaan atau ke kantor pemerintah. Tapi masih ada lagi piranti yang sedikit orang saja bisa membayangkan dua dasawarsa yang lalu: mesin pencari (seardi engine), blog dan ruang ngobrol (diat room), serta daftar email.

Kesemua sumber daya ini berguna bagi wartawan yang sedang mengumpulkan latar belakang bagi sebuah berita. Tapi salah satu piranti dasar penelitian tidak berubah selama satu abad: perpustakaan milik organisasi berita sendiri tentang berita-berita yang sudah diterbitkan atau ditayangkan sebelumnya. Apakah “kliping” itu disimpan di dalam kertas dalam laci arsip atau dalam arsip komputer, kliping tersebut berguna sebagai tempat awal untuk semua jenis berita. Banyak wartawan juga menyimpan “arsip kliping” berita mereka sendiri tentang topik-topik tertentu.

Bayangkan bahwa seorang mantan presiden di negara tetangga meninggal dunia. wartawan yang ditugaskan menulis berita itu akan ingin mengetahui sejumlah fakta dasar: umur, penyebab kematian, dan di mana serta kapan ia meninggal. Tapi wartawan itu juga ingin informasi tentang saat ia menjabat, dan bagaimana negara itu sudah berubah sejak ia menjadi presiden. Langkah pertama adalah melihat-lihat berita-berita sebelumnya, baik di arsip ruang redaksi maupun di komputer. Laporan-laporan itu mungkin menyebutkan nama orang lain yang dekat dengan mantan presiden itu, yang bisa diminta waktunya untuk wawancara. wartawan itu ingin mendapatkan latar belakang orang itu sebelum wawancara, dan mungkin menjadi tahu bahwa teman mantan presiden tersebut menyimpan semua surat-menyurat sang presiden, yang akan mengungkap sejumlah informasi baru yang mengejutkan.

Melakukan wawancara tanpa melakukan penelitian latar belakang terlebih dulu mirip dengan mengemudi ke tempat asing tanpa membawa peta. Anda mungkin saja sampai di sana, tapi mungkin juga Anda akan melewatkan salah satu belokannya sepaniang jalan.

 

Sumber

 

Wartawan menggunakan sumber utama maupun sumber kedua. Sumber utama bisa berupa wawancara dengan orang yang punya pengalaman langsung dengan suatu kejadian atau topik, atau dokumen asli yang terkait dengan topik itu. Sebagai saksi, wartawan itu sendiri bisa juga menjadi sumber utama.

Sumber kedua mungkin berupa laporan tertulis berdasarkan pada dokumen asli tersebut. Dalam kasus kebakaran, misalnya, orang yang rumahnya terbakar adalah sumber utama; begitu juga petugas pemadan kebakaran yang terlibat dalam upaya pemadanan. Sedangkan siaran pers yang dikeluarkan oleh dinas kebakaran keesokan harinya akan menjadi sumber kedua.

Salah satu aturan yang dipegang oleh wartawan kawakan ketika sedang melakukan penelitian adalah bahwa tidak satu sumber pun bisa memberikan seluruh informasi yang mungkin ia perlukan. Dalam kasus mantan presiden di muka, setiap sumber yang dihubungi wartawan akan menuntun ke sumber lain. Kadang-kadang para sumber itu bahkan bertentangan. Untuk menghilangkan perbedaan itu, wartawan mungkin harus mencari di mana letak bobot dari buktinya, atau mencari sumber aslinya, seperti dokumen, untuk menentukan versi mana yang betul. Sumber kedua paling berguna sebagai cara untuk memastikan informasi yang diperoleh dari sumber utama.

 

“Wartawan yang baik “menggarap” sumber mereka secara teratur, menghubungi mereka untuk menanyakan apa ada hal menarik yang sedang terjadi.”

 

Apa pun sumber yang Anda gunakan untuk meneliti latar belakang sebuah berita, penting sekali mempertimbangkan keabsahan atau kredibilitas sumber. Zaman sekarang siapa saja dapat merancang sebuah situs Internet yang tampak profesional, atau mengirim email yang tampak otentik padahal sebenarnya hanya pepesan kosong. Hanya karena Anda dapat menemukannya di komputer tidaklah berarti bahwa informasi itu benar. wartawan perlu memverifikasi sumber dari semua informasi untuk menentukan apakah informasi itu cukup dapat dipercaya untuk dipakai dalam sebuah berita.

Memutuskan sumber apa saja yang akan dipakai dalam sebuah berita merupakan bagian besar dalam tugas wartawan. Berikut adalah sejumlah pertanyaan berguna untuk mengevaluasi apakah Anda sudah memilih sumber yang benar atau sumber terbaik untuk berita Anda.

• Bagaimana sumber ini tahu apa yang ia ketahui? (Apakah orang itu dalam kedudukan bisa mengetahui hal-hal ini, baik secara pribadi maupun dari profesinya?)

Bagaimana saya dapat memastikan informasi ini lewat sumber-sumber lain atau lewat dokumen?

Seberapa representatifkah sudut pandang sumber saya? (Apakah hanya orang ini saja yang menuntut keras kepada induk semang, karena mereka mempunyai masalah pribadi? Ataukah ia orang yang menyampaikan suara paling keras mewakili seluruh penyewa rumah yang mempunyai masalah serius dan sah?) Apakah sumber ini di masa lalu dapat diandalkan dan dipercaya?

Apakah saya hanya menggunakan sumber ini saja karena akan mempermudah pekerjaan atau karena saya percaya akan dapat sesuatu darinya?

Apakah motif sang sumber dengan menyediakan informasi? (Apakah orang ini berusaha membuat dirinya tampak bagus, atau membuat bosnya tampak buruk? Mengapa ia pertama-tama harus berbicara kepada saya?)

Begitu Anda sudah menemukan sebuah sumber informasi yang berguna untuk satu berita, bagus kalau Anda bisa membina hubungan dengan orang itu untuk jangka panjang. Dapatkah sebanyak mungkin informasi dari setiap sumber, bukan hanya alamat dan nomor telepon kantor, tapi juga nomor telepon rumah dan genggam serta alamat email. wartawan yang baik menggarap sumber mereka secara teratur, menghubungi mereka untuk menanyakan apa ada hal memarik yang sedang terjadi. Buatlah umber Anda mudah menghuhungi Anda dengan memberikan kartu nama Anda kepada siapa saja yang Anda jumpai dalam liputan Anda.

Siapa saja yang punya akses ke informasi, termasuk para sekretaris dan kerani kantor, dapat menjadi sumber yang berguna bagi watawan. Mereka bisa menyediakan salinan dokumen, dan sering tahu siapa orang yimg paling tahu tentang topik tertentu. wartawan yang memperlakukan mereka dengan penuh hormat akan mendapatkan bahwa permohonim wawancara dengan atasan sekretaris akan lebih cepat dipenuhi.

 

Wawancara

 

Wartawan Amerika Kristin Gilger mengatakim, “Wawancara yang trampil adalah dasar bagi semua liputan dan penulisan yang baik.” Wawancara ditakdirkan menjadi informasi, pandangan dan pengalaman yang dibagikan oleh sebuah sumber dalam percakapan dengan wartawan. Yang membuat wawancara sedikit berbeda dengan percakapan biasa adalah bahwa wartawanlah yang menentukan arah pertanyaannya.

Merancang wawancara tidak selalu mudah. Orang mungkin tidak mau berbicara dengan wartawan, terutama jika beritanya kontroversial. Jika tengah berhadapan dengan pejabat publik, mulailah dengan alasan bahwa masyarakat punya hak untuk tahu apa yang dikerjakan pejabat itu. wartawan berpengalaman menemukan bahwa mereka dapat membujuk bahkan pejahat yang paling enggan pun untuk bersedia diwawancarai dengan mengantisipasi segala dalih dan penghalang yang mungkin mereka ajukan.

• Mereka tidak punya waktuWartawan dapat mengusulkim untuk bertemu di waktu dan tempat yang paling nyaman bagi orang yang akan mereka wawancarai. Membatasi lama waktu yang diminta juga akan membantu.

• Mereka takut berita itu akan membuat mereka tampak buruk.

Memperlakukan orang lain dengan hormat dan mengatakan dengan persis mengapa Anda ingin berbicara dengannya akan mengurangi rasa cemas sang sumber.

• Mereka tidak tahu akan bicara apa. wartawan harus menjelaskan mengapa berianya memerlukan sudut pandang orang tertentu.

• Mereka sulit dihubungi.

Wartawan sering harus menemui sekretaris atau pejabat huhungan masyarakat untuk menghubungi orang yang akan mereka wawancarai. Jika curiga bahwa pesannya tidak disampaikan kepada sumber itu, ada wartawan yang akan menulis surat kepada sumber itu atau menelepon pada jam makan siang atau setelah jam kantor untuk bisa menghubunginya.

 

Begitu Anda sudah bisa mendapatkan janji wawancara dan berhasil menghuhungi sumber tersebut beserta topiknya, masih ada persiapan lain.

Kebanyakan wartawan mengembangkan satu daftar pertanyaan atau topik, yang mereka bawa tapi tidak dibaca selama wawancara. Sebaliknya, mereka akan menggunakan daftar itu menjelang akhir wawancara untuk memastikan bahwa mereka tidak melupakan hal-hal penting. Daftar itu juga berisi informasi lain, dokumen atau foto yang ingin mereka dapatkan dari sumber mereka.

Pertanyaan adalah tulang punggung wawancara, kemudi yang menjaga kapal tetap menuju ke arah yang benar. Pertanyaan yang bagus bisa menghasilkim jawaban tak terduga, banyak informasi, dan kejutan. Pertanyaan buruk bisa membuat Anda bertanya-tanya untuk apa Anda bersusah payah berbicara dengan orang itu. Pertanyaan yang terlalu spesifik dapat menjerumuskan Anda ke jalur yang salah.

 

“Wawancara yang trampil adalah dasar bagi semua liputan dan penulisan yang baik.”

 

Pertanyaan pertama dalam sebuah wawancara penting karena akan menentukan suasana kelanjutan wawancara. Banyak wartawan suka memulai dengan sebuah pertanyaan “pemecah kebekuan” yang bisa menyebabkan sumber bersikap santai. Pertanyaan itu membuatnya merasa nyaman untuk menjawab. Bisa jadi pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan keberadaan Anda di sana, tapi sering membantu membangun citra positif pada Anda di mata sumher, dan hal ini bisa membangun semacam kepercayaan dan keterbukaan.

Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan yang paling bagus berupa pertanyaan yang memerlukan penjelasan dan tidak bisa dijawab sekadar dengan “ya” atau “tidak.” Pertanyaan-pertanyaan itu juga tidak mengandung penilaian karena tidak mengatakan sudut panding wartawan. Ini adalah perbedaan antara “Apa pendapat Anda tentang hal itu?” dan “Apa gerangan pendapat Anda!” Meskipun mengajukan pertanyaan yang bagus itu penting, penting juga bersikap diam dan membiarkan orang yang diwawancarai berbicara.

Wartawan yang baik adalah pendengar yang baik, dan sering mendapatkan informasi yang paling berharga dengan bersikap diam. Apa yang Anda dengar bisa saja memancing pertanyaan tambahan yang mungkin tidak terlintas dalam benak Anda sebelumnya. Robert Siegel, yang bekerja pada Radio Publik Nasional di Washington, D.C. berkisah tentang wawancara yang dilakukannya dengan seorang diplomat Turki setelah Paul Yohanes Paulus II terluka, ditembak oleh seorang warga Turki di Roma. Pertanyaan pertamanya, “Apakah Anda tahu seluk-beluk orang ini, Mehmet Ali Agca; di mana ia tinggal, apa yang dilakukannya di sana, visa jenis apa yang diberikan Italia kepadanya?” Semua jawabannya adalah “tidak”. Setelah mencoba lagi beberapa kali, Siegel berhenti sejenak, sudah hampir menyerah. Dan diplomat itu mengisi keheningan itu dengan kata-kata berikut, “… kecuall bahwa ia adalah narapidana pembunuh yang paling tersohor di Turki, yang berhasil lolos dari penjara setelah membunuh redaktur salah satu koran besar kami.” Siegel mengatakan ia hampir saja kehilangan sebuah berita besar dengan mengajukin pertanyaan-pertanyaan yang terlalu dangkal. Ia mengakui bahwa sebuah cara lain yang lebih baik untuk memulai wawancara mungkin adalah dengan mengatakan, “Mohon jelaskan ihwal orang ini.”

Wartawan bisa melakukan wawancara tatap muka, lewat telepon, atau secara online lewat email (surat elektronik) atau instant messaging (pengiriman pesan langsung). Masing-masing pendekatan ini punya kelebihan dan kekurangannya. Dalam wawancara tatap muka wartawan bisa memperoleh pemahaman yang lebih lengkap tentang orang tersebut. Foto-foto apa saja yang dipajang di dinding? Apakah mejanya rapi atau berantakan? Buku apa saja yang ada di rak? Menemui orang itu secara langsung juga memberi wartawan kemampuan untuk menilai kredibilitas sumber berdasarkan tingkah lakunya. Apakah ia tampak gugup atau nyaman? Apakah ia mau menatap muka wartawan? Christopher (Chip) Scanlan, direktur lokakarya penulisan pada Lembaga Poynter, sebuah sekolah jurnalistik di Amerika Serikat, berkisah tentang wawancaranya dengan seorang wanita yang baru saja kehilangan suaminya karena penyakit kanker. Wanita itu membawanya berkeliling rumah, dan di kamar tidur ia berkata, “Anda tahu, setiap malam saya menaruh sedikit minyak wangi (suami saya) di atas bantal, supaya saya bisa percaya bahwa ia masih ada bersama saya.” Ini adalah rincian yang bisa dicium dan dirasakan oleh pembaca, yang tidak akan pernah diperoleh Scanlan melalui telepon atau lewat komputer.

Wawancara lewat telepon kurang menyita waktu. Beberapa wartawan merasa lebih nyaman sambil menulis catatan saat mereka tidak perlu merasa repot untuk menjaga kontak mata dengan sumber. Mereka bahkan bisa mengetik catatan di komputer. Wawancara lewat email berguna untuk menghubungi orang-orang di tempat yang jauh, tapi wartawan tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan dan menanggapinya saat itu juga. Pengiriman pesan langsung lewat Internet lebih mirip dengan wawancara per telepon. Namun kedua metode online itu menimbulkan keraguan apakah orang di seberang sana benar orang yang mengirim jawaban tersebut.

Karena masalah demikian inilah harian Virginian-Pilot di Norfolk, Virginia, menetapkan sebuah kehijakan di ruang redaksi untuk liputan online:

“Jika kita mengutip dari komunikasi elektronik, kita harus memastikan bahwa komunikasi itu murni karena orang mudah sekali merekayasa alamat pengirim atau membuka komputer dengan nama orang lain. Internet tidak bisa diatur seperti halnya layanan kawat berita (seperti Reuter arau Associated Press); pepesan kosong bisa datang dari mana saja.” wartawan yang menggunakan email atau bentuk-bentuk lain komunikasi online hendaknya mengikuti standar profesi yang sama seperti halnya bentuk komunikasi lainnya. Mereka harus mengidentifikasikan diri sebagai wartawan dan menyebutkan informasi apa yang mereka cari serta alasannya. Mereka perlu menerapkan ketrampilan pengecekan fakta dan berpikir yang sama seperti yang akan mereka lakukan dengan setiap sumber lain. Apapun cara yang mereka pakai dalam melakukan wawancara, wartawan biasanya punya sejumlah pertanyaan penutup.

Pertama-tama, mereka mungkin meringkas percakapanitu untuk memastikan bahwa mereka sudah mendengar secara akurat apa yang digunakan sumber. Lalu mereka akan bertanya apa ada lagi yang ingin ditambahkan oleh irang yang diwawancarai. Mereka juga akan meminta waktu yang paling baik untuk bisa berhubungan kembali dengan orang tersebut. Dan banyak wartawan punya pertanyaan pamungkas pada semua wawancara: “Kepada siapa lagi saya harus berbicara tentang hal ini?”

 

Pertanyaan adalah tulang punggung wawancara.

 

Aturan Dasar

 

Kebanyakan wawancara dilakukan secara “on the record.” Artinya wartawan dapat menggunakan apa saja yang sudah diucapkan dan merujuknya langsung pada orang yang mengucapkannya. Penting untuk memastikan bahwa sumber mengetahui hal ini, terutama ketika wartawan berurusan dengan orang awam yang tidak terbiasa dikutip di koran atau di udara. Jika informasi itu tidak “on the record,” wartawan maupun sumber harus sepakat lebih dulu tentang syarat-syarat penggunaan informasi itu.

Sebuah wawancara “latar belakang” atau “tidak untuk dirujuk” biasanya berarti bahwa informasi itu dapat digunakan dalam sebuah berita dan kata-kata sumber bisa dikutip langsung, tapi namanya tidak disebutkan. Tapi sumber itu bisa diidentifikasikan secara umum, misalnya, sebagai “seorang staf kementrian luar negeri” atau “seorang insinyur perusahaan” – selama sumber dan sang wartawan sepakat mengenai deskripsi yang akan mereka pakai tentang sumber itu.

Banyak organisasi sudah menetapkan kebijakan tentang penggunaan sumber yang tidak disebutkan namanya. Harian New York Times, misalnya, menyatakan: “Penggunaan sumber yang tidak diidentifikasi dibatasi untuk situasi-situasi di mana tanpa hal itu koran ini tidak bisa mencetak informasi yang dianggapnya dapat diandalkan dan layak berita.

Ketika kita menggunakan sumber itu, kita menerima kewajiban bukan saja untuk menyakankan pembaca akan keterandalan sumber itu tetapi juga untuk menyampaikan apa yang sudah kita ketahui tentang motivasinya.” wartawan hendaknya tidak cepat-cepat setuju untuk melakukan wawancara latar belakang karena sumber kadang-kadang berusaha menggunakannya untuk menutupi semacam serangan pribadi atau partisan, karena ia takut hal itu tidak bisa ditelusuri sampai ke dirinya. Dan menggunakan sumber tanpa nama akan membuat pembaca sulit mengevaluasi kredibilitas informasi itu.

Ada kalanya wartawan hanya bisa mendapatkan informasi latar belakang karena hanya dengan cara itu sumber mau berbicara. Sumber yang takut akan keselamatan dirinya jika orang lain tahu bahwa ia sudah berbicara dengan wartawan mungkin hanya mau memberi informasi untuk latar belakang.

Berikut adalah pedoman untuk memutuskan apakah Anda akan mau menerima dan mengutamakan informasi latar belakang:

•Berita itu sudah merupakan perhatian masyarakat luas.

•Tidak ada cara lain untuk mendapatkan informasi yang bisa dimuat dalam betira.

•Sumber itulah yang tahu tentang kebenarannya.

•Anda mau menjelaskan (dalam berita Anda) mengapa sumber itu tidak mau disebut namanya.

Di sejumlah ibukota, pejabat pemerintah mau berbicara kepada wartawan sebagai latar belakang serta sebagai “latar belakang mendalam.” Artinya informasi itu dapat digunakan tapi bukan dalam bentuk kutipan langsung, dan sumber itu tidak bisa diidentifikasi. wartawan bisa menulis hanya bahwa pejabat itu diketahui percaya akan sesuatu atau hal lain.

Informasi yang ditawarkan “off the record” tidak bisa dipakai sama sekali. Maka wartawan akan berusaha keras menghindari pengaturan demikian, kecuali jika sumber itu begitu penting bagi beritanya sehingga ia tidak punya cara lain lagi. Informasi “off the record” bahkan tidak boleh disampaikan kepada sumber lain, tapi itu bisa memberi petunjuk kepada wartawan ke sebuah berita yang layak dikejar.

Bagaimana pun pengaturannya, terserah kepada wartawan bagaimana ia bisa meyakankan bahwa kedua belah pihak memahami dan sepakat dengan aturan-aturan dasarnya sebelum wawancara dilakukan. Kadang-kadang sumber ingin mengubah aturannya di tengah jalan dengan mengatakan hal yang penting kepada wartawan tapi kemudian menambahkan, “Tapi Anda tidak akan menggunakannya, bukan?” Itulah sebabnya penting menjelaskan segala sesuatunya sejak awal, dan sepakat untuk tidak menahan informasi kecuali sudah ada kesepakatan tersendiri sebelum berlanjut ke wawancara.

Wartawan juga harus jelas tentang sampai di mana mereka akan berusaha melindungi identitas sumber. Dalam sejumlah yurisdiksi, wartawan mungkin berisiko dipenjara jika mereka menolak mengungkapkan informasi tentang seorang sumber dalam sidang pengadilan. Jika wartawan tidak mau mengambil risiko menginap di penjara untuk melindungi sumber, ia harus bilang begitu.

 

Kredibilitas adalah aset wartawan yang paling penting, dan keakuratan adalah cara terbaik untuk melindunginya.

 

Ada wartawan yang trampil sekali dalam menjadikan informasi “off the record” menjadi “on the record.” Eric Nalder adalah salah satunya. Ketika sebuah wawancara “off the record” selesai, ia membaca ulang sebuah kutipan yang sangat tidak berbahaya dan bertanya, “Mengapa itu tidak boleh dikutip?” Ketika sang sumber mengizinkan ia menggunakan kutipan itu, Nalder terus melihat-lihat catatannya, membaca kembali kutipan-kutipannya dan mendapat izin untuk mengutipnya dalam berita. Nalder mengatakan ia pernah berhasil mengubah keseluruhan sebuah wawancara dari “off” menjadi “on the record.” Sebagian karena sumber itu sekarang sudah percaya bahwa ia akurat karena ia sudah mendengar kutipan itu dibaca ulang.

Salah satu aturan dasar lain yang penting untuk dipahami wartawan adalah penggunaan “embargo” atas suatu informasi yang disediakan oleh sumber. Artinya informasi itu disediakan dengan syarat tidak akan digunakan sampai waktu tertentu. Sebuah instansi pemerintah yang akan mengumumkan sebuah kebijakan baru mungkin menyediakan ringkasan tertulis beberapa jam atau bahkan satu hari sebelumnya. Itu memberi waktu kepada wartawan untuk mencerna informasi tersebut sebelum sebuah konferensi pers membuat kebijakan itu menjadi resmi. wartawan yang menerima informasi di bawah embargo harus menghormatinya kecuali jika berita itu sudah menyebar sebelum waktu yang ditentukan itu tiba.

 

Memahami Secara Tepat

Kredibilitas adalah aset wartawan yang paling penting, dan keakuratan adalah cara terbaik untuk melindunginya. Untuk memastikan keakuratan, wartawan harus meyakankan cek dan cek ulang atas semua informasi yang mereka kumpulkan bagi sebuah berita. wartawan akan membuat kesalahan, tapi itu harus jarang-jarang. Ketika sebuah koran Amerika, Oregonian, di Portland mempelajari kesalahan mereka sendiri, redaksi menyimpulkan bahwa kesalahan itu terutama terjadi karena tiga sebab;

• Bekerja dengan ingatan;

• Membuat asumsi;

• Berhubungan dengan sumber tangan kedua.

Kita akan berbicara lebih lanjut tentang mendapatkan kebenaran dalam Bab 4 (“Menyunting Berita”). Tapi wartawan adalah jajaran pertahanan terdepan organisasi berita terhadap kesalahan. wartawan yang membuat caratan yang bagus dan sering melihat-lihatnya, dan yang mencari sumber utama kapan saja, akan lebih sanggup patuh pada tiga aturan jurnalisme dari mendiang penerbit Amerika Joseph Pulitzer: “Keakuratan, keakuratan, dan keakuratan.”

 

 

 

3

MENYAMPAIKAN BERITA

 

Semua berita terdiri dari fakta, observasi, kutipan, dan rincian. Wartawan hampir selalu punya lebih banyak informasi daripada yang bisa digunakan, dan karena mereka sudah bekerja keras untuk mengumpulkan semua informasi itu, secara alami mereka akan terdorong menggunakan sebanyak mungkin informasi itu dalam berita mereka. Tapi menjejalkan semua fakta yang cocok jarang bisa menghasilkan berita yang diceritakan dengan baik untuk menggugah minat khalayak.

Akan lebih sulit memahami cerita yang kebanyakan informasi. wartawan yang berusaha menjelaskan segala sesuatu mungkin hanya akan berhasil membuat khalayaknya bingung. Lagi pula surat kabar hanya punya ruang terbatas, radio dan televisi punya waktu terbatas, dan pembaca, pendengar dan penonton hanya punya waktu luang dan perhatian terbatas untuk menangkap berita itu.

Jurnalisme yang baik menyangkut seleksi, bukannya penjejalan, informasi. wartawan harus menggunakan penilaian berita mereka untuk memutuskan apa yang paling penting untuk dimasukan ke dalam berita dan bagaimana urutannya. Bagi banyak wartawan, bagian tersulit dalam menyampaikan berita adalah dalam memutuskan apa yang harus dibuang. Salah satu cara untuk mengambil keputusan itu adalah dengan memilih inti atau tema yang juga disebut fokus.

 

Fokus

 

Fokus sebuah berita pada dasarnya adalah jawaban atas pertanyaan, “Tentang apa sebenarnya berita ini.” Untuk menentukan fokus, instruktur penulisan Lembaga Poynter Chip Scanlan menyarankan lima pertanyaan tambahan:

• Apa beritanya?

• Bagaimana kisahnya?

• Apa gambarnya?

• Bagaimana saya bisa menyatakannya dalam enam kata?

• Lalu?

Bayangkan Anda tengah meliput sebuah kebakaran yang melanda dengan cepat. Anda sudah banyak berbicara dengan warga dan mengamati kerugiannya sepanjang hari. Sekarang Anda perlu memfokuskan berita Anda sebelum mulai menulis. Di sini Anda mungkin bisa menggunakan pertanyaan Scanlan untuk menemukan fokus Anda:

Apa beritanya?

Suatu kebakaran menghancurkan dua buah rumah di bukit sebelah timur kota, tapi tidak ada yang terluka dan kawasan pertokoan kota itu selamat.

Bagaimana kisahnya?

Dua keluarga kehilangan rumah tapi bersyukur masih tetap hidup.

Apa gambarnya?

Para anggota keluarga itu saling berpelukan di dekat reruntuhan rumah mereka yang masih berasap.

Bagaimana saya bisa menyatakannya dalam enam kata?

Kebakaran menghancurkan rumah tapi tidak semangat.

Lalu?

Kerugian harta benda dari kebakaran hebat terbatas.

 

Wartawan yang menulis kisah ini tahu bahwa lead-nya (paragrap pertamanya) adalah tentang kedua keluarga yang kehilangan rumah mereka; bahwa ia akan menggunakan kutipan di awal cerita dari seoring anggota keluarga yang mengucapkan syukur bahwa semua orang selamat dan bahwa ia juga akan memasukkan informasi umum tentang kerugian harta benda. wartawan itu tahu bahwa ia dapat mengesampingkan sebagian informasi yang sudah diperolehnya tentang jumlah dinas kebakaran yang memberi tanggapan di kawasan pertokoan, tapi ia mungkin masih memerlukan kutipan dari kepala dinas itu.

Hasil dari latihan mencari fokus ini tidaklah berarti bahwa setiap orang hanya akan mempunyai satu fokus yang dapat diterima. Sebaliknya, wartawan untuk organisasi berita yang berbeda mungkin saja menggunakan fakta yang sama dan menulis berita mereka secara berbeda karena mereka memutuskan fokus yang berbeda. Dalam kasus kebakaran hebat ini seorang warnawan dapat saja menggunakan kelima pertanyaan itu dengan fokus berbeda.

•Apa beritanya?

Bisnis di kota kami lolos dari kehancuran akibat sebuah kebakaran yang menghancurkan dua buah rumah di bukit sebelah timur kota.

Bagaimana kisahnya?

Para pemilik usaha bersyukur usaha mereka selamat kali ini.

Apa gambarnya?

Seorang pemilik usaha bersalaman dengan petugas kebakaran di luar tokonya.

Bagaimana saya dapat menyatakannya dalam enam kata?

Kebakaran tidak bisa menghentikan bisnis.

Lalu?

Dampak ekonomi dari kebakaran itu terbatas.

Versi berita yang ini akan dimulai dengan kelegaan para pemilik usaha, dan menggunakan kutipan di awal berita dari seorang pengusaha yang tokonya selamat. Kedua berita itu akan memasukkan informasi yang sama – bahwa dua buah rumah hancur sedangkan kawasan pertokoan tidak terpengaruh- tapi tekanan mereka akan berbeda. Mengetahui apa yang harus ditekankan sebelum memulai menulis akan membantu wartawan memutuskan fakta dan kutipan apa saja yang akan dimasukkan dan yang harus dibuang.

Seperti dicatat oleh William Zinsser dalam bukunya On Writing Well, “Pemikiran yang jernih menjadi penulisan yang jernih; salah satunya tidak akan ada tanpa yang satunya lagi.”Wartawan kawakan tidak akan menunggu sampai hari usai, setelah mereka melakukan semua penelitian, wawancara dan observasi mereka sebelum mencari fokus untuk berita mereka. Mereka mungkin bahkan memulai proses liputan itu dengan sebuah fokus di benaknya. Ini akan membantu mereka memutuskan ke mana harus pergi dan siapa yang harus diwawancarai. Tentu saja fokus itu dapat berubah saat mereka mengumpulkan informasi dan ini sering terjadi. Hal terpenting bagi wartawan adalah memutuskan fokusnya sebelum duduk untuk mulai menulis.

Punya fokus di benak baru merupakan langkah pertama dalam merencanakan sebuah berita. Langkah kedua adalah menyusun berita itu sehingga Anda akan tahu informasi apa akan ditaruh di mana. Mulailah dengan mendaftar fakta-fakta dasar berita itu dengan memutuskan apa yang akan ada di paling atas, di paling akhir, dan di tengah-tengah. Pilihlah kutipan dan kutipan ucapan terbaik dari wawancara Anda dan putuskan di mana kedua hal itu akan ditaruh dalam berita. Buat catatan tentang rincian yang Anda yakan akan Anda masukkan. Sebelum mulai menulis, ada wartawan yang menemukan gunanya membuat garis besar di atas kertas yang dapat mereka pakai sebagai semacam peta bagi berita itu.

 

Penulisan

Tulisan berita yang baik itu ringkas, jelas dan akurat. Ini terdengar sederhana, tapi sebenarnya sangat menantang. Seperti yang sudah kita sebutkan di muka, wartawan punya kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang mereka ketahui dalam berita. Tapi berita yang langsung pada inti beritanya cenderung menarik minat para pelanggan berita yang sibuk dan organisasi berita yang membiarkan berita mereka mengalir terus akan kehabisan ruang dan waktu untuk meliput berita lain.

Secara umum berita berisi kalimat-kalimat dan paragraf yang lebih pendek daripada hampir segala jenis tulisan lain. Setiap paragraf berisi satu ide pokok. Satu paragraf baru muncul jika ada gagasan, tokoh atau tempat baru yang diperkenalkan.

Wartawan menggunakan bahasa langsung yang sederhana dan mudah dipahami, dengan lebih banyak kata benda dan kata kerja daripada kata sifat dan kata keterangan. Berita yang ditulis dengan baik tidak kabur, bersayap, atau mengulang-ulang karena setiap kata bermakna. Seperti dicatat oleh E. B. White dalam buku klasiknya, The Elements of Styles, salah satu aturan dasar penulisan adalah, “Buang kata-kata yang tidak perlu.”

 

Penulisan Berita yang baik adalah ringkas, jelas, dan akurat.

 

Penulis yang baik selalu berusaha memilih kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang mereka maksudkan. Sebagaimana kata penults Amerika abad ke-19 Mark Twain, “Perbedaan antara kata yang benar dan kata yang hampir benar adalah perbedaan antara halilintar (lightning) dan kunang-kunang (lightning bug).” wartawan secara rutin membuka-buka kamus dan buku referensi untuk memastikan bahwa kata yang mereka pilih benar-benar mempunyai arti seperti yang ada dalam benak mereka.

 

Karena menulis untuk khalayak umum, wartawan juga berusaha menghindari penggunaan jargon – yakni bahasa untuk kalangan tertentu atau istilah-istilah teknis yang tidak dipahami kebanyakan orang. Seorang jurubicara rumah sakit mungkin menggambarkan seorang pasien yang mengalami “laserasi dan kontusio,” sedangkan wartawan harus menggunakan istilah yang lebih sederhana seperti “lecet-lecet dan memar.” Jika istilah teknis terpaksa harus digunakan untuk menjaga keakuratan, sangat baik kalau ada penjelasannya. Misalnya, istilah “bahan bakar fosil” dalam sebuah berita tentang pemanasan global hendaknya menyertakan daftar penting apa saja bahan bakar itu: batu bara, minyak dan gas bumi. wartawan juga harus menghindari penggunaan eufemisme, yakni kata-kata atau ungkapan berlebihan yang mungkin hanya akan membingungkan dan menyesatkan pemahaman khalayak saja. Jika dewan kota melakukan pemungutan suara untuk menyetujui, “sebuah fasilitas petistirahatan terakhir baru,” berita di radio atau di surat kabar keesokan harinva hendaknya memberitahu warga bahwa kota mereka “merencanakan membangun pemakaman baru”

Salah satu prinsip utama dalam menulis berita adalah menunjukkan kepada khalayak apa yang sudah terjadi ketimbang sekadar berkisah tentang hal itu saja. Misalnya, alih-alih mengatakan bahwa para anggota keluarga yang tengah menyaksikan pemakaman tampak sangat berduka, sebuah berita yang ditutis dengan baik akan menyampaikan rasa duka mereka dengan menggambarkan bagaimana mereka saling berpelukin dan tersedu-sedan. Alih-alih sekadar memberitahu pembaca bahwa seorang berbadan sangat tinggi, penulis yang baik akan mengatakan bahwa orang itu terpaksa harus menunduk ketika melewati pintu.

Keakuratan amat sangat penting dalam menulis berita. Sebuah berita yang akurat menggunakan hal-hal yang mendasar dengan benar: tata bahasa, ejaan, tanda baca, tanggal, alamat, jumlah, dan segala macam rincian yang dipakai dalam berita. Salah menyebut nama dan umur seseorang adalah jenis kesalahan yang bisa mengikis kredibilitas wartawan. Berita yang akurat juga menceritakan sebuah kisah yang lengkap, bukan hanya dari satu sisi. Itu tidak berarti bahwa setiap berita harus mencakup apa saja yang harus diucapkan tentang sebuah topik. Tapi ini artinya wartawan harus tidak boleh mengesapingkan informasi kunci sehingga arti berita itu menjadi terpelintir. Misalnya, menulis bahwa sebuah uji coba baru akan membuat deteksi kanker mulut menjadi lebih mudah mengisyaratkan bahwa uji coba yang lama tidak bisa diandalkan. Jika uji coba baru itu hanya sekadar lebih cepat, wartawan harus mengatakan hal itu. Kita akan membahas masalah keakuratan dengan lebih panjang lebar di Bab 4, “Menyunting Berita.”

 

Lead

 

Awal sebuah berita dikenal dengan sebutan lead, dimaksudkan untuk menangkap perhatian dan menarik pembaca, pendengar atau penonton ke berita itu. Ada dua jenis pokok lead: keras dan lunak. Lead yang keras meringkas fakta-fikta utama sebuah berita – kelima W dan satu H yang dibahas dalam Bab 2 – sedangkin lead yang lunak mungkin menyebutkan lokasi atau memperkenalkan seorang tokohnya. Cara lain untuk melihat perbedaan antara kedua jenis itu adalah dengan menganggap lead keras sebagai jawaban atas pertanyaan, “Apa beritanya?,” dan lead yang lunak menjawab pertatanyaan “Bagaimana kisahnya?”

Masing-masing jenis lead itu dapat dipakai dalam sebuah herita keras. Misalnya, berita tentang pemilihan seorang perdana menteri baru dapat ditulis dengan satu atau beberapa cara. Lead yang keras mungkin akan berbunyi seperti ini:Mantan pemimpin pemberontak Joshua Smith terpilih sebagai perdana menteri malam ini, memenangkan lebih dari 80 persen suara dalam pemilihan demokratis pertama di negen ini sejak 1993.

Lead yang lunak akan menggunakan pendekatan yang berbeda:

Dibesarkan di Youngstown, Joshua Smith ketika anak-anak punya banyak mimpi besar. Selalu lebih kecil dari umurnya, ia mengatakan anak-anak yang lebih besar suka mengompasnya. Ketika ia mengatakan kepada guru tata bahasa bahwa suatu hari ia akan menjadi perdana menteri, gurunya tertawa. Tak seorang pun tertawa sekarang. Smith memenangkan pemilihan kemarin dengan lebih dari 80 persen suara, menjadi pemimpin pertama yang dipilih secara demokratis sejak 1993 di negara itu.

 

Terlihat bahwa lead keras cenderung lebih pendek daripada lead lunak – sering hanya terdiri satu kalimat. Sementara lead yang lunak bisa lebih panjang, setiap kalimat dalam lead ini mendukung poin utama berita itu. Dan kedua jenis lead ini mengandung unsur yang paling layak berita.

Memilih jenis lead yang tepat bergantung pada banyak faktor, termasuk makna dan kecocokan waktu bagi berita itu, serta jenis organisasi berita, penerbitan dan siaran yang terlibat. Kawat berita, situs berita online, dan siaran berita radio yang mengandalkan pada kecepatan waktu biasanya menggunakan lead keras. Siaran berita atau majalah mingguan lebih cenderung menggunakan lead lunak dengan asumsi bahwa kebanyakan khalayaknya akan memahami fakta inti berita itu.

Jenis lead lunak yang paling umum adalah lead beranekdot, mirip dengan yang dipakai dalam berita tentang perdana menteri di atas. Menurut definisi, anekdot adalah sebuah kisah pendek; ketika dipakai sebagai lead, anekdot melukiskan atau meramalkan sebuah berita yang lebih besar.

Sebuah berita tentang tren masyarakat mungkin dimulai dengan beberapa anekdot atau contoh terkait. Dalam kasus yang jarang, kutipan atau pertanyaan bisa menjadi cara paling baik untuk memulai berita. Semua jenis lead ini juga dapat disebut sebagai lead “yang dilambatkan” karena pembaca harus menunggu sampai beberapa kalimat untuk menentukan tentang apa sebenarnya berita itu.

 

Struktur Berita

 

Semua berita punya struktur seperti halnya setiap orang punya tulang punggung. Tanpa struktur sebuah berita hanya akan berupa kumpulan fakta tak beraturan dan tidak ada yang menyatukannya. Struktur sangat penting bagi berita agar bisa dipahami dan bermakna, tapi tidak semua berita harus berstruktur sama. Penulis yang baik memilih bentuk yang paling cocok untuk berita yang mereka sampaikan.

 

Piramida Terbalik

 

Banyak berita dimulai dengan informasi yang paling layak berita, mengikuti sebuah struktur cerita tradisional yang dikembangkan lebih dari 100 tahun yang lalu. “Piramida terbalik” meletakkan informasi yang paling penting di puncak, diikuti oleh informasi lain yang tingkat pentingnya semakan menurun. Bentuk ini berguna manakala kecepatan waktu murupakan hal pokok.

Jika Anda menjadi orang pertama yang melaporkan sebuah perkembangan penting, Anda ingin menceritakan kepada khalayak apa yang sudah terjadi tepat di puncak berita Anda. Sebuah laporan tentang badai dahsyat, misalnya, kemungkinan besar akan dimulai dengan jumlah korban tewas dan lokasi yang terlanda paling parah. Penulis yang menolak menggunakan struktur ini, padahal harus, bisa dituduh “mengubur lead” sehingga khalayak sulit menentukan apa pentingnya berita itu.

Dalam struktur piramida terhalik, informasi yang mengikuti lead mengembangkan poin yang ada dalam lead. Dalam kasus laporan badai dahsyat itu, penulis mungkin akan menggambarkan lokasi yang paling parah dan kemudian menyertakan kutipan dari seorang korban yang selamat atau petugas penolong darurat. Paragraf-paragraf pendukung akan menguraikan topiknya, mengisi dengan rincian dan menyediakan latar belakang badai tersebut.

Dalam berita yang lebih panjang, wartawan mungkin akan menyertakan informasi sekunder yang terkait dengan tema utama itu tapi secara tidak langsung. Kisah tentang badai itu, misalnya, bisa mengikutkan informasi tentang upaya penyelamat internasional, dan kebutuhan para korban selamat, baik segera maupun untuk jangka panjang. Salah satu sebab populernya struktur ini adalah karena redaksi dapat memangkas ujung cerita untuk menghemat ruang dan waktu tanpa khawatir akan menghilangkan informasi utamanya.

 

Jam Pasir

 

Bentuk modifikasi dari piramida terbalik dikenal dengan nama struktur “jam pasir.” Dalam cara yang sama srtuktur ini dimulai dengan informasi yang paling penting – tapi setelah beberapa paragraf terjadi pembelokan dan menjadi sebuah narasi, biasanya diceritakan dalam susunan kronologis. Masih dengan contoh tentang badai dahsyat itu, wartawan bisa mulai dengan lead keras, diikuti dengan beberapa paragraf pendukung, dan kemudian menceritakan kisah tentang badai itu sebagaimana diksikan oleh seorang korban selamat. Bentuk berita seperti ini memerlukan transisi yang jelas antara bagian pembuka dan bagian narasi. wartawan mungkin menulis begini: “Petani Iqbal Khan berada di lumbung ketika angin berhembus keras…” sebagai awal dari setengah bagian bawah jam pasir itu.

Beberapa berita ditulis dalam bentuk yang murni kronologis, tapi struktur ini paling sering dipakai untuk feature.

 

Berlian

 

Berlian adalah sebuah struktur berita yang lain. wartawan yang menggunakan struktur ini akan mulai dengam sebuah anekdot, memperkenalkan seorang tokoh yang pengalamannya menggambarkan ihwal berita itu. Kisah kecil ini kemudian akan melebar untuk menunjukkan maknanya yang lebih luas.

Menjelang akhir berita, wartawan akan kembali ke masing-masing tokoh dalam berita itu sebagai cara untuk menutup narasi.

Wartawan yang menggunakan struktur ini sering menggunakan piranti yang disebut sebagai “paragraf inti” (“nut paragraph”) untuk menjelaskan mengapa berita itu penting. Kata “nut” merujuk pada inti berita itu yang keras. Jack Hart, kepala redaksi harian Oregonian di Portland, mengatakan paragraf demikian “dapat menjawab setiap pertanyaan yang muncul pada lead, menjelaskan mengapa berita-berita itu penting, dan menempatkan berita itu dalam konteks yang bermakna.” Paragraf demikian harus muncul cukup dini dalam berita itu agar pembaca menjadi jelas mengapa ia harus mau bersusah payah membacanya.

Bentuk berlian ini sering dipakai dalam berita televisi dan laporan surat kabar. Misalnya, seorang wartawan mungkin memulai berita tentang sebuah pengobatan buru untuk pasien AIDS dengan mengisahkan seorang pasien yang memerlukan pengobatan itu, kemudian menerangkan tentang obat eksperimennya serta bagaimana obat itu bekerja, dan menutup dengan mencatat bahwa para dokter memberi waktu yang terbatas saja untuk tetap hidup kepada pasien yang kita jumpai sebelumnya jika pengohatan baru itu tidak efektif. Tulisan yang baik, kata seorang redaktur majalah, membuat penonton penasaran untuk mengetahui kelanjutannya.

 

Penutup

 

Kecuali jika Anda menggunakan struktur piramida terbalik yang tradisional itu dan menduga bahwa bagian akhir berita Anda akan dipangkas oleh redaksi, adalah ide yang baik jika Anda memikirkan sebuahh penutup ketika mulai menulis berita itu, sama bergunanya dengan Anda memikirkan tujuan Anda ketika sedang memulai sebuah perjalanan. Ini terutama penting dalam acara berita media siaran karena hakikat dari penyampaian berita itu.

Tidak seperti berita di media cetak atau online, berita media siaran bersifat linier – penonton atau pendengar tidak bisa memilih urutan penyampaian informasinya – dan penelitian menunjukkan bahwa penonton dan pendengar cenderung mengingat informasi terakhir dengan paling baik.Karena itu, banyak berita media siaran menyertakan penutup sebagai ikhtisar berita, sekaligus memperkuat poin utama berita itu.

Penutup sering menggunakan bagian awal berita, karena akan kembali merujuk ke tempat atau orang penting. Dalam narasi yang kronologis, penutup adalah apa yang terjadi paling akhir. Jika sebuah berita mengusung sebuah masalah, maka penutupnya mungkin menawarkan sebuah solusi. Penutup biasanya merujuk ke masa depan, ke apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Dan kadang-kadang sebuah berita mungkin diakhiri dengan sebuah kutipan atau ucapan orang yang kuat. Tapi cara demikian jarang dibenarkan, dan hendaknya hanya dipakai jika kutipan itu benar-benar kuat sehingga menambahkan apa saja yang lebih kuat dari itu hanya akan menimbulkan kekecewaan khalayak.

 

Rujukan

 

Perbedaan pokok antara sebuah berita dan tajuk rencana atau kolom opini adalah dalam penggunaan rujukan. Rujukan sekadar menjawab pertanyaan “Siapa yang mengatakan?” Ini mengidentifikasi sumber informasi yang dilaporkan wartawan, terutama pernyataan yang kontroversial atau informasi yang patut dipertanyakan. Rujukan bisa tersurat maupun tersirat.

Berikut contoh tentang rujukan yang tersurat atau langsung. “Orang itu ditahan dan dituduh melakukan pembunuhan, ujar sersan polisi Antonio Costa.”

Jika ditulis kembali dengan rujukan tersirat atau tidak langsung, kalimat itu akan berbunyi, “Polisi menahan orang tersebut dan menuduhnya melakukan pembunuhan.”

Dalam kedua cara itu, khalayak dapat mengatakan bahwa sumber informasi itu adalah polisi. Salah satu alasan utama memberi rujukan atas informasi dalam kebanyakan berita adalah menyerahkan kepada pembaca, penonton dan pendengar untuk memutuskan sendiri apakah mereka akan percaya atau tidak. Misalnya, sebuah laporan bahwa Korea Utara memutuskan untuk menangguhkan program nuklirnya dapat dirasakan lebih atau kurang kredibel oleh sejumlah khalayak, bergantung pada siapa yang dikutip mengatakan demikian: seorang pejabat Cina yang berkunjung atau sebuah tim ilmuwan internasional.

Alasan lain untuk rujukan adalah untuk meletakkan tanggung jawab atas suatu pernyataan yang kontroversial pada tempatnya, yakni pada orang yang mengatakannya, bukan pada wartawan atau organisasi berita. Ini tidak berarti kekebalan dalam perkara tuntutan hukum karena perlindungan hukum berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Tapi membuat jelas siapa yang melapokan tuduhan atau mengambil posisi tertentu merupakan suatu praktik jurnalistik yang baik.

Namun tidak semua informasi dalam sebuah berita harus dirujuk. Menyebut nama untuk setiap keping informasi akan membuat berita itu hampir tidak dapat dipahami. Informasi yang diamati oleh wartawan secara langsung bisa disebutkan tanpa rujukan. Fakta yang tidak dipertentangkan atau yang sudah diterima dengan baik juga tidak perlu diberi rujukan.

Misalnya, wartawan bisa melaporkan tim mana yang memenangkan pertandingan sepak bola tanpa rujukan karena skor akhirnya sudah pasti. Tapi menulis bahwa seorang calon pejabat menang dalam sebuah debat perlu dirujuk karena alih-alih ini akan melanggar garis antara fakta dan opini.

 

Kutipan dan Sound Bite

 

Berita terutama disampaikan melalui kata-kata wartawan, tapi kebanyakan berita menyertakan kata-kata orang lain dalam bentuk kutipan atau “sound bite.” Bila dipakai secara efektif, kutipan dapat memperkuat berita dengan membagikan pengalaman langsung dan orang yang terlibat. Kutipan di awal sekali sebuah berita akan membuatnya lebih menarik perhatian khalayak karena kutipan itu menyediakan hubungan pribadi dengan berita itu.

Menurut definisi, kutipan harus diberi rujukan sehingga khalayak tahu siapa yang mengucapkannya. Kutipan langsung setidaknya sepanjang satu kalimat dan kata-katanya persis dengan kata-kata pengucapnya. Kata-kata itu dipakai ketika sebagian besar dari apa yang dikatakan pengucapnya layak diulangi. Kutipan sebagian, terutamaa di media cctak, bisa terdiri satu kata atau ungkapan saja dari pcngucapnya, yang dipakai manakala kalimat penuhnya terlalu panjang sehingga akan membingungkan. Wartawan punya tanggung jawab untuk meletakkan kutipan sebagian ke dalam konteks sehingga maksud sang pengucap tidak berubah.

Misalnya, ketika Presiden Prancis Jacques Chirac berbicara kepada warganya beberapa minggu setelah terjadi kerusuhan sosial, ia mengatakan: “Kita tidak akan bisa membangun apa-apa yang kekal tanpa memerangi diskriminasi, yang merupakan racun bagi masyarakat.” Sejumlah wartawan menggunakan kutipan penuh dalam berita mereka. Tapi harian Guardian di London hanya mengutip satu kata saja dalam lead-nya: “Jacques Chirac…meluncurkan sebuah seruan untuk memerangi “racun” diskriminasi ras.”

Tidak pernah ada gunanya mengutip apa saja yang diucapkan seseorang dalam wawancara. Tapi bagaimana cara memilih apa yang harus dikutip secara langsung? Aturan dasarnya sederhana saja: Jangan menggunakan kutipan langsung atau “sound bite” jika Anda bisa mengucapkan hal itu sendiri.

Begitu banyak berita yang penuh dengan kutipan sehingga melanggar aturan ini, kebanyakan keluar dari mulut pejabat. Hindari kutipan yang hanya berupa menyebutkan fakta, terutama dalam bahasa birokrasi. Siapa yang perlu mendengar kata walikota seperti, “Kami berharap dapat mengambil keputusan minggu depan mengenai rencana darurat untuk membagikan dana kota kepada orang-orang berpendapatan rendah?” Informasi seperti itu lebih baik ditulis kembali dengan bahasa yang lebih jelas dan ringkas oleh wartawan.

Misalnya, “Paling tidak seminggu lagi warga bisa berharap mendapatkan uang dari kota, demikian keterangan walikota.”

Kutipan yang paling baik bersifat subyektif, menambah wawasan dan perspektif ke dalam berita. Bahasanya berbunga-bunga dan mencerminkan pengalaman pribadi seseorang atau pengetahuan yang luas. Kutipan mengandung gairah pengucapnya, kata wartawan investigasi televisi Tony Kovaleski.

“Selama wawancara, cobalah menangkap gairah itu,” ujarnya. “Selama menulis, pastikan gairah itu tidak terlewatkan.” Salah satu aturan yang menonjol adalah menggunakan kutipan yang terdengar otentik, bukan yang seolah-olah dibaca dari sebuah catatan.

Begitu Anda sudah memilih kutipan terbaik, bangunlah cerita Anda di sekeliling kutipan itu. Tapi wartawan Bob Dotson dari jaringnn televisi AS NBC mengingatkan, “Jangan menggunakan ‘sound bite’ untuk menggantikan cara bercerita yang lebih efektif.” Wartawan yang sekadar merangkai berbagai kutipan atau “sound bite” biasanya mau gampangnya saja.

 

Bilangan

 

Seorang pengajar jurnalistik pernah menggambarkan mahasiswanya sebagai “murid yang baik tapi benci matematika.” Kebanyakan wartawan tidak akan pernah suka matematika, tapi mereka memerlukannya, dan mereka perlu tahu sebabnya. Bilangan mungkin terlihat kokoh dan faktual, tapi bukan berarti tidak pernah gagal. Wartawan perlu kemahiran soal angka untuk bisa membedakan antara sebuah bilangan tanpa makna dan bilangan yang bermakna. Kalau tidak, risikonya mereka akan menulis berita yang menyesatkan dan membingungkan. Itu yang paling baik. Yang paling buruk adalah berita itu salah sama sekali.

Wartawan memerlukan intuisi matematis agar bisa tahu bahwa angka-angka yang mereka lihat tidak bertambah. Mereka perlu mekanisme matematika untuk menemukan makna di balik angka dan data. Mereka memerlukan konsep matematika untuk memahami perbankan dan bisnis, masa pailit dan masa jayanya. Sederhananya, wartawan perlu ketrampilan matematik agar angka-angkanya masuk akal seperti halnya mereka perlu ketrampilan bahasa agar kata-kata mereka masuk akal.

Wartawan yang kompeten mahir dan sekaligus cermat soal angka. Mereka cepat mengetahui adanya jumlah yang tidak masuk akal, dan punya pengetahuan dasar yang berguna dalam bidang berhitung dan statistik sehingga mereka bisa mengkonfirmasi keraguan mereka. Mereka tahu cara mengkalkulasi persentase, rasio, kurs valuta asing, dan hubungan-hubungan lain antar-bilangan yang bisa menyampaikan berita dengan lebih baik daripada data kasar. Mereka dapat dan harus menerjemahkan bilangan ke dalam istilah-istilah yang dapat dipahami penonton dan pembaca dengan lebih mudah.

Wartawan yang mahir matemarika menjadi makan penting dalatn dunia yang makan teknis sekarang ini. Mereka adalah penulis dan penyunting yang bisa mengevaluasi dan menjelaskan perkembangan statistik, kedokteran, teknologi dan ekonomi. Mereka adalah wartawan yang dapat menemukan berita dari database dan mengolah angka-angka sendiri, bukannya menunggu orang lain dengan kepentingan tertentu untuk melakukannya.

Begitu angka-angka sudah dicek dan dicek ulang, wartawan harus memutuskan bagaimana akan menggunakannya dalam berita mereka. Aturan pokoknya adalah: Makan sedikit bilangannya, makan baik. Bilangan harus dibulatkan agar sederhana dan diletakkan ke dalam konteks agar jelas. “Angka itu sendiri maknanya kecil,” ajar Paul Hemp, penulis Ten Practical Tips for Business and Economic Reporting in Developing Economics. “Makna yang sesungguhnya ada dalam nilai relatifnya.” Maka cerita tentang peningkatan pengeluaran pada sebuah sekolah mungkin menerjemahkan bilangan-bilangan yang kasar ke dalam jumlah dana tambahan yang harus ditanggung setiap siswa. Berita tentang jumlah orang yang meninggal karena kanker paru-paru setiap tahun mungkin mencatat bahwa angka itu setara dengan jumlah korban pada pesawat jet jumbo yang jatuh setiap hari.

Wartawan yang gagal menguasai matematika akan kekurangan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk menafsirkan banyak dari informasi tentang dunia di sekeliling mereka, seperti statistik kejahatan, standar polusi, dan angka pengangguran.

Tanpa ketrampilan matematika yang cocok bagi lingkungan mereka, wartawan pasti akan kesulitan dalam mendapatkan keakuratan.

 

 

4

MENYUNTING BERITA

 

 

Pukul sembilan pagi. Rapat redaksi dimulai dengan pembahasan tentang berita-berita yang digarap siapa pun yang bertugas hari itu. Beberapa wartawan dan jurukamera sudah mendapat tugas dan sudah pergi ke luar untuk meliput. Sebagian dari mereka mendapat tugas itu tadi malam, lainnya dikirim ke luar pagi ini setelah ada panggilan rapat yang melibatkan para manajer puncak bidang pemberitaan. Wartawan yang belum mendapatkan tugas “melemparkan” gagasan dalam rapat itu guna mendapatkan persetujuan para manajer untuk membuat berita itu untuk acara berita malam atau surat kabar besok. Redaktur penugasan membaca daftar kejadian-kejadian yang sudah terjadwal yang mungkin bisa layak atau tidak layak diliput.

Begitu keputusan sudah diambil, para manajer menyusun sebuah “anggaran,” atau menjajarkan berita-berita yang mereka harap segera bisa terbit atau ditayangkan.

Pada titik ini Anda mungkin mengira bahwa para manajer dapat duduk kembali dan bersantai. Namun tidak ada keputusan yang dibuat di ruang redaksi bersifat tetap. Akan ada berita-berita tak terduga, dan ada berita yang harus dibuang karena tidak terjadi sebagaimana diperkirakan. Berita lain akan memerlukan laporan lebih banyak dan tidak akan selesai hari ini. Memutuskan berita apa yang akan diteruskan, apa yang dibuang, dan apa yang harus ditahan dulu adalah tugas para manajer pemberitaan, yakni para redaktur dan produser. Mereka akan memilih dan mengubah berita hari itu berdasarkan pada maknanya, daya tariknya, perkembangan berita, dan waktu serta ruang yang tersedia.

Tapi tugas para redaktur masih belum selesai. Sebelum surat kabar dicetak atau siaran berita diudarakan, mereka punya peran sangat penting lain. Tugas mereka kali ini adalah memastikan bahwa berita-berita yang disampaikan kepada publik ditulis dengan baik dan disampaikan secara baik serta akurat, lengkap dan adil.

Kebanyakan ruang redaksi punya lebih dari satu redaktur. Tidak ada satu orang pun yang bisa menangani sendiri banyaknya berita yang dihasilkan oleh kebanyakan organisasi berita setiap hari. Di ruang redaksi mungkin ada beberapa lapis redaktur yang pada akhirnya melapor kepada orang yang bertanggung jawah atas divisi pemberitaan, yakni pemimpin redaksi surat kabar atau redaktur pemberitaan media siaran. Seperti yang Anda lihat, tugas redaktur memerlukan sejumlah ketrampilan, kemampuan berbahasa yang tinggi dan kemampuan untuk menangani perubahan agenda, serta bekerja tak kenal lelah di bawah tekanan.

 

Tugas di Surat Kabar

Sebuah surat kabar harian yang khas punya staf wartawan yang meliput sejajaran berita. Kebanyakan wartawan di tingkat lokal biasanya bekerja untuk divisi “kota” atau “metro,” dengan meliput kejadian-kejadian di masyarakat yang mereka layani. Surat kabar besar dengan jangkauan nasional menambahkan divisi nasional dan internasional dan beberapa wartawannya ditempatkan di ibukota negara dan di beberapa negara asing.

Ada wartawan yang bekerja untuk seksi-seksi khusus sebuah surat kabar yang meliput peristiwa olahraga, bisnis atau feature. Masing-masing divisi atau seksi ini dikepalai oleh seorang redaktur yang kemungkinan dibantu oleh satu orang redaktur yunior atau lebih.

Redaktur surat kabar memberikan penugasan berita. Mereka menyunting naskah dan menyelia desain serta tata letak halaman. Di kebanyakan surat kabar besar, para redaktur berspesialisasi pada salah satu saja tugas ini, tapi di surat kabar yang lebih kecil, satu orang mungkin memegang semua tugas itu. Selain itu, koran mungkin juga punya sejumlah jurukamera, serta seorang redaktur grafik yang menyelia tugas para seniman dalam membuat peta, bagan dan grafik-grafik informatif lainnya. Koran besar juga punya satu staf peneliti yang membantu wartawan mencari latar belakang suatu berita dan yang mengurus sebuah perpustakaan atau “kamar mati” yang menyimpan berita-berita yang dimuat oleh surat kabar itu.

 

Tugas di Media Siaran

 

Ruang redaksi media siaran tidak serapi ruang redaksi surat kabar. Kebanyakan wartawan media siaran tidak terspesialisasi untuk meliput berita khusus tapi mungkin mendapatkan tugas khusus untuk warta berita pagi atau tengah malam. Semua berita ini dikumpulkan oleh seorang produser. Ia memutuskan berita mana saja yang akan ditayangkan, panjang-pendeknya,dan bagaimana urutannya. Di surat kabar besar, seorang redaktur pelaksana menjalankan tugas para produser itu.

Selain wartawan, media siaran juga mempunyai pembaca berita yang muncul di udara dan memperkenalkan berita-berita yang sudah diliput oleh para warrawannya hari itu. Pembaca berita televisi dan radio biasanya muncul pada lebih dari satu acara berita dalam satu hari.

Tugas redaktur/editor di ruang redaksi televisi kadang-kadang diberikan kepada orang yang mengurusi pembuatan sebuah acara berita. Ia menyunting gambar video dan suara untuk menghasilkan produk akhir yang akan ditayangkan. Di banyak ruang redaksi, jurukamera yang mengambil gambarlah yang menyunting video, dengan bekerja bersama seorang penulis naskah dan dilengkapi dengan suara sang wartawan.

 

Peran Redaksi

 

Redaktur adalah wartawan yang kuat dan sekaligus pemimpin di ruang redaksi.

 

Baru-baru ini sebuah daftar tugas redaktur sebuah surat kabar berbunyi: “Orang ini harus punya ketrampilan kuat dalam bidang tulis-menulis, menyunting, dan tata letak… Ia harus akurat, bertanggung jawab, bisa bekerja dengan baik di dalam sebuah atmosfer tim, dan memiliki ketrampilan menyelia.” Stasiun televisi besar yang mencari produser baru mensyaratkan, “penilaian yang andal atas berita…ketrampilan tulis-menulis tinggi…harus punya ketrampilan manajemen, harus berorientasi pada banyak tugas, dan terorganisasi dengan baik.”

Seperti terlihat, redaktur adalah wartawan yang kuat dan sekaligus pemimpin di ruang redaksi. Mereka terlibat dalam proses pemberitaan dari awal sampai akhir. Rrdaktur memerlukan penilaian yang baik atas berita karena mereka berfungsi sebagai manajer penugasan, bertanggung jawab untuk memutuskan berita apa saja yang akan diliput dan oleh siapa saja.

Mereka harus pandai menulis untuk bisa membantu membentuk berita yang tengah berkembang, membahasnya dengan wartawan di bidang masing-masing dan memutuskan di mana harus mengerahkan tenaga lagi untuk meliput sudut-sudut tambahan. Redaktur terlibat langsung dalam keputusan tentang penyajian berita, menulis dan memilih judul berita, keterangan gambar, foto, dan ilustrasi. Dan mereka harus memimpin dan memotivasi karyawan yang melapor kepada mereka.

Redaktur dan produser bekerja sama erat dengan wartawan, membahas dan mengulas berita-berita mereka. Redaktur surat kabar memeriksa naskah, memilih ilustrasi – baik grafik maupun foto – dan memutuskan tata letak berita itu di halaman koran dan judulnya. Di kebanyakan ruang redaksi media siaran, wartawan tidak merekam naskah atau menyusun berita mereka sebelum produser menyetujui isi beritanya. Produser juga memutuskan susunan berita dalam siaran berita dan jumlah waktu yang disediakan untuk masing-masing berita.

 

Menyunting Naskah

 

Redaktur berfungsi sebagai mata kedua untuk menemukan kesalahan dalam sebuah berita. Tekanannya di sini adalah pada kata “kedua.” Itu karena wartawan harus selalu memeriksa sendiri kekurangan naskahnya sebelum menyerahkannya kepada redaktur yunior. Draft pertama merupakan awal yang baik, tapi hanya sampai di situ. Setiap penulis yang baik akan menyisihkan waktu untuk merevisi naskahnya. Menurut definisi, tulisan yang baik akan memerlukan penugaan kembali.

Pemeriksaan keakuratan merupakan tahap pertama penyuntingan naskah. Redaktur mencari-cari kesalahan tata bahasa dan penggunaan kata, serta kesalahan ejaan. Mereka memberi perhatian khusus pada kecocokan antara subyek dan predikat, dan antara subyek dan kata ganti. Redaktur memastikan bahwa semua bilangan dalam sebuah berita adalah benar: alamat, nomor telepon, umurr, tanggal dan rujukan waktu. Mereka melakukan lagi setiap kalkulasi matematika yang mungkin sudah dikerjakan oleh wartawan untuk memastikan bahwa hitung-hitungan itu benar. Mereka memastikan bahwa gelar orang-orang yang dikutip sudah benar dan mengulas kembali penggunaan rujukan di seluruh berita.

Redaktur juga mencari dengan cermat kesalahan fakta dan masalah keadilan. Redaktur yang cermat akan membaca berita dengan mata yang skeptis, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut dalam benak mereka:

• Bagaimana sang wartawan tahu tentang hal ini?

• Mengapa khalayak harus percaya tentang hal ini?

• Apakah poin utama dalam berita itu didukung?

• Apakah kutipannya akurat, dan apakah kutipan itu menangkap apa yang

benar-benar dimaksudkan orang yang dikutip?

• Apakah semua sisi sudah diliput?

• Adakah yang terlewat?

• Apakah berita ini adil?

Redaktur juga memberi perhatian pada citra rasa dan bahasa, yang bervariasi bergantung pada budaya setempat. (Kita akan membahas hal ini dalam Bah 7, “Etika dan Hukum.”) Redaktur dan wartawan sama-sama harus membaca naskah keras-keras terutama di ruang redaksi media siaran – mendengarkan kalimat-kalimat yang terlalu panjang, mengulang-ulang ungkapan yang kaku dan arti ganda. Di banyak ruang redaksi, redaktur punya wewenang untuk mengubah naskah wartawan tanpa konsultasi untuk membetulkan jenis-jenis masalah yang mendasar ini.

Redaktur bukanlah sekadar pembaca naskah. Mereka adalah wartawan untuk semua arti dari kata itu. Kebanyakan redaktur dan produser punya pengalaman atau ketrampilan meliput. Jadi, ketika mereka membaca berita dari seorang wartawan, mereka mencari-cari jauh lebih dari sekadar keakuratannya saja. Mereka ingin tahu apakah sebuah berita akan masuk akal bagi orang yang tidak tahu apa-apa tentang subyek berita itu. Mereka waspada agar berita itu menarik.

Manakala sebuah berita mengandung kelemahan, redaktur atau produser harus bisa bekerjasama dengan sang wartawan untuk memperbaiki produk akhirnya. Saat itulah ketrampilan kepemimpinan diperlukan, saat mereka menggunakan sebuah proses yang biasa disebut “coadiing” (pelatihan).

 

Pelatihan

 

Pelatihan adalah cara redaktur membantu wartawan mengatasi masalah pada sebuah berita secara independen. Ini menghindari kekecewaan yang sering dirasakan wartawan ketika redaktur membetulkan kesalahan itu dengan menulis kembali berita mereka. Dan ini membantu wartawan belajar cara bekerja dengan lebih baik, alih-alih mengulangi kesalahan yang sama sehingga redaktur harus ikut campur dan membetulkannya. “Redaktur yang baik melatih wartawan dengan berbicara kepada mereka ketika sang wartawan melaporkan dan menulis,” ujar Joyce Bazira, redaktur berita pada surat kabar Tanzania, Alasiri. “Melalui pelatihan, penulis juga dapat membahas masalah yang mereka jumpai dalam menjalankan tugas mereka, di mana redaktur berusaha mengatasi masalah itu.”

Ketrampilan-ketrampilan yang dilibatkan dalam pelatihan merupakan sebagian dari ketrampilan yang membedakan wartawan yang baik: mendengarkan dengan saksama dan mengajukan pertanyaan. Pelatihan bisa berjalan karena wartawan biasanya mengetahui masalah yang mereka hadapi dalam berita mereka, meskipun mereka mungkin kurang yakin harus bagaimana. Tugas pelatih adalah bertanya dan mendengarkan, dan membantu wartawan memperbaiki pekerjaannya. Itu sangat berbcda dengan peranan “korektor” yang dilakukan sebagian redaktur.

 

PelatihKorektor

Membantu penulis;Mengoreksi tulisan berita;

Membantu sepanjang proses; Menentukan tenggat waktu;

Mengembangkan penulis;Membabat penulis;

Membangun kelebihan;Memaparkan kelemahan;

Membina independensi;Menciptakan kejengkelan;

Berbagi kendali.Memegang kendali.

 

Banyak redaktur tidak mau melatih wartawan karena mereka berpikir itu hanya akan membuang-buang waktu. Mereka percaya akan jauh lebih cepat kalau mereka melakukan perubahan sendiri. Jika tenggat waktu sudah mepet, pelatihan memang tidak praktis. Koran harus dicetak tepat pada waktunya, siaran berita harus diudarakan, dan kesalahan tidak boleh lolos.

Tapi di ruang redaksi yang berkomitmen pada pelatihan, redaktur tidak akan menunggu sampai menit-menit terakhir untuk memeriksa naskah wartawan. Melalui kerjasama dengan wartawan sepanjang proses itu, redaktur membantu wartawan menghasilkan berita yang lebih baik sehingga tidak akan banyak diperlukan penyuntingan pada akhir proses itu.

Wartawan Botswana Rodrick Mukumbira, kini bekerja pada Ngami Times, mengatakan ia menganggap pelatihan sebagai bagian pokok pada pekerjaannya sebagai redaktur berita. “Redaktur tidak hanya menugasi wartawan dan mengoreksi kesalahan pada akhir draft,” ujarnya. “Ia harus ikut campur dalam proses sang wartawan itu – ketika wartawan berusaha keras membuat lead – untuk menghemat waktu bagi artikel finalnya.”

Redaktur pelatih akan berbicara kepada wartawan sebelum mereka meninggalkan ruang redaksi, ketika mereka menelepon dari lapangan, dan begitu mereka tiba kembali, sebelum mereka mulai menulis. Redaktur pelatih mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang akan membantu wartawan memfokuskan pada beritanya seperti:

 

Apa yang terjadi?

Tentang apa sebenarnya berita Anda?

Mengapa khalayak perlu tahu hal ini?

Bagaimana Anda bisa menyampaikannya dengan jelas?

Sampai di sini, apa pendapat Anda tentang berita Anda itu?

Apa yang perlu dikerjakan?

Apa yang perlu Anda lakukan berikutnya?

Bagaimana saya bisa membantu?

 

Redaktur pelatih selalu mencari-cari cara untuk memuji dan mendorong dalam setiap proses penulisan berita, dan ketika mereka menunjukkan adanya masalah, mereka hanya memfokuskan pada beberapa masalah saja setiap kali. Jill Geisler dari Lembaga Poynter mengatakan jika ia sedang melakukan pelatihan, ia duduk di atas kedua tangannya. Sebagai pelatih ia tidak mau menyentuh naskah sang wartawan tetapi membiarkan wartawan itu berbicara tentang beritanya supaya ia sendiri bisa mendengarkan dengan jelas dan mengajukan pertanyaan yang perlu dijawab wartawan itu.

Pelatihan menciptakan jurnalisme yang lebih tajam dalam sebuah ruang redaksi yang lebih manusiawi. Dan karena orang mengingat apa yang mereka praktikkan, pelatihan pada akhirnya membantu wartawan bekerja dengan lebih baik.

 

Judul Berita, Keterangan Gambar dan Tease

 

Berita utama, menurut definisi, adalah pendek dan menarik.

 

Selain menyunting berita wartawan, redaktur juga bertanggung jawab untuk menambah materi yang mengiringi berita mereka. Di ruang redaksi surat kabar dan berita online, redaktur akan menulis judul untuk berita dan keterangan gambar. Judul berita berfungsi sebagai ringkasan sekaligus iklan. Judul itu membuat khalayak segera bisa menangkap ide berita, dan memberitahu pembaca mengapa mereka harus tertarik untuk membaca seluruh artikelnya.

Keterangan gambar lebih menyerupai label, memberitahu pembaca apa yang terlihat pada foto atau grafik. Di ruang redaksi media siaran, produser mungkin menulis judul berita dan juga menulis apa yang disehut “tease” (kalimat penggoda), yakni sebuah uraian ringkas tentang berita-beritanya dan dimaksudkan agar pendengar arau penonton tidak beralih saluran untuk mendapatkan laporan lengkapnya.

Menurut definisi, judul berita harus pendek dan menarik mata. Sebuah judul berita di media cetak meringkas beritanya, menarik perhatian pembaca, membantu menyusun berita di halaman koran, dan, dengan menggunakan berbagai ukuran karakter, menunjukkan pentingnya setiap berita secara relatif. Ketika sedang menulis judul, redaktur tidak sekadar memampatkan lead-nya menjadi beberapa kata saja. Redaktur yang baik berusaha menangkap poin utama berita itu ke dalam judul, sehingga mereka perlu mengetahui keseluruhan berita itu sebelum mencoba menulis judulnya.

Redaktur harus membaca seluruh berita itu dari awal sampai akhir, dan melihat foto serta grafik yang akan mengiringi berita itu. Jika poin utama berira itu kurang jelas, redaktur harus berbicara dengan sang wartawan daripada sekadar menebak-nebak dan risikonya akan mencetak judul berita yang menyesatkan atau bahkan salah. Lagi pula, redaksi yang kebingungan merupakan petunjuk bahwa berita itu barangkah perlu diolah lagi.

Bahasa dalam judul harus sederhana dan langsung. Secara umum sudah diterima hahwa kata sanding tidak digunakan dalam judul dan kata kerja aktif tidak memerlukan awalan “me-.” Sebuah berita tentang seorang wanita dan pacarnya yang ditangkap karena berkali-kali merampok bank mungkin akan berjudul: “Rampok Bank, Bandit, Pacar Ditangkap.” Hindari kata-kata yang tidak lazim dipakai sehari-hari dalam judul berita hanya supaya tampak keren.

Sebuah judul berita hendaknya cocok dengan nada berita itu. Berita-berita keras menuntut ringkasan langsung seperti judul ini dari surat kabar The Zimbabwe Independent, “Penyelundup Rosotkan Produksi Emas Zimbabwe.” Judul berita itu meyakinkan pembaca untuk tahu dengan tepat ihwal berita itu. Judul dalam berita feature, sebaiknya, mungkin hanya memberi petunjuk tentang isi berita, karena biasanya ditulis untuk menggelitik rasa penasaran pembaca. Misalnya, Buenos Aires Herald di Argentina menulis judul ini untuk resensi tentang sebuah album musik baru: “Si Lancing Madonna Kembali Tepat Pada Waktunya.”

Karena judul berita harus pas dengan jumlah ruang yang terbatas, redaktur surat kabar menciptakan judul berita seperti halnya ketika Anda bermain teka-teki potongan gambar. Redaktur naskah pada koran America – Newark Star-Ledger – Joel Pisetzner berujar, “Saya menyusun kata-kata seperti halnya merakit sebuah catatan tentang penculikan. Mengaduk, mengaduk lagi, mencampur dan mencocokkan.” Meskipun bisa menghibur, para redaktur mengatakan bahwa penting untuk selalu ingat pada pembaca. Hindari kata-kata asing atau ungkapan yang dipakai berlebihan dan harus sangat hati-hati dengan permainan kata-kata dan arti ganda. Judul yang berusaha terlalu keras untuk menjadi lucu, cerdik atau mencekam sering gagal.

Di atas segalanya, judul harus akurat dan jujur, serta tidak menyesatkan. Yang ada dalam judul juga harus ada dalam berita. Tidak ada yang lebih menjengkelkan pembaca daripada sebuah berita yang tidak menyampaikan apa yang disebutkan dalam judul.

Nyaris persis dengan judul berita, “tease” (kalimat penggoda) dalam media siaran dirancang untuk menarik perhatian penonton pada keseluruhan ceritanya. Kalimat penggoda tunduk pada banyak aturan yang sama dengan judul berita. Preduser harus menonton berita itu dan berbicara kepada wartawannya sebelum menulis kalimat penggoda. Kata-kata usang atau ungkapan berlebihan pun tidak boleh dipakai dalam di situ. Dan kalimat penggoda hendaknya tidak menjanjikan atau mengiklankan berita yang mengikutinya secara berlebihan.

Tidak seperti judul berita surat kahar, kalimat penggoda di media siaran ditulis dengan kalimat lengkap. Kalimat berdiri sendiri, terpisah dari beritanya atau iklan. Kalimat penggoda biasanya tidak meringkas berita sebagaimana judul berita koran, karena tujuannya adalah agar penonton tetap setia pada saluran itu untuk memperoleh informasi lebih banyak.

Sebaliknya, produser meenulis kalimat penggoda yang mengandung pertanyaan tak terjawab, atau mungkin menciptakan antisipasi dengan berjanji akan memberikan suatu manfaat kepada penonton yang setia menonton.

Untuk menunjukkan perbedaan itu, pertimbangkan lead sebuah berita dari sebuah harian Amerika Los Angeles Times, yang dilaporkan dari Amman, Yordania: “Seorang wanita Irak muncul di televisi pemerintah Yordania Minggu dan mengaku menjadi anggota keempat regu bunuh diri al-Qaeda yang menyerang tiga hotel di sini minggu lalu dan menewaskan 57 orang.” Judul untuk berita itu berbunyi: “Wanita Irak Dengan Tenang Mengaku Bagaimana Ia Berusaha Ledakkan Hotel.” Tapi kalimat penggoda untuk berita yang sama oleh Berita Malam NBC di televisi berbunyi: “Siapa dia? Dan mengapa ia mau menjadi calon keempat peledak bom bunuh diri hotel di Yordania? Ikuti kisah selengkapnya malam ini.” Kalimat penggoda televisi ini tidak menyebutkan pengakuan wanita itu, tapi berjanji akan menjawab pertanyaen penonton tentang peran wanita itu.

Keterangan foto juga berbeda dari judul berita. Alih-alih meringkas isi seperti pada judul berita, keterangan foto membantu pembaca memahami apa yang ada dalam bingkai foto. Foto dan kererangannya bersama-sama membentuk sebuah kisah kecil yang bisa dipahami pembaca tanpa harus membaca teks berita yang mengiringinya.

Keterangan foto harus dengan jelas menunjukkan tokoh utama dalam foto. Jika ada beberapa orang yang akan ditampilkan, sering berguna bagi pembaca bahwa tokoh utamanya adalah orang yang “memakai topi” atau “berdiri di sebelah kanan.” Keterangan foto hendaknya tidak persis mengulangi kata-kata dalam judul berita atau mengutip langsung dari naskah berita.

Dan penulis keterangan foto tidak perlu menyebutkan apa yang sudah jelas tampak di foto. “Carlos Fernandez tersenyum saat keluar dari pesawat terbang” kurang efektif dibandingkan dengan keterangan yang berbunyi: “Carlos Fernandez yang tampak sangat bahagia kembali lagi setelah 15 tahun di pengasingan.”

 

Grafik dan Gambar

 

Wartawan surat kabar kadang-kadang jengkel kalau ada grafik karena menyita tempat, sehingga beritanya dipaksa menjadi lebih pendek. Tapi grafik yang baik menambah daya tarik visual pembaca, dan membuat beritanya lebih mudah dimengerti. Grafik membantu berita sang wartawan, bukan sebaliknya. Perancang surat kabar Ron Reason menyatakan bahwa grafik “adalah inlormasi, bukan dekorasi.”

Setiap grafik harus punya tujuan. Mengisi ruang atau waktu tayang kosong bukan alasan yang memadai untuk menggunakan grafik. Grafik harus menambah pemahaman pembaca atau penonton sebuah berita. Artinya, redaktur harus memahami berita itu sepenuhnya sebelum merancang atau memilih grafik untuk mengiringinya. Seniman grafik biasanya membuat gambar visualnya; sedangkan peran redaktur membuat konsep grafik itu menemukan informasi yang ada dalam grafik atau memberi ilustrasi dan memastikan ketakuratannya.

Grafik dapat menyampaikan fakta-fakta dasar atau memberi ilustrasi pada prosesnya. Bayangkan Anda sedang meliput pencemaran udara di negara Anda. Peta dapat dipakai untuk menunjukkan tempat di mana udaranya paling tidak sehat. Sebuah ilustrasi dapat dipakai untuk menunjukkan bagaimana udara yang tercemar mengganggu paru-paru. Kedua jenis grafik itu bisa dipakai dengan baik di media siaran maupun cetak.

Apa pun medianya, hindari grafik yang menjejalkan begitu banyak informasi. Pembaca atau penonton harus bisa melihat grafik itu dan menangkap ide dasarnya. Bayangkanlah grafik seperti halnya rambu lalu-lintas di jatan tol – pengemudi tidak punya kesempatan untuk mempelajarinya karena semuanya berkelebat, sehingga informasinya harus jelas dan mudah diserap.

Mari kita bayangkan Anda punya berita dan menyebutkan anggaran belanja kota yang melonjak dua kali lipat dibanding 10 tahun lalu. Dengan membaca cermat Anda bisa melihat bahwa kebanyakan kenaikannya terjadi tiga tahun terakhir ini. Sebuah grafik lajur yang menyebutkan besarnya anggaran untuk setiap tahun selama periode itu akan membuat berita itu lebih jelas.

Lebih mudah bagi pembaca dan penonton untuk menyerap informasi yang disampaikan dengan bilangan yang pasti ketimbang bilangan kasar. Misalnya, dalam sebuah berita tentang pengembangan usaha di kota Anda yang menggusur warga, Anda bisa menyebutkan jumlah apartemen dan bangunan kantor di kawasan itu. Namun akan lebih efektif kalau ada grafik lingkar yang menunjukkan hubungan antara kedua macam bangunan itu. Sebisa mengkin bandingkan persentasenya, bukan hanya jumlah kasarnya. Akan menyesatkan kalau menyebutkan bahwa di sebuah kota jumlah kematian warga akibat AIDS dua kali jumlah kota lain, padahal kota pertama berpenduduk 10 kali lipat. Kalkulasikan persentase kematian terhadap jumlah penduduk sehingga Anda bisa membuat perbandingan yang adil. Redaktur yang menggarap grafik perlu memahami staristik dan punya komitmen untuk menggunakannya secara jelas dan akurat demi meningkatkan pemahaman.

 

Penyeliaan

 

Seperti dibahas di muka, redaktur adalah penyelia sekaligus wartawan. Sambil bekerja bersama dengan wartawan untuk berita sehari-hari, redaktur juga mengawasi kemajuan mereka dalam jangka panjang. Redaktur mencari kemungkinan – baik langsung maupun tertulis – untuk menyediakan umpan balik yang konstruktif yang akan membantu wartawan memperbaiki kinerja mereka. Banyak redaktur juga bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi kinerja tahunan atas karyawan yang mereka selia, dan ini lebih merupakan umpan balik yang lebih resmi.

Umpan balik yang efektif harus tepat waktunya dan spesifik, disampaikan secara langsung maupun tertulis. Dan kebanyakan redaktur percaya bahwa umpan balik yang positif disampaikan secara terbuka, sedangkan komentar kritik disampaikan secara pribadi. Bagi kebanyakan redaktur yang sibuk, satu-satunya cara untuk memastikan bahwa karyawan mereka menerima umpan balik pribadi yang menjadi hak mereka adalah dengan membuat jadwal yang teratur untuk menyampaikan umpan balik. Membiarkan karyawan tahu bagaimana kinerja mereka selama ini adalah cara yang baik untuk menghindari kejutan tidak menyenangkan pada saat evaluasi kinerja dilakukan.

Manajer berita harus menemukan cara untuk mendapatkan umpan balik yang jujur dari staf mereka atas kinerja mereka sendiri. Ini bisa dilakukan lewat percakapan tidak resmi atau dengan meminta karyawan mengisi kuesioner tanpa nama. Apa pun caranya, penting bagi manajer untuk menekankan bahwa karyanwan mereka bisa merasa bebas dan untuk menghindari rasa dendam jika hasilnya tidak sepenuhnya menyenangkan. Poin bagi karyawan adalah untuk mengetahui bagaimana kinerja mereka sehingga mereka bisa memperbaikinya sendiri.

Redaktur puncak dan direktur pemberitaan menentukan nada bagi ruang redaksi dan membantu menciptakan budaya ruang redaksi yang positif, menegakkan dan memperkuat norma dan nilai yang dianut para karyawan. Di ruang redaksi yang dikelola dengan baik, redaktur tidak main pilih kasih.

Mereka mendorong komunikasi terbuka dan mengadakan rapat reguler untuk memastikan bahwa setiap orang memahami tujuan organisasi berita mereka.

Redaktur harus sangat memperhatikan moril stafnya, dan melakukan apa saja untuk memupuk moril itu dengan merayakan keberhasilan dan memberi hadiah atas prestasi yang luar biasa. Mengakui kinerja yang baik secara terbuka adalah satu cara untuk melakukan hal itu.

 

 

5

MEDIA SIARAN DAN ONLINE

 

 

Radio, televisi dan jurnalisme online – atau berdasar pada situs Web – adalah bentuk-bentuk khusus jurnalisme dengan tuntutan dan persyaratan yang lebih tinggi ketimbang semua yang sudah kita bahas sampai di sini.

Wartawan mereka menggunakan bukan hanya kata-kata, tapi juga suara dan video dalam menyusun berita. Apa yang mereka tulis harus ditulis untuk didengar, bukan untuk dibaca, oleh khalayaknya.

Untuk sederhananya, kami akan menggunakan istilah media siaran dalam bab ini untuk merujuk pada semua acara berita radio, televisi, apakah itu disalurkan lewat udara, lewat kabel atau pun satelit.

 

Bentuk Berita dan Istilah Media Siaran

 

Bentuk dasar berita media siaran terdiri dari berita “pembaca,” “V/O” atau “voice over” (suara timpa), dan “bungkus” atau “paket.” Berita “pembaca” adalah apa yang sekadar naskah – berita tanpa tambahan kutipan ucapan atau tayangan video – yang biasanya dibaca oleh pembaca berita di studio. “V/O” adalah istilah televisi untuk berita yang ditayangkan dengan disertai “sound bite” istilah dalam Bahasa Inggris untuk kutipan ucapan orang secara langsung. Pembaca berita akan membaca naskah berita itu sementara gambar video ditayangkan. Dengan menambahkan kutipan ucapan, V/O lalu berubah menjadi O-SOT, kependekan dari “sound on tape” (suara di pita). Meskipun banyak stasiun televisi sekarang mengambil gambar secara digital tanpa pita, istilah SOT tampaknya sudah baku. Bentuk-bentuk berita ini – pembaca, V/O, dan V/O-SOT – cenderung pendek; biasanya kurang dari satu menit, dan kadang-kadang bahkan hanya 10 sampai 15 detik.

Sebuah berita yang lengkap oleh seorang wartawan disebut “wrap” (bungkus) di radio, dan “paket” dalam istilah televisi.

Berita ini terdiri dari narasi wartawan, juga disebut “track”, dan sering mencakup kutipan ucapan orang dan suara alami yang tertangkap di lokasi. Jelas versi televisi juga mencakup tayangan video, yang mungkin juga terdiri dari grafik yang tak bergerak maupun bergerak. Jenis-jenis berita demikian dapat ditayangkan secara langsung atau direkam terlebih dulu, dan cenderung lebih panjang dari bentuk-bentuk berita lainnya-kadang-kadang sampai enam atau tujuh menit, bergantung pada format siaran berita itu. Setiap paket punya sebuah “lead-in” atau pengantar yang harus dibaca oleh pembaca berita. Banyak juga yang menyertakan apa yang disebut “tag”, atau keterangan tambahan pada akhir paket wartawan itu.

Sebuah bentuk berita media siaran lain dikenal sebagai paket “NATSOT/natural sound” (suara alami). Bentuk berita demikian sering dipakai di televisi tapi kadang-kadang juga di radio. Di situ tidak ada narasi wartawan. Sebaliknya orang-orang yang muncul dalam berita itulah yang bercerita. Pendekatan demikian mungkin memerlukan perencanaan yang lebih banyak serta laporan sebanyak dalam berita biasa. Wartawan foto, yang kadang-kadang membuat jenis berita demikian sendiri tanpa wartawan, harus memastikan bahwa setiap keping informasi harus mengisahkan cerita yang tertangkap dalam pita; kalau tidak produk finalnya akan menjadi tidak masuk akal.

 

Berita di radio dan televisi ditulis untuk telinga pendengar.

 

Penulisan Berita Media Siaran

 

Berita di radio dan televisi ditulis untuk telinga pendengar, bukan untuk pembaca. Wartawan harus menulis naskah yang dapat dibaca dengan nyaring: naskah yang jelas akan bergaya percakapan dan mudah dipahami.

Tidak seperti pembaca surat kabar atau berita online, khalayak media siaran tidak dapat mundur lagi untuk melihat atau mendengarkan lagi berita yang mula-mula terdengar kurang masuk akal. “Kata-kata itu untuk diucapkan, dan begitu sudah diucapkan, tidak bisa dimunculkan lagi,” ujar redaktur pemberitaan televisi Amerika CBS, Ed Bliss.

Wartawan media siaran lebih ringkas daripada rekan-rekan mereka di media cetak. Harus! Bentuk cetak sebuah berita media siaran selama setengah jam hanya akan mengisi satu sampai dua halaman surat kabar. Lead beritanya tidak dapat memenuhi syarat 5 W dan I H yang kita bahas di Bab 2 — itu hanya akan menambah panjang berita yang akan sulit diikuti.

Alih-alih, penulis berita akan memilih dua atau tiga poin terpenting untuk dipakai dalam lead, dan menaruh sisanya pada kalimat-kalimat berikutnya. Berita di media siaran juga cenderung mengesampingkan beberapa keterangan rinci seperti umur dan alamat orang yang terus ada dalam media cetak. Kalimat-kalimat wartawan media siaran pendek-pendek agar dapat dibaca dengan nyaring tanpa harus menghabiskan napas.

Wartawan radio dan televisi harus menyelaraskan bunyi kata-kata yang mereka gunakan. Seperti penyair, mereka harus waspada terhadap jeda dan irama. Perhatikan kalimat dari naskah oleh Edward R. Murrow, koresponden tersohor CBS yang meliput Perang Dunia II dari London, “Pemadaman listrik membentang dari Birmingham sampai dengan Bethlehem, tapi malam ini, di atas Inggris Raya, langit cerah.” Itu tulisan yang dibuat untuk didengar. Kata-katanya sederhana, dan akhir kalimainya renyah.

Penulis berita media siaran harus berhati-hati dengan bahasa yang mungkin benar di halaman cetak tapi terdengar ganjil ketika dibaca nyaring. Ketika aktris Amerika dan penghibur di televisi Lucille Ball meninggal, sebuah berita surat kabar menyebutnya “Ball yang berumur 83 tahun itu.” Di radio, berita itu berbunyi “Luccile Ball berumur 83 tahun.” (Ini dengan demikian menghilangkan kerancuan atas arti lain dari kata “ball” dalam Bahasa Inggris.) Penulis berita media siaran juga harus waspada terhadap kata-kata yang terdengar mirip tapi artinya berbeda. Dalam Bahasa Inggris, misalnya, “miner” bisa dengan mudah terdengar rancu sebagai “minor.” Kata-kata ini harus diucapkan dalam konteks yang benar sehingga artinya menjadi jelas. Wartawan media siaran punya kebiasaan untuk membaca naskah mereka nyaring-nyaring sebelum mengudara untuk mencari masalah seperti ini, serta arti ganda yang bisa menimbulkan rasa malu yang tidak begitu kentara di media cetak. Dalam meliput sebuah turnamen golf, Anda tidak mau mengatakan bahwa seseorang “played a round with the prime minister” (bermain satu ronde dengan perdana menteri), karena ungkapan “play around” dalam Bahasa Inggris bisa berarti “kurang ajar.”

Meskipun naskah berita media siaran ditulis untuk dibaca keras-keras, tetap penting untuk mengeja kata-katanya dengan benar seperti dalam media cetak. Salah eja sering menyebabkan pembacaan yang terputus-putus atau salah baca di udara. Untuk memastikan cara membaca dengan benar kata-kata yang sulit diucapkan, wartawan media siaran sering juga menyertakan ejaan fonetik dalam naskah mereka. Ejaan yang benar juga makin penting sekarang karena banyak stasiun juga memasang berita mereka di Internet. Beberapa stasiun punya perangkat lunak komputer yuang secara otomatis mengkonversi naskah menjadt semacun teks keterangan gambar sebagai pelayanan bagi penonton tunarungu. Dalam kedua kasus ini, salah eja mencerminkan buruknya kinerja si wartawan dan stasiun itu.

Berita di radio dan televisi ditulis lebih dengan gaga percakapan dibanding di media cetak. Artinya, wartawan media siaran harus menulis seperti halnya mereka berbicara. Sebuah berita di surat kabar mungkin berbunyi: “Laki-laki itu lolos dengan sebuah truk Toyota merah, kata polisi.”

Tapi di media siaran, rujukan muncul pertama, sehingga naskahnya akan berbunyi: “Polisi mengatakan laki-laki itu lulus dengan sebuah truk Toyota merah.” Untuk menjaga gaya percakapan ini, wartawan media siaran tidak perlu menyebutkan nama lengkap dan gelar dalam berita mereka.

Secara umum, inisial nama tengah tidak dipakai di udara kecuali jika inisial itu merupakan bagian pokok sebuah nama. Kadang-kadang bahkan tidak ada nama yang disebutkan. Sebuah berita di surat kabar mungkin berbunyi: “Menteri Luar Negeri Pakistan Khursid Mahmood berjumpa dengan imbangannya dari Israel Silvan Shalom di Istambul, Turki hari Kamis.” Tapi berita di radio mungkin hanya berbunyi: “Menteri luar negeri Pakistan dan Israel bertemu di Turki hari ini.”

Kesegeraan merupakan ciri utama dalam berita di media siaran. Jika sesuatu terjadi ketika Anda sedang mengudara, Anda dapat dan harus mengatakan begitu: “Presiden sedang terbang ke Capetown…” lebih menyiratkan kesegeraan ketimbang “Presiden terbang ke Capetwon hari ini.” Secara umum, wartawan radio dan televisi menghindari penggunaan rujukan waktu dalam lead mereka kecuali jika peritiwanya terjadi hari ini. Jika koran hari Rabu akan menuliskan lead seperti ini: “Presiden Mbeki terbang ke Capetown hari Selasa,” maka berita di radio hari Rabu pagi akan berbunyi berbeda. “Presiden Mbeki sudah tiba di Capetwon.” Lebih baik lagi, penulis berita itu akan mengantisipasi apa yang akan dilakukan Presiden di Capetown hari Rabu sehingga berita itu bisa ditulis dalam waktu sekarang. “Pagi ini Presiden Mbeki bertemu dengan para mahasiswa di Universitas Capetown.”

 

Suara

 

“Sound bite” (kutipan ucapan lisan) yang dipakai wartawan radio dan televisi dalam berita mereka sepadan dengan kutipan tertulis di media cetak, tapi untuk memilih kutipan itu diperlukan satu lapis tambahan dalam pembuatan keputusan. Tidak cukup kalau kutipan ucapan itu tampak masuk akal di atas kertas. Kutipan itu harus cukup jelas untuk dipahami di radio atau televisi. Wartawan media siaran harus hati-hati tentang lamanya waktu yang diperlukan untuk menayangkan kutipan itu. Yang tampak pendek di atas kertas mungkin bisa cukup panjang kalau diucapkan — begitu panjang, dalam sejumlah kasus, sehingga kutipan itu tidak bisa dipakai seluruhnya karena akan membuat siaran berita itu melampaui waktu yang disediakan.

Penulis berita media siaran memberi perhatian khusus pada transisi untuk masuk dan keluar dari kutipan ucapan. Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah narasi tanpa jeda sehingga perhatian pendengar akan terus tertuju pada berita itu. Jika sebuah kutipan ucapan mulai dengan sebuah kata ganti, misalnya, penulis harus membuat jelas arti dari kata ganti itu di awal berita dengan menyusun kalimat sedemikian rupa sehingga telinga bisa memaparkan informasi yang diperlukan untuk menafsirkan apa yang datang kemudian. Misalnya ada wabah kutu rambut di sejunilah sekolah lokal. Seorang jururawat sekolah mengatakan dalam sebuah kutipan ucapan, “Mereka datang kemari sambil menggaruk-garuk dan kami segera tahu ada apa sebenarnya. Itu sangat jelas.” Ketika ia mengatakan “mereka,” yang ia maksudkan adalah para siswa sekolah. Tidak akan begitu jika kalimat yang mendahului kutipan itu berhunyi, “Para jururawat sekolah mengatakan mereka sedang menangani sebuah wabah luas kutu rambut,” karena kutipan suara yang menyusulnya akan menyiratkan bahwa kata “mereka” itu merujuk pada kutu rambut. Sebaliknya, penulis bisa mengatakan, “Wabah kutu rambut iu berarti para jururawat seperti Mary Smith akan kedatangan lebih banyak siswa daripada hari ini.”

Selain kutipan ucapan, berita di radio dan televisi bisa juga menyertakan apa yang dinamakan “suara alami” atau “liar.” Ini adalah suara yang tertangkap ketika sedang melaporkan berita: desir angin, sirine polisi, anak-anak berteriak, dll. Penggunaan suara demikian dalam melaporkan berita sudah menjadi praktik standar di sebagian wilayah dunia.

Penggunaan suara alami juga menjadikan pendengar dan penonton bisa ikut merasakan suasana tempat dan situasinya, dan wartawan tidak perlu melaporkan suara-suara itu. Suara juga dapat menceritakan transisi audio dari satu lokasi ke lokasi lain, menuntun pendengar ke adegan berikutnya.

Suara alami dapat juga digunakan dengan volume rendah, di bawah kata-kata wartawan, atau “volume penuh” sehingga bisa didengar dengan cukup jelas. Dengan cara manapun, suara alami membantu wartawan menceritakan kisahnya. Seperti halnya adukan semen di antara bata-bata, suara alami yang bagus menyatukan keseluruhan berita. Wartawan foto Amerika Steve Sweitzer mengatakan dalam televisi bahwa menggunakan suara alami penting sekali untuk menceritakan sebuah kisah yang lengkap. “Suara adalah bagian lain dari sebuah gambar,” ujarnya.

 

Para wartawan media siaran harus menulis sebagaimana mereka berbicara.

 

Gambar

 

Televisi lebih canggih daripada radio karena adanya gambar. Wartawan televisi yang trampil mengawinkan kata-kata mereka dengan gambar video untuk mengisahkan cerita yang perkasa. Gambar bukan sekadar “kertas dinding” melainkan bagian utama dari suatu berita. Gambar menceritakan “apanya” berita itu, sedangkan kata merupakan “mengapanya.” Lagi-lagi kita kutip Ed Bliss: “Dengan melihat kita jadi percaya, tapi tidak memahami.”

Wartawan televisi perlu mengetahui gambar video apa yang bisa mereka pakai untuk mengisahkan sebuah cerita sebelum mulai menulis. Jika mungkin, mereka hendaknya menonton keseluruhan tayangan itu agar mereka bisa yakin bahwa apa yang akan mereka tulis cocok dengan gambar-gambarnya.

Ini bukan hanya masalah gaya. Penelitian menunjukkan bahwa penonton memahami dan mengingat berita dengan lebih baik jika kata-kata dan videonya cocok. Yakni, jika kedua hal itu mengisahkan inti cerita yang lama.

Jika gambar video tidak cocok dengan kata-katanya, penonton akan lebih mengingat apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar. Bayangkan, misalnya, sebuah berita perihal dampak sebuah badai besar terhadap pasokan bahan bakar. Jika gambar video hanya memperlihatkan kerusakan karena badai dan akibatnya, penonton mungkin akan melewatkan poin utamanya, yakni bahwa pasokan bahan bakar terganggu. Berita itu akan menjadi lebih mudah diikuti apabila gambar videonya menunjukkan kerusakan sedangkan wartawan berbicara tentang akibatnya, dan kemudian beralih ke gambar truk-truk bahan bakar yang bergelimpangan atau orang mengantri bensin sedangkan wartawan menceritakan dampak badai itu terhadap pasokan bahan bakar.

Menyelaraskan kata dengan gambar tidak berarti bahwa wartawan sekadar menceritakan apa yang bisa dilihat penonton. Katakan bahwa gambar video memperlihatkan sebuah truk pertanian tengah berjalan di atas jalan berdebu. Tidak ada gunanya bagi wartawan untuk menceritakan hal yang sudah jelas, seperti, “Keluarga Robertson tinggal di ujung jalan desa yang panjang itu.” Sebaliknya, narasi di video itu harus mengawarkan informasi yang menambah isi dan makna pada gambar tersebut.

Dalam hal ini, wartawan bisa mengatakan, “Kekeringan sudah sangat parah sehingga keluarga Robertson tidak bisa menjual hasil tanam mereka tahun ini.”

 

Siaran Berita

 

Pembaca surat kabar atau situs betita di Internet punya kendala cukup besar atas cara mereka menerima berita. Pendengar radio dan penonton televisi agak kurang. Pembaca koran bisa memilih untuk mulai dengan halaman depan, bagian olahraga atau iklan dukacita. Pembaca situs berita bisa meluncur di sepanjang halaman situs itu sebelum memutuskan membaca berita khusus mana dari awal sampai akhir. Sedangkan pedengar radio dan penonton televisi harus menerima berita sesuai dengan susunan penyampaiannya; dan susunan itu ditentukan oleh produser acara siaran berita.

Siaran berita biasanya mulai atau “menuntun” (lead), dengan apa yang produser percaya sebagai berita utama hari itu. Itu tidak berarti bahwa setiap berita yang muncul kemudian dianggap kurang penting ketimbang yang mendahuluinya. Produser harus mempertimbangkon dampak sebuah siaran berita secara keseluruhan, bukan hanya masing-masing berita. Produser sering menempatkan berita penting atau tidak lazim agak ke belakang dan membuat kalimat penggoda atas apa yang akan datang kemudian itu sebagai cara untuk mempertahankan minat penonton agar tetap mengikuti siaran berita mereka. (Kita sudah membahas “kalimat penggoda” ini pada Bab 4.)

Hampir seperti redaktur surat kabar menentukan tata letak halaman koran, produser berita televisi membuat susunan siaran berita dengan membuat sebuah daftar semua berita sesuai dengan urutan penyampaiannya. Tugas produser adalah mengetahui dengan tepat panjang masing-masing berita karena siaran berita itu akan dimulai dan diakhiri pada waktu tertentu.

Begitu acara itu sudah dimulai, produser harus memastikan bahwa acara itu tetap pada jadwalnya. Jika sebuah berita ternyata lebih lama daripada yang diperkirakan, produser harus menentukan bagian mana yang harus dipotong agar waktunya pas. Jika berita itu harus dibuang, produser harus menyediakan materi untuk mengisi kekosongannya.

 

Berita Online

 

Jurnalisme online mengandung sejumlah ciri jurnalisme cetak dan jurnalisme siaran, serta sejumlah ciri lain yang unik. Sering sebuah situs Internet menawarkan artikel-artikel berita untuk dibaca seperti halnya di koran. Di waktu lain, pembaca bisa memilih sebuah klip Video, sehingga situs itu mirip dengan siaran berita televisi. Berita online yang memanfaatkan sepenuhnya media baru ini memungkinkan pembaca untuk berpartisipasi karena ia bisa memilih jalurnya sendiri untuk mengarungi informasi yang disajikan. “Hanya jika ada semacam unsur kendali oleh pemakainyalah itu bisa menjadi sebuah bentuk berita baru,” ujar Nora Paul, direktur Lembaga Kajian Media Berita di Universitas Minnesota.

“Wartawan online harus memikirkan berbagai tingkatan sekaligus: kata, ide, susunan berita, desain, interaktif, audio, video, foto, penilaian berita,” kata Jonathan Dube, penerbit Cyberjournalist.net, sebuah situs yang berfokus pada bagaimana Internet dan bentuk teknologi lain mengubah media itu. “TV adalah tentang cara mempertontonkan berita. Media cetak lebih tentang menceritakan dan menjelaskan. Online penting mempertontonkan, menceritakan, memeragakan, dan berinteraksi.” Untuk memungkinkan hal itu, wartawan online menyajikan informasinya secara berlapis-lapis dengan menggunakan berbagai bentuk berita.

 

Bentuk Berita Online

 

Bentuk berita online yang paling dasar digambarkan sebagai “cetak plus.” Yakni sebuah berita teks yang mencakup unsur-unsur tambahan seperti foto, audio, dan vodeo, atau hyperlink ke lebih banyak informasi lain.

Dengan mengaitkan diri pada link-link lain, wartawan membawa pembaca ke informasi lain yang disediakan oleh sumber di luar organisasi beritanya sendiri dengan latar belakang atau sejarah yang lebih lengkap. Berita online dapat diperkuat dengan menyertakan link-link ke database yang dapat dicari oleh pemakai. Misalnya, sebuah berita tentang merosotnya nilai ujian sekolah menengah secara nasional dapat dihubungkan ke sebuah database tentang hasil ujian dari semua sekolah. Pemakai bisa mencari nilai untuk sebuah sekolah tertentu, untuk semua sekolah di kota tertentu, atau membandingkan hasil ujian berbagai sekolah.

Sebuah pendekatan yang lebih inovatif menggunakan “interaktif yang bisa diklik” atau grafik multimedia yang secara khusus dirancang untuk memberi ilustrasi pada sebuah berita. Unsur-unsur grafis digelar secara linier, namun pembaca dapat menjelajahinya sendiri dengan urutan yang bebas. Ini juga berlaku pada “pameran slide” yang menggabungkan teks dan audio dengan foto tak bergerak dalam sebuah pengalaman multimedia bagi pemakai.

Piranti-piranti yang memungkinkan pembaca menjelajahi pemandangan 360 derajat dari sebuah lokasi juga dapat memperkuat berita online. Begitu juga animasi Flash, salah satu program perangkat lunak yang memungkinkan kita merancang isi yang interaktif: video, grafik, dan animasi.

Misalnya, BBC di London membuat sebuah situs di Web tentang obat-obat dan alkohol gelap yang memungkinkan pembaca “memilih” obat tertentu dan dosisnya, dan kemudian memilih salah satu bagian tubuh – seperti otak atau jantung – untuk membaca tentang efek obat itu pada organ tersebut, serta informasi tentang keselamatannya. Situs online bahkan menggunakan kuis dan permainan untuk menyampaikan berita dengan memecah-mecah informasi menjadi pertanyaan dan jawaban serta memungkinkan pemakai menemukan apa yang sudah diketahui si wartawan.

 

Penulisan Online

 

Penulisan online, ujar Jonathan Dube, adalah sebuah penampang antara penulisan media cetak dan siaran. Ia menyatakan bahwa gaya ringkas dan lugas yang disukai media siaran membuat penulisan berita online lebih mudah diikuti. Tapi ia juga menambahkan bahwa begitu banyak situs online yang mengabaikan aturan dasar penulisan yang baik. Sebuah gaya percakapan memang baik, kata Dube, tapi tata bahasa dan ejaan tetap penting.

Manajer pemberitann televisi Scott Atkinson mengatakan bahwa petuahnya yang paling baik adalah menulis untuk Internet seperti halnya Anda menulis sebuah email kepada seorang teman. “Itu tidak berarti Anda boleh salah mengeja kata, mengabaikan struktur berita, atau lepas dari konteks,” katanya. “Yang penting Anda bisa menulis dengan gaya paling akrab yang bisa Anda kerahkan.”

Karena situs berita yang berdasar Web cenderung menawarkan banyak pilihan, penulis harus menghindari penggunaan lead yang dilambatkan atau beranekdot yang tidak dengan segera menunjukkan pokok beritanya. Lead harus memberi pembaca alasan kuat untuk meneruskan bacaannya; salah-salah ia akan mengklik ke berita lain. Berita online biasanya lebih pendek daripada berita di koran. Pedoman yang baik adalah dengan membatasi sebuah berita online sampai 800 kata dan kalau bisa tetap dalam satu halaman.

Penelitian menunjukkan bahwa pembaca hanya mau meluncur di atas satu halaman teks online; jadi tidak ada perlunya memaksa pembaca mengklik ke halaman tambahan untuk berita yang sama. Tapi agar teksnya bisa lebih mudah diserap, Dube menyarankan agar penulis berita online memecah-mecah teksnya ke dalam lebih banyak blok dan lebih banyak subjudul serta tanda peluru untuk memisah-misahkan ide dibanding dalam tulisan di media cetak.

Jurnalisme online memungkinkan pembaca memberi respon segera dan langsung terhadap penulis atau redaktur melalui email atau bahkan secara langsung ke dalam chatting di Web. Selain itu, banyak situs menyediakan ruang bagi pembaca untuk menempatkan umpan balik atau pandangan mereka sehingga pembaca lain bisa membaca apa yang sudah mereka tulis dan tanggapi. Radio Publik Minnesota (MPR) di Amerika Serikat memancing masukan untuk berita mereka baik di udara maupun secara online. Pendengar diminta menelepon atau meng-email informasi tambahan. Berita-berita di situs MPR mencakup sebuah link bernama “Bantu kami meliput berita ini” sehingga khalayak bisa menambahkan komentar dan wawasan mereka.

MPR juga mensurvei khalayaknya sebelum membuat sebuah laporan khusus, seperti penelitian atas perekonomian negara. Wakil Direktur Pemberitaan MPR Bill Buzenberg mengatakan masukan dari khalayak menghasilkan “pelaporan yang lebih canggih, dengan lebih banyak kedalaman dan contoh serta suara dari dunia nyata.”

 

 

 

6

JURNALISME KHUSUS

 

Banyak organisasi berita menugaskan wartawan untuk meliput bidang-bidang khusus, baik dari sudut geografi maupun topiknya, yang dikenal sebagai “beat.” Ini istilah yang semula dipakai untuk menggambarkan jalur ronda yang tetap bagi petugas jaga atau patroli polisi. Wartawan mengenal wilayah mereka dan orang-orang yang membentuk beat mereka, dan dalam banyak kasus mereka harus mempelajari kosakata khusus untuk memahami sumber-sumber mereka. Ini tidak berarti bahwa mereka menggunakan kosakata itu dalam berita mereka. Sebaliknya wartawan beat yang baik menjadi penerjemah dan penafsir, membuat informasi yang sebenarnya kabur menjadi jelas bagi masyarakat umum.

Beat jarang ada dalam ruang redaksi kecil di mana setiap wartawannya diharapkan meliput segala jenis berita. Tapi di organisasi berita besar, baik cetak maupun siaran, wartawan bisa punya kesempatan untuk memfokuskan pada satu jenis berita tertentu. Sejumlah beat sudah merupakan tradisi, misalnya kalangan pemerintah, kepolisian, pengadilan, dan bisnis.

Jenis-jenis beat lain bervariasi menurut wilayah. Bergantung pada susunan sebuah masyarakat, wartawan mungkin ditugaskan untuk meliput lingkungan, atau kaum lanjut usia, atau bidang pendidikan sebagai beat mereka.

Wartawan beat punya satu tunggung jawah dasar: mengetahui paling dulu berita dalam bidang spesialisasi mereka. Mereka diharapkan meliput berita-berita yang muncul dari beat mereka – rapat, laporan tercetak atau pesan di Web, dan kejadian-kejadian rutin lain – tapi mereka juga bertanggung jawab untuk menemukan berita-berita di luar hal-hal yang sudah jelas itu. Wartawan beat mengembangkan berita mereka melalui usaha sendiri dengan cara membina hubungan dengan sumber-sumber yang membuat mereka bisa terus mengikuti perkembangan, bukan hanya di depan publik terapi juga di balik layar. Mereka menghasilkan sejajaran luas berita, dari “breaking news” sampai profil seseorang. “Wartawan beat terbaik yang pernah saya kenal sangat terorganisir, bertekad, dengan tujuan misi yang jelas, dan sejajaran luas sumber,” ujar Chip Scalan, mantan wartawan beat untuk koran Knight Ridder dan sekarang bergabung dengan Lembaga Poynter.

 

Ketrampilan Wartawan Beat

 

Beat apa pun yang dipilih atau ditugaskan kepada wartawan untuk diliput, sebuah ketrampilan dasar sangat penting: kemampuan untuk memahami lembaga-lembaga yang mendominasi beat mereka. Mempelajari bagaimana sistem itu bekerja akan menyita tenaga dan waktu, tapi hasilnya adalah berita-berita yang tidak bisa ditandingi oleh berita wartawan non-beat. Eric Nalder, wartawan yang mengungkap berita tentang rakit penyelamat di Bab 2, menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk mulai mempelajari beat-nya:

Siapa para pemainnya?

Siapa yang bertanggung jawab?

Siapa para pengaturnya?

Bagaimana aturan-aturannya?

Bagaimana segala sesuatu dikerjakan?

Di mana segala kesalahan dicatat?

Di mana anggaran belanja dicatat?

Siapa yang tahu persis ceritanya dan bagaimana saya bisa mendapatkannya?

 

Untuk menjawah semua pertanyaan itu, wartawan harus belajar keras dan “memeriksa beat-nya.” Baca apa saja tentang topiknya, kumpulkan jadwal rapat dan agendanya, berlanggananlah terbitan-terbitan khusus.

 

“Wartawan harus belajar keras dan memeriksa beat-nya.”

 

Tapi yang paling penting adalah bersifat aktif. Wartawan beat tidak bisa hanya mengandalkan telepon; mereka harus menyediakan waktu di beat mereka, bertemu dan berbicara dengan orang. “Tak seorang pun bisa mendapat berita hanya dengan duduk-duduk di ruang redaksi,” kata veteran wartawan Amerika Mike Mather, wartawan investigasi di WTKR-TV di Norfolk, Virginia. Kenali siapa saja yang bisa membantu – dari pejabat sampai kerani – dan berikan kartu nama Anda kepada siapa saja yang Anda jumpai di beat Anda.

Buatlah daftar sumber dengan sebanyak mungkin informasi kontak yang bisa Anda masukkan, dan terus berhubungan dengan orang-orang itu dengan melakukan “pengecekan beat” secara teratur. Selain meliput para pemain utama dalam heat itu, wartawan beat yang baik juga melihat bagaimana tindakan mereka berdampak pada warga masyarakat.

Peliputan atas beat memerlukan berbagai ketrampilan organisasi dan prihadi yang kuat. Terorganisir artinya menggunakan kalender untuk menelusuri rapat, dengar pendapat, dan tanggal jatuh tempo bagi laporan atau tindakan. Itu artinya harus punya sistem arsip yang dapat diandalkan dan dibawa-bawa untuk mengarsip dan mencari kembali informasi kontak, terutama nomor telepon dan alamat email. Dan itu juga berarti juga membuat arsip untuk ide-ide bagi berita-berita di masa mendatang, disertai sejumlah daftar harian untuk hal-hal yang harus ditindaklanjuti.

Banyak wartawan sekarang menyimpan informasi di komputer mereka, menggunakan program-program yang membuat mereka lebih mudah mencari nama orang dan tanggal. Tapi mereka juga memerlukannya ketika tidak berada di kantor, sehingga mereka harus membawa hasil cetakannya, sebuah komputer laptop, atau alat yang berguna yang bisa mengakses Web di tempat terpencil, “personal digital assistant” (PDA). Karena teknologi terkadang tidak bisa diandalkan, penting untuk sering-sering membuat arsip cadangan bagi informasi itu.

Meliput sebuah rapat beat artinya adalah mengenal orang-orangnya dengan cukup baik sehingga mereka akan percaya kepada Anda, namun harus tetap menjaga jarak sesuai dengan profesi anda. Bagian tersulit menjadi wartawan beat, ujar Scanlan, adalah “berurusan dengan sumber-sumber yang harus Anda datangi setiap hari sekalipun Anda mungkin sedang menulis berita yang tidak mereka sukai.”

 

Pemerintah dan Politik

 

Wartawan yang meliput pemerintah harus memahami tata kerja internalnya dan mencari tahu dampak dari keputusan pemerintah. Wartawan yang mengajukan pertanyaan dasar, “Siapa yang peduli akan hal ini?” ketika sedang meliput pemerintah bisa menemukan orang-orang yang hidupnya terkena dampak dari apa yang dilakukan pemerintah. Berita yang menampilkan orang-orang ini akan lebih menarik bagi khalayak.

Sebagian besar kegiatan pemerintah berupa rapat. Maka wartawan bidang ini tentu berharap bisa meliput banyak rapat. Tapi rapat yang menjemukan tidak boleh menjadi alasan bagi berita yang menjemukan pula. Khalayak bergantung pada wartawan untuk menceritakan hanya hal-hal yang penting saja, bukan apa saja yang terjadi di ruang rapat secara kronologis. Berita terbaik tentang rapat bukan berfokus pada apa yang terjadi di dalam ruang rapat, tetapi pada orang-orang yang terkena dampak dari apa yang terjadi di situ.

Untuk beat di kalangan pemerintah, penting sekali bagi wartawan untuk bisa membaca dan memahami anggaran dan jenis-jenis laporan keuangan lainnya. “Ikuti arus uang” adalah petuah yang baik bagi semua wartawan, tapi terutama wartawan yang meliput kegiatan pemerintah dan politik.

Berita tentang dana pemerintah mungkin tampak kering, tapi pajak dan belanja negara mempengaruhi khalayak secara langsung dan orang berhak tahu ke mana uang mereka pergi. Pada umumnya dokumen merupakan darah kehidupan pemerintah. Jadi wartawan harus bisa mendapatkan dan memahaminya.

Wartawan politik dalam sebuah negara demokrasi punya satu misi pokok: menyediakan bagi warga negara informasi yang mereka perlukan agar mereka bisa melakukan pilihan yang cerdas atas para calon pejabat yang dipilih. Untuk itu wartawan perlu meneliti latar belakang dan kualifikasi para calon, sikap mereka atas isu-isu utama, dan apa saja kata para calon sewaktu kampanye dan dalam iklan. Wartawan yang meliput politik juga mempelajari pendukung seorang calon karena kepentingan mereka sering memberi petunjuk tentang apa yang akan dilakukan calon itu jika terpilih.

Survei pendapat umum adalah makanan pokok dalam liputan kampanye, tapi wartawan perlu menelitinya lagi untuk memutuskan apakah sebuah hasil jajak pendapat memang layak berita. (Lihat pada sidebar, “Pertanyaan-Pertanyaan Yang Harus Diajukan Wartawan Tentang Jajak pendapat,” pada halaman 52). Jajak pendapat “pacuan kuda” atau “lintasan” yang menyebutkan persentase pemilih yang mendukung masing-masing calon hanya bernilai terbatas kecuali sebagai gambaran sepintas tentang pertarungan itu untuk hari tertentu. Beberapa wartawan percaya jajak pendapat-jajak pendapat itu sebenarnya dilakukan oleh para pemilih yang bias guna menyokong calon utama karena orang bisanya ingin mendukung seorang pemenang. Tapi para peneliti di Amerika Serikat sudah menemukan bahwa pemilih yang memberi perhatian pada jajak pendapat juga belajar banyak tentang isu-isu yang diusung dalam kampanye. Nasihat para peneliti itu bagi wartawan adalah terus melaporkan hasil dari jajak pendapat-jajak pendapat “lintasan” yang absah selama kampanye, tapi jangan menjadikannya fokus utama dalam liputan mereka.

Kalau sudah sampai ke isu kampanye, wartawan hendaknya memberi perhatian pada bukan saja apa yang dikatakan para calon tetapi juga apa yang ingin diketahui pemilih. Banyak organisasi berita melakukan “jajak pendapat isu” untuk melihat topik apa saja yang menjadi perhatian besar masyarakat selama tahun kampanye. Kadang-kadang calon berusaha menghindari pembahasan suatu isu kontroversial yang sangat penting bagi pemilih.

Dalam hal ini, wartawan harus mengusung pertanyaan yang diajukan publik. Wartawan politik yang baik tidak sekadar menunjukkan bagaimana sikap seorang calon terhadap isu-isu itu. Mereka juga bertanya apa saja yang sudah dilakukan para calon tentang isu-isu itu di jabatan terpilih sebelumnya atau di jabatan lain yang mungkin pernah mereka pangku. Agar isu itu menjadi hidup, wartawan mencari orang-orang yang kisah-kisahnya menggambarkan mengapa isu-isu itu penting dan bagaimana bedanya jika seorang calon atau calon lain menang dalam pemilu.

 

Bisnis dan Ekonomi

 

Beat bidang bisnis menyentuh kehidupan hampir setiap orang. Pengangguran, ongkos pangan dan bahan bakar, tabungan pribadi dan investasi, kesemua topik ini penting bukan saja bagi para pemimpin dunia usaha tapi juga bagi pekerja dan pelanggan.

Meliput beat bidang bisnis berarti melaporkan tentang majikan dan pekerja, konstruksi, dan penjualan properti, serta sektor-sektor usaha yang terus menggerakkan perekonomian lokal, apakah itu pertanian, manufaktur, pertambangan atau pun perawatan kesehatan. Di tingkat nasional, wartawan bidang bisnis meliput lebih banyak topik yang rumit seperti komoditas dan pasar saham, tingkat bunga, dan utang-piutang lembaga.

Wartawan yang meliput bidang bisnis dan ekonomi harus membuat berita mereka sampai ke tangan khalayak umum. Mereka harus memahami konsep-konsep dan istilah ekonomi, dan harus bisa mendefinisikan atau menyatakan kembali dalam bahasa biasa. Ini praktik yang bagus bahkan bagi wartawan yang bekerja untuk penerbitan atau media siaran khusus, di mana khalayak mereka diharapkan sudah akrab dengan istilah-istilah itu.

Di Amerika Serikat, misalnya, The Wall Street Journal ditujukan kepada para pembaca dari kalangan bisnis, tapi koran ini tetap menyebutkan arti dari istilah-istilah yang umum seperti “produk kotor nasional,” yakni nilai total dari keluaran barang dan jasa sebuah negara. Seiring waktu, wartawan bidang bisnis mengembangkan daftar mereka sendiri tentang definisi-definisi ringkas yang dapat mereka masukkan ke dalam berita mereka. Khalayak akan menghargai sebuah pernyataan yang jelas tentang arti dari “konversi utang,” “devaluasi mata uang,” “privatisasi,” dan istilah-istilah ekonomi lainnya. Mereka akan menghargai berita yang menjelaskan mengapa konsep-konsep itu penting bagi orang biasa maupun hadan usaha dan pemerintah.

Wartawan bidang bisnis perlu bisa membaca dan memahami laporan keuangan, neraca pembayaran, dan laporan tahunan. Mereka sering menemukan berita dengan melihat-lihat perubahan dalam penerimaan dan pengeluaran dari tahun ke tahun. Mereka membandingkan perusahaan dengan perusahan lain dalam industri yang sama atau di kawasan yang sama. Misalnya, ketika sebuah usaha ditutup atau gagal, wartawan akan bertanya bukan hanya berapa orang kehilangan pekerjaan tapi juga apa dampaknya pada masyarakat.

Untuk menjawab pertanyaan yang rumit ini, mereka perlu tahu apakah perusahaan itu merupakan salah satu majikan utama di kawasan tersebut, apakah perusahaan-perusahaan lokal lainnya menyediakan produk atau jasa yang sama, berapa tingkat pengangguran di situ dan sebagainya.

Laporan tentang dunia bisnis memerlukan pengetahuan yang lebih dalam tentang matematika dan statistik daripada di hampir semua bidang lain. Tapi wartawan bidang bisnis harus agak hemat dengan angka, karena terlalu banyak angka akan membuat berita tampak kering dan menjemukan. Berita-berita tentang bisnis yang paling menggigit akan memperlihatkan makna dari setiap perkembangan dengan menempatkannya dalam istilah-istilah yang manusiawi, menggambarkan hagaimana khalayak sudah atau akan terpengaruh olehnya.

 

Kesehatan, Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan

 

Berita-berita tentang kesehatan dan lingkungan berdampak langsung pada kehidupan manusia. wartawan yang meliput AIDS tahu benar bahwa sikap acuh-tak-acuh sama berbahayanya dengan penyakit itu sendiri. Berita-berita mereka dapat mendidik orang agar mereka dapat melindungi diri sendiri. Wartawan bidang kesehatan, ilmu pengetahuan dan lingkungan bisa melaporkan apa saja mulai dari flu burung sampai dengan pemetaan genom manusia dan dampak pembendungan sungai. Untuk masing-masing topik ini, isu yang mendasarinya rumit dan tugas wartawanlah untuk menjelaskan hal itu.

Ketika sedang menghadapi berita-berita demikian, wartawan perlu akrab dengan bahasa para ilmuwan dan peneliti medis yang bisa membingungkan pembaca awam. Jangan sampai terintimidasi oleh bahasa itu, ujar wartawan Denis Bueckert dari kantor berita Canadian Press, dan jangan pula menggunakan bahasa itu dalam cerita Anda. Seperti wartawan bidang bisnis, penulis bidang ilmiah mengembangkan daftar sendiri tentang defnisi dan penjelasan untuk istilah-istilah yang rumit sehingga mereka dapat menulis berita yang masuk akal bagi pembaca umum.

Wartawan yang meliput subyek-subyek ilmiah perlu memahami metode ilmiah; matematika dasar, dan statistik, sehingga mereka dapat melakukan cek ulang atas hasil-hasil studi penelitian. Pada waktu yang sama, mereka harus melawan godaan untuk menyatakan bahwa setiap perkembangan ilmu pengetahuan merupakan suatu terobosan, atau mendesakkan jawaban “ya” atau “tidak,” bukannya menerima berbagai kemungkinan. Berita mereka mungkin kurang dramatis tapi jelas lebih akurat.

Wartawan yang terlatih untuk melaporkan semua sisi sebuah berita sering terjatuh ke dalam perangkap ketika sedang meliput. Memberikan liputan yang seimbang atas berbagai pandangan ilmiah yang berbeda benar-benar bisa menyesatkan khalayak.

Misalnya, sebagian besar ilmuwan percaya baahwa persinggungan dengan timah hitam (timbal) bisa berbahaya bagi tingkat kecerdasan anak-anak. Hanya sedikir saja peneliti yang mempermasalahkan kaitan itu. Wartawan dapat menyebutkan kedua sudut pandang itu, tapi tidak sedemikian rupa sehingga seolah-olah tidak ada konsensus ilmiah untuk isu tersebut.

Carol Roger, guru besar jurnalistik Universitas Maryland yang sudah menyunting banyak buku tentang penulisan ilmiah, punya dua petuah berguna bagi wartawan bidang khusus. Pertama, masalah identifikasi. Wartawan sering tidak mengidentilikasi pakar yang mereka kutip secara memadai. Khalayak berhak tahu mengapa Anda mengutip orang tertentu. Misalnya, sebuah berita tentang konferensi internasioal mengenai perubahan iklim mengutip ucapan kepala Kantor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Gedung Putih, tapi tidak pernah menyebutkan bahwa ia adalah seorang ilmuwan terhormat bidang cuaca. Dengan memberikan intormasi itu, khalayak akan bisa mengevaluasi komentar pakar tersebut dengan baik.

Kedua, Rogers mengatakan, tidak seperti wartawan, khayalak tidak selalu mengetahui latar belakang dari setiap berita, apalagi berita yang rumit. Jadi, jika Anda tengah meliput sebuah konferensi ilmiah, misalnya, jangan beranggapan bahwa khalayak Anda sudah mendengar atau membaca berita hari sebelumnya, atau bahwa mereka akan mendengarkan berita itu besok. Berikan latar belakang yang mereka perlukan untuk memahami isu tersebut dan lakukanlah seolah-olah berita Anda adalah satu-satunya berita yang akan mereka baca atau dengar tentang subyek itu. Bisa saja memang begitu.

 

Kepolisian dan Pengadilan

 

Wartawan yang meliput bidang kejahatan dan peradilan perlu tahu cara sistem itu bekerja. Sedikit saha wartawan yang mendapat pelatihan tentang peradilan pidana, tapi para wartawan veteran menyarankan agar wartawan bidang kepolisian menyarankan agar wartawan setidaknya mengambil salah satu kursus untuk bidang ini. Para petugas polisi terkenal pelit memberikan informasi kepada wartawan, tapi jika Anda tahu tentang aturan, peraturan dan prosedur mereka, Anda akan bisa mengajukan pertanyaan yang lebih baik, dan meningkatkan peluang Anda untuk menemukan apa yang ingin Anda ketahui.

Wartawan bidang kepolisian perlu tahu dengan persis definisi kejahatan di lingkungan yang mereka liput. Di Amerika Serikat, misalnya, “burglary” (pembobolan) dan “robbery” (perampokan) bukan hal yang sama. “Burglary” terdiri atas pemboholan bangunan untuk melakukan kejahatan. “Robbery” adalah pencurian uang dan harta benda dengan kekerasan. Dengan mengembangkan sebuah daftar istilah penting Anda bisa tercegah melakukan kesalahan yang memalukan. Siaran pers dari kepolisian mungkin menyediakan fakta-fakta dasar tentang sebuah kejahatan, tapi wartawan yang baik akan menggali lebih dalam. Mereka akan pergi ke lokasi untuk mencari-cari rincian berita dan berbicara dengan para tetangga atau saksi mata kapan saja mungkin.

Wartawaan bidang pengadilan harus memahami proses peradilan dari awal sampai akhir. Mereka harus tahu apa yang terjadi ketika seorang tersangka ditahan, didakwa, diajukan ke pengadilan, divonis atau dibebaskan. Wartawan berpengalaman mengatakan cara terbaik untuk mempelajari proses ini adalah menyediakan waktu di gedung pengadilan. Mulailah dengan para panitera pengadilan yang menyimpan “docket” (daftar kasus) dan kalendernya. Cari tahu cara mendapatkan salinan catatan pengadilan, arsip, dan kesaksian. Baca arsip kasus-kasusnya – dan terus ikuti apa yang dilaporkan tentang kasus itu jika Anda tidak bisa hadir di pengadilan setiap hari, dan ini sering terjadi.

Pengacara adalah sebagian dari sumber informasi yang paling baik untuk bidang peradilan. Mereka sering lebih bersedia berbicara kepada wartawan ketimbang jaksa tentang kasus-kasus yang mereka tangani. Lakukan sebaik-baiknya untuk memahami bahasa hukum, tapi hindari penggunaannya dalam berita Anda. “Pengacara memang diajarkan untuk menggunakan kata-kata wah untuk membuat wartawan bingung,” ajar S.L. Alexander, penulis Covering the Courts: A Handbook for Journalists. “Jika Anda tidak tahu arti suatu hal, mintalah orang yang Anda wawancarai untuk menjelaskannya,” katanya.

 

Olahraga

 

Wartawan bidang olahraga menghasilkan sebagian dari tulisan jurnalistik terbaik. Berita mereka secara alami melibatkan drama, emosi, dan individu-individu yang terlalu dibesar-besarkan, kata mantan wartawan TV Bill Schwanbeck yang kini mengajar di Universitas Quinnipiac, Connecticut. Penulis berita olahraga yang baik lebih dari sekadar melaporkan skor sebuah pertandingan atau hasil sebuah kompetisi atletik. Mereka menyediakan hal-hal mendasar itu, tentu saja, tetapi mereka juga menyediakan perspektif dan konteks yang tidak bisa diperoleh khalayak yang menonton langsung atau melalui televisi.

Penulis bidang olahraga menjelaskan “mengapa” dan “bagaimana” sesuatu terjadi, bukan hanya tentang “siapa” dan “apanya.” Mereka juga melaporkan bisnis olahraga, dan menulis artikel tentang atletik, pemilik tim, dan penggemarnya.

Tapi wartawan bidang olahraga masih harus mulai dari hal-hal yang mendasar. Mereka perlu tahu ihwal olahraga, memahami aturan permainan atau olahraga yang mereka laporkan dan bagaimana skop ditentukan. Mereka bekerja dengan tenggat waktu yang ketat, terutama jika meliput pertandingan malam hari. Mereka harus tetap mengikuti skornya dan membuat catatan pada waktu yang sama, bukan tugas yang ringan dalam sebuah pertandingan dengan tempo tinggi. Yang paling penting, mereka harus menemukan sebuah tema untuk masing-masing berita dan membangun rincian di sekitarnya.

Dalam banyak kasus, berita terbaik bukan berasal dari lapangan. Wartawan olahraga menyelidiki apa yang terjadi di balik layar, suasana di ruang ganti baju, atau ketegangan antara dua orang pemain yang bisa mempengaruhi seluruh tim. Mereka memperlakukan para pemain dan manajer dengan hormat, tapi mereka tidak terlibat dalam pemujaan pahlawan. Mereka sering menikmati olahraga yang mereka liput, tapi mereka bukan penggemar atau pendukung salah satu tim. Seperti semua wartawan, mereka harus menjadi pengamat yang adil dan independen atas berita-berita yang mereka liput.

Sebagaimana wartawan bidang bisnis dan sains menghindari jargon ekonomi dan bisnis, wartawan bidang olahraga hendaknya menghindari istilah-istilah yang hanya diketahui oleh para pelatih dan penggemar berat saja. “Jagalah tetap sederhana,” kata mantan wartawan olahraga Mike Reilley, yang kini menerbitkan situs The Journalist’s ToolBox. “Jangan genit.” Ia juga mengingatkan wartawan muda untuk menduga wawancara yang kurang bersahabat dengan atlet dan pelatih, terutama bila mereka baru saja kalah. Banyak atlet profesional suka mengintimidasi, kata Reilley. Jadi bersiap-siaplah pasang kuda-kuda.

 

Pertanyaan-Pertanyaan Yang Harus Diajukan wartawan Tentang Jajak pendapat

 

Siapa yang melakukan jajak pendapat? Apakah ini sebuah lembaga survei yang absah? Untuk siapa lagi mereka melakukan jajak pendapat itu?

Siapa yang membiayai jajak pendapat? Apa agenda politik mereka?

Berapa jumlah respodennya? Apakah mereka diseleksi? Orang seperti apa saja yang diwawancarai?

Apakah hasilnya berdasarkan pada jawaban dari semua atau sebagian dari orang yang diwawancarai?

Kapan jajak pendapat dilakukan?

Bagaimana jajak pendapat dilakukan?

Apa saja pertanyaannya?

Berapa marjin kesalahannya? Berapa angka kasarnya?

Apakah hasilnya berbeda dengan jajak pendapat lain dan jika ya, mengapa?

Apakah jajak pendapat itu layak dilaporkan?

 

Disarikan dengan izin dari 20 Questions a Journalist Should Ask About Poll Results, Edisi Ketiga, oleh Sheldon R. Gawiser, Ph.D., G. Evans Witt.

http://www.ncpp.or.

 

 

7

ETIKA DAN HUKUM

 

 

Sebuah pers yang bebas punya kekuatan luar biasa, jika kekuatan artinya adalah kemampuan untuk mempengaruh] orang lain. Media berita dalam sebuah negara demokrasi pada umumnya punya hak untuk melaporkan informasi tanpa persetujuan lebih dulu dari pemerintah. Banyak negara menyediakan perlindungan hukum bagi wartawan sehingga mereka dapat menjalankan hak itu, tapi bersama dengan hak datang pula tanggung jawab. Bagi wartawan, tanggung jawab yang paling mendasar di sebuah masyarakat yang bebas adalah melaporkan berita secara akurat dan adil: artinya mempraktikkan jurnalisme yang etis.

Etika adalah suatu sistem prinsip yang memandu tindakan. Sementara hukum menetapkan apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan dalam suatu situasi tertentu, etika menyebutkan apa yang hendaknya Anda lakukan. Ini berdasarkan pada nilai-nilai – baik pribadi, profesi, sosial maupun moral – dan muncul dari penalaran. Pembuatan keputusan yang etis artinya sekadar menerapkan nilai-nilai ini dalam pekerjaan Anda.

Deklarasi Chapultepec yang disetujui oleh negara-negara di Benua Amerika pada 1994 sebagai penangkal terhadap tekanan pada kebebasan berekspresi di seluruh benua itu membuat jelas bahwa jurnalisme yang etis adalah inti dari keberhasilan jangka panjang media berita.

Kredibilitas pers terkait dengan komitmennya pada kebenaran, pada upaya mencapai keakuratan, keadilan, dan obyektivitas, dan pada perbedaaan yang jelas antara berita dan iklan. Pencapaian tujuan-tujuan ini dan penghormatan pada nilai-nilai etika dan profesi mungkin tidak dapat dipaksakan. Semua ini merupakan tanggung jawab wartawan dan media. Dalam sebuah masyarakat yang bebas, pandangan publiklah yang akan memberi penghargaan atau hukuman.

Pelanggaran etika memang terjadi dalam jurnalisme. Ada wartawan yang merekayasa informasi. Ada redaktur yang menerima bayaran dari sumber berita. Ada organisasi berita yang menerbitkan iklan dengan disamarkan sebagai berita. Ketika hal demikian terjadi, publik punya hak untuk mempertanyakan apa saja yang muncul di media. Semua wartawan, dan semua organisasi berita, menderita ketika wartawan berperilaku tidak etis karena perilaku itu menyebahkan kredibilitas profesi tersebut dipertanyakan. Ketika kredibilitas menderita, menderita pula kemampuan organisasi berita untuk bisa bertahan secara ekonomi.

 

Prinsip-Prinsip Etika

 

Ada satu aturan yang keramat dalam jurnalisme, ujar mendiang wartawan dan novelis pemenang hadiah, John Hersey, yang meliput akibat dari serangan bom atom di Hiroshima. “Penulis tidak boleb merekayasa. Keterangan dalam izin itu harus berbunyi: TAK SATUPUN HAL INI YANG DIREKAYASA.”

Wartawan yang beretika tidak menaruh kata-kata di mulut orang lain dan berpura-pura mereka pernah berada di suatu tempat padahal tidak. Dan mereka tidak mengaku-aku pekerjaan orang lain sebagai hasil karyanya sendiri. Rekayasa dan plagiat adalah pelanggaran terhadap standar jurnalistik dasar di seluruh dunia. Tapi tidak semua pelanggaran itu tampak jelas.

 

Bagi wartawan, tanggung jawab paling mendasar dalam sebuah masyarakat bebas adalah melaporkan berita secara akurat dan adil.

 

Wartawan menghadapi dilema etika setiap hari, di bawah tekanan dari pemilik, pesaing, pemasang iklan dan publik. Mereka memerlukan sebuah proses untuk menanggulangi dilema ini agar jurnalisme yang mereka hasilkan bersifat etis. Mereka memerlukan suatu cara berpikir tentang isu-isu etika yang akan membantu mereka membuat keputusan yang baik, bahkan pada tenggat waktu.

Cara berpikir ini tertanam dalam prinsip-prinsip yang diandalkan para wartawan. Inilah prinsip-prinsip dasar dari Himpunan Wartawan Profesional A.S., sebuah organisasi jurnalistik sukarela:

Cari kebenaran dan laporkan.

Wartawan harus jujur, adil, dan berani mengumpulkan, melaporkan dan menafsirkan informasi.

Minimalkan kerugian.

Wartawan yang beretika memperlakukan sumber, subyek, dan kolega sehagai manusia yang berhak dihormati.

Bertindak independen.

Wartawan harus bebas dari kewajiban pada kepentingan apa saja kecuali hak publik untuk tahu.

Bertanggung jawab.

Wartawan bertanggung jawab pada pembaca, pendengar, penonton merekan dan satu sama lain.

 

Di permukaan mungkin tampak cukup mudah untuk patuh pada prinsip-prinsip tersebut. Tentu saja wartawan harus mencari kebenaran dan memperlakukan sumber mereka dengan hormat. Tapi kadang-kadang prinsip-prinsip itu sendiri bertentangan. Wartawan yang sedang mencari kebenaran mungkin menemukan informasi yang akan melukai keluarga seseorang yang terlibat dalam suatu tindak kesalahan. Keanggotaan wartawan pada sebuah organisasi non-pemerintah mungkin bisa membuatnya tahu lebih banyak tentang berita yang melibatkan organisasi itu, tapi keanggotaannya pada kelompok itu mungkin akan mengkompromosikan kebebasannya dan ini akan sulit dibenarkan bagi khalayaknya. Dalam banyak kasus, membuat sebuah keputusan yang etis berarti memilih antara yang benar dan salah dan antara yang benar dan benar.

Lalu bagaimana wartawan dapat membuat keputusan etis yang baik? Beberapa situasi dapat diatasi sebaik-baiknya dengan cara, pertama-tama, menghindari situasi itu. Misalnya, wartawan dapat memilih tidak menjadi anggota kelompok luar apa saja, atau mereka menganggap diri mereka tidak cocok untuk meliput berita tentang kelompok apa saja tempat ia menjadi anggota. Dalam kasus-kasus lain, wartawan harus mencari keseimbangan yang paling baik antara prinsip-prinsip yang bertentangan, selalu mengingat-ingat kepentingan utama dalam mencari kehenaran dan melayani publik.

 

Pembuatan Keputusan Beretika

 

Beberapa ruang redaksi mengatasi kesulitan etika dari atas ke bawah. Ketika sebuah isu atau dilema muncul, seorang manajer senior memutuskan apa yang harus dilakukan. Pendekatan ini punya kelebihan karena bisa cepat tapi kadang-kadang sewenang-wenang. Cara ini tidak membantu apa-apa kepada wartawan untuk membuat keputusan yang baik ketika mereka berada di lapangan atau ketika manajer itu tidak ada. Karena itu, banyak ruang rddaksi yang mengutamakan sebuah proses pembuatan keputusan beretika yang lebih inklusif dan yang membantu semua wartawan membuat keputusan yang baik dalam berbagai situasi.

Langkah pertama dalam proses ini adalah mendefinisikan dilema itu. Kebanyakan orang sadar ketika mereka sedang menghadapi kesulitan etika. Sebuah alarm di dalam otak berbunyi. Ada yang kurang beres tentang sebuah situasi. Ketika hal itu terjadi, penting untuk menyebutkan dengan jelas apa yang merisaukan Anda. Nilai-nilai apa saja yang mungkin bisa dikompromikan? Isu-isu jurnalistik apa saja yang dipertaruhkan? Sering ada ketegangan antara sebuah tujuan jurnalistik dan sebuah sikap etis. Wartawan yang mendapatkan berita ekslusif mungkin ingin bergegas mencetaknya sebelmn orang lain mengdahuluinya, tapi ia juga perlu mempertimbangkan kemungkinan kunsekuensinya. Bagaimana kalau berita itu ternyata salah? Wartawan hendaknya tidak mengorbankan nilai-nilai etika mereka untuk mencapai tujuan lain seperti memenangkan persaingan.

Langkah berikut sesudah mendefinisikan masalah, adalah mengumpulkan informasi lebih banyak untuk membantu Anda membuat keputusan yang baik. Pelajari kebijakan dan panduan ruang redaksi Anda, jiki ada, dan bicaralah dengan orang lain tentang dilema itu. Mulailah dengan rekan kerja dan atasan Anda di ruang redaksi, tapi jangan berhenti di situ. Sering berguna kalau kita menyertakan suara-suara lain, yakni orang-orang yang tidak secara langsung terlibat dalam berita itu tapi yang tahu banyak tenting situasinya.

Penting untuk dicatat bahwa wartawan, tidak seperti dokter, tidak diharapkan untuk berjanji bahwa ia tidak akan menyebahkan kerugian. Banyak berita yang benar dan penting akan melukai perasaan atau reputasi orang lain. Ini tak terhindarkan. Tapi wartawan benar-benar berusaha meminimalkan kerugian dengan tidak menempatkan orang lain pada risiko yang tidak perlu. Bob Steele, yang mengajar etika jurnalistik di Lembaga Poynter, suka bertanya, “Bagaimana kalau posisinya dibalik? Bagaimana perasaan saya nantinya?”

Katakan bahwa seorang wartawan menemukan sebuah pabrik di mana anak laki-laki di bawah 12 tahun bekerja 10 jam sehari, enam hari seminggu, dan digaji kurang dari separuh upah minimum nasional. UUD negara itu melarang majikan menyewa anak-anak di bawah 14 tahun dan mempekerjakan mereka lebih Jari 45 jam seminggu adalah melanggar hukum. Dengan menemukan pabrik itu wartawan punya bukti eksploitasi anak-anak, tapi apa lagi yang perlu ia ketaui sebelum menerbitkan atau menyiarkan berita itu?

 

Jurnalisme etik sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang dari media berita.

 

 

Menceritakan kebenaran tentang pabrik itu jelas akan menimbulkan berbagai akibat, dan sebagian darinya menyakirkan. Ketika berhadapan dengan jenis berita demikian, akan berguna kalau Anda membuat daftar orang dan lembaga yang mungkin terpengaruh oleh berita itu dan mempertimbangkan dampak yang mungkin ada. Berita tentang pabrik itu akan mempengaruhi anak-anak itu secara langsung, tentu saja, tepi begitu juga keluarga mereka dan pemilik pabrik. Mengetahui kemungkinan akibatnya, wartawan bisa mulai mencari-cari alternatif untuk menyampaikan informasi itu sehingga berita itu tetap benar tapi tidak banyak menimbulkan kerugian. Dalam kasuS pabrik itu, wartawan bisa memutuskan untuk menggunakan foto anak-anak tapi tidak menyebutkan nama mereka dalam upaya membatasi potensi kerugian sebagai akibat dari berita itu.

Itu baru satu contoh tentang keputusan jurnalistik yang bisa menimbulkan konsekuensi etis. Contoh lainnya adalah jenis dan penempatan liputan serta nadanya. Dampak sebuah berita di halaman muka dengan judu1 besar-besar dan sebuah foto besar jelas akan lebih besar ketimbang berita kecil di halaman dalam. Berita televisi yang diiklankan berkali-kali sebelum diudarakan akan punya dampak lebih besar, dan dengan demikian konsekuensi etis yang lebih besar pula, ketimbang berita yang ditayangkan satu kali di tengah-tengah acara siaran berita.

Dengan melewati sebuah proses untuk membuat keputusan etis yang baik, wartawan dan organisasi berita menempatkan diri pada posisi untuk secara jelas membenarkan tindakan mereka. Dengan menjelaskan apa yang sudah dilakukan dan sebabnya, wartawan bisa mendukung kredibilitas mereka dan membenarkan kepercayaan publik terhadap mereka.

Ruang redaksi yang menghargai pembuatan keputusan yang etis memastikan bahwa jenis-jenis isu demikian selalu dibahas, bukan hanya ketika sebuah dilema muncul. Sejumlah ruang redaksi mengadakan rapat berkala untuk membahas apa yang harus mereka lakukan dalam situasi-situasi hipotesis. Wartawan yang mau mendengar dengan pikiran terbuka dan tetap menjaga emosinya serta menghindari sikap tidak luwes tentang posisi mereka akan mampu menerapkan ketrampilan-ketrampilan ini dalam bekerja ketika mereka tengah menghadapi sebuah persoalan etika yang nyata.

 

Kode Etika

 

Himpunan dan federasi wartawan di seluruh dunia sudah membentuk kode-kode etika untuk memandu kerja para wartawan anggotanya. Kode etika mencakup apa saja mulai dari plagiat sampai ke privasi dan dari koreksi sampai kerahasiaan. Ada yang ringkas dan kata-katanya kabur, namun ada pula yang panjang-lebar dan sangat eksplisit. Claude-Jean Bertrand, guru besar di Universitas Paris, Prancis yang telah meneliti kode-kode etika dari banyak negara, mengatakan bahwa kebanyakan kode etika itu mencakup tiga unsur dasar:

• Nilai-nilai fundamental termasuk penghormatan pada kehidupan dan solidaritas manusia;

• Larangan fundamental, termasuk tidak berbohong, menyebabkan kerugian yang tidak perlu, atau menggunakan milik orang lain.

• Prinsip-prinsip jurnalistik termasuk keakuratan, keadilan dan independensi.

Kode-kode ini kadang-kadang bersifat sukarela, tanpa konsekuensi yang jelas bagi pelanggarnya. Tapi diharapkan rekan sejawat dan majikan akan meminta pertanggungjawaban dari wartawan yang bertindak tidak etis. Di beberapa negara, dewan pers mendengarkan keluhan terhadap wartawan dan dapat merekomendasi tindakan untuk memperbaiki kesalahan. Majalah-majalah pengulas jurnalisme juga berfungsi sebagai korektor dengan memaparkan tingkah laku wartawan yang tidak etis. Beberapa organisasi berita punya seorang staf yang disebut “ombudsman” dengan tugas melihat-lihat kesalahan dan pelanggaran etika serta menjadi wakil publik di dalam ruang redaksi.

Di negara-negara di mana wartawan wajib menjadi anggota serikat kerja atau himpunan, kode etikanya sering mencakup sebuah ketentuan pelaksanannya. Misalnya, Himpunan Wartawan Australia punya komisi hukum yang menyelidiki tuduhan tingkah laku tidak etis terhadap wartawan. Wartawan yang diketahui melanggar dapat dicela, didenda, atau dikeluarkan dari kelompoknya.

 

 

Kode Tingkah Laku

 

Selain kode etika nasional dan regional, banyak organisasi berita punya kode tingkah laku atau standar praktik sendiri yang diharapkan akan diikuti oleh para wartawannya. Kode ini mungkin menyebutkan tindakan atau kegiatan spesifik yang mungkin dianjurkan atau dilarang, atau yang memerlukan persetujuan atasan.

Banyak organisasi berita membatasi apa yang dapat dilakukan wartawan baik di dalam maupun di luar kerja mereka. Alasan utama bagi pembatasan itu adalah untuk melindungi kredibilitas organisasi berita tersebut.

Wartawan dan jurufoto mungkin diminta secara jelas bahwa mereka tidak boleh memanipulasi atau merekayasa berita dengan meminta orang untuk melakukan sesuatu bagi berita itu, hal yang biasanya tidak dilakukan orang itu. Wartawan mungkin tidak boleh menyembunyikan identitas mereka untuk mendapatkan berita, kecuali jika ada kepentingan umum yang jelas dan mendesak atas informasi itu dan berita itu tidak dapat diperoleh dengan cara lain mana pun. Sebuah stasiun televisi mungkin secara eksplisit melarang penggunaan kamera tersembunyi atau rekaman rahasia dalam mengumpulkan berita kecuali jika seorang manajer menyetujuinya dengan atasan kepentingan publik.

Dengan datangnya fotografi digital, standar baru sudah ditambahkan untuk melarang mengubah-ubah foto atau video dengan cara yang dapat menyesatkan khalayak. Sejumlah insiden tingkat tinggi telah ikut menyebahkan dibuatnya kebijakan baru demikian, termasuk sebuah foto di sampul majalah National Geographic pada tahun 1980-an yang secara digital memindahkan Piramida-Piramida Giza di Mesir yang tersohor itu menjadi tampak berdekatan.

Banyak peraturan dalam kode tingkah laku ruang redaksi berkaitan dengan independensi jurnalistik. Bahkan untuk mengindari munculnya konflik kepentingan, wartawan mungkin dilarang punya saham atau kepentingan pribadi di perusahaan yang mereka liput. Wartawan mungkin tidak diperbolehkan mengambil posisi publik dalam sebuah isu politik atau secara terbuka mendukung seorang calon untuk jabatan publik. Organisasi berita mungkin melarang wartawan punya huhungan bisnis dengan sumber berita mana pun, atau melakukan pekerjaan sampingan demi uang kecuali atas persetujuan manajer.

Kebijakan etika Detroit Free Press, sebuah surat kabar di Negara Bagian Michigan, Amerika Serikat, dengan tegas menyebutkan apa yang akan dan tidak akan dilakukan koran itu. Mereka melarang membayar sumber untuk mendapatkan berita dan menyatakan bahwa sumber tidak akan dibolehkan melihat-lihat materi berita sebelum diterbitkan. Canadian Broadcasting Company (CBC) punya pedoman standar panjang-lebar yang mewajibkan karyawan untuk menolak setiap hadiah yang mungkin disediakan untuk mempengaruhi keputusan CBC; hanya hadiah sederhana untuk tujuan baik atau keramahtamahan yang ditawarkan dalam bisnis yang normal saja boleh diterima. Para karyawan CBC tidak boleh menerima tawaran perjalanan atau akomodasi gratis untuk meliput berita.

Mungkin mustahil menghindari setiap potensi konflik, tapi wartawan perlu menyadari bahwa tingkah laku mereka bisa memberi kesan buruk pada organisasi berita mereka. Bila mereka merasa bahwa sebuah konflik mungkin timbul, mereka diharapkan memberitahu atasan mereka. Wartawan yang punya hubungan pribadi dcngan sebuah berita mungkin bisa meminta wartawan lain untuk menggantikannya. Banyak organisasi berita sudah menjadikannya sebagai suatu praktik, dengan meminta wartawan mengungkapkan hubungan dalam berita-berita mereka yang mungkin menyiratkan adanya konflik kepentingan, sekalipun sebenarnya konflik itu tidak ada.

Kode tingkah laku pada umumnya berupa dokumen internal, tapi makin banyak organisasi berita yang memasangnya di situs Web sehingga publik bisa tahu apa yang bisa mereka harapkan dan dapat meminta koran atau stasiun siaran bertanggung jawab manakala standar itu dilanggar.

 

Standar Masyarakat

 

Organisasi berita sering menghadapi konflik antara kelayakan berita dan standar inasyarakat, dan untuk mengatasi hal itu diperlukan praktik pembuatan keputussan yang etis. Misalkan seorang pejabat terpilih sudah menggunakan kata-kata rasialis dalam membicarakan seorang anggota partai oposisi. Beberapa koran mungkin akan mencetak kata-katanya persis seperti yang dipakai pejabat itu. Koran lain mungkin menggunakan beberapa huruf diikuti oleh tanda penghubung untuk menunjukkan apa yang sudah diucapkannya tanpa harus mengejanya penuh. Dan beberapa surat kabar lain akan melaporkan hanya bahwa pejahat itu sudah menggunakan bahasa yang menyinggung perasaan. Para redaktur surat kahar memilih solusi yang berbeda-beda bergantung pada apa yang menurut mereka bisa ditolerir oleh pembaca. Tapi kadang-kadang mereka jalan terus dengan sebuah keputusan yang mereka yakini akan menyinggung sejumlah pembacanya. Redaktur menghadapi pilihan yang mirip sulitnya ketika menghadapi sebuah foto yang mengejutkan atau video yang mungkin merupakan cara paling kuat untuk menyampaikan berita penting.

Untuk meminimalkan kerugian yang mungkin timbul dari pilihan itu, banyak manajer berita kini memilih untuk menjelaskan mengapa mereka sudah melakukan keputusan itu, entah di dalam teks berita itu atau di kolom “catatan redaksi” yang terpisah. Misalnya, sebuah foto tentang seorang ibu yang menggendong tubuh anak lelakinya yang kurus kering dan telah mati karena kelaparan jelas akan sangat mengganggu. Alih-alih menunggu panggilan telepon yang marah atau menanggapi setiap protes penonton, catatan rddaksi itu mungkin mengatakan bahwa gambar tentang penderitaan itu menceritakan berita tentang kelaparan itu jauh lebih jelas daripada kata-kata saja. Dengan menjelaskan keputusan mereka kepada masyarakat, wartawan dapat bertindak sesuai dengan prinsip tanggung jawab yang menuntun mereka.

 

Isu-Isu Hukum

 

Tonggak dari standar-standar internasional tentang media berita adalah Pasal 19 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangga yang berbunyi:

Setiap orang punya hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi; hak ini termasuk bebas untuk menahan pendapat tanpa campur tangan dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media apa pun tanpa memandang batas negara.

Negara-negara anggota PBB berkomitmen untuk menjunjung tinggi piagam itu, termasuk Pasal 19 itu, tapi hal itu belum bisa menghentikan beberapa negara untuk menindas media berita mereka sendiri dan menghalangi akses ke berita internasional. Dalam sejumlah kasus, wartawan ada yang sudah terbunuh, dipenjara, atau diasingkan dalam upaya menjalanktn tugas mereka.

Danilo Arbila dari Himpunan Pers Antar Negara-negara Amerika dan surat kabar Busqueda di Urugay mengatakan bahwa undang-undang pers yang paling baik adalah tiadanya undang-undang demikian sama sekali. Dalam dunia yang ideal, katanya, perundang-undangan yang mengatur kebebasan pers akan terdiri tidak lebih dari bebebarapa halaman, “berisi klausul-klausul yang jelas dan terus terang yang melarang setiap upaya untuk mengatur…kebebasan berekspresi.” Tak perlu dikatakan lagi, dunia memang bukan tempat yang ideal. Undang-undang pers di seluruh dunia begitu bervariasi sehingga tidak mungkin kita meringkas semuanya. Beberapa negara demokratis punya undang untuk menjamin akses wartawan ke informasi publik, sedangkan negara lain ada yang membatasi informasi apa saja yang boleh di diterbitkan atau ditayangkan. Di sejumlah negara, menyebutkan nama seorang korban kejaltatan, atau identitas seorang anak remaja yang dituduh melakukan kegiatan kriminal, adalah melanggar hukum. Bahkan di dalam satu negara saja, mungkin ada peraturan-peraturan daerah yang berbeda-beda dan mencakup isu-isu seperti apakah seorang wartawan dapat dipaksa untuk menyebutkan nama sumber rahasia atau menyerahkan catatan liputan ke pengadilan, dan dalam situasi seperti apa. Cukup dikatakan bahwa wartawan harus menyadari adanya undang-undang di negara-negara di mana mereka bekerja, serta upaya-upaya yang terus-menerus untuk mencabut undang-undang yang sangat membatasi gerak mereka.

Salah satu jenis isu hukum yang dihadapi wartawan adalah pencemaran nama. Di Amerika Serikat, pencemaran nama adalah pernyataan tentang sebuah fakta yang pada dasarnya salah tentang seseorang yang dapat diidentifikasi dan yang cenderung mencemarkan reputasi orang tersebut. Pencemaran nama baik (defamation) akan disebut sebagai “libel” (hasutan) jika pernyataan itu diterbitkan dan “slander” (fitnah) jika ditayangkan, tapi parameter dasarnya sma. Secara umum jika sebuah pernyataan memang benar, itu tidak bisa disebut pencemaran nama. Dengan demikian wartawan harus mengkonfirmasikan dengan bebas apa yang dikatakan oleh sumber mereka, apakah komentar-komentar mereka bisa mencemarkan nama orang lain atau tidak.

Sering perkembangan teknologi yang mengubah cara kerja wartawan, undang-undang media juga diteliti kembali. Yang paling depan adalah pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah wartawan online diberi hak-hak dan perlindungan yang sama dengan wartawab yang bekerja pada organisasi berita yang sudah mapan? Apakah hak-hak itu juga berlaku bagi para blogger di Internet? Pertanyaan-pertanyaan ini tampaknya masih akan belum teratasi untuk sementara waktu.

Wartawan jelas harus tunduk pada undang-undang lain yang berlaku bagi setiap orang di negara tertentu, seperti undang-undang yang mengatur privasi. Wartawan yang ingin memperoleh akses ke informasi tidak boleh memasuki rumah pribadi, mengambil dokumen tanpa izin, atau menyadap telepon dan berharap tidak akan menghadapi konsekuensi hukum. Sebuah organisasi berita mungkin memutuskan bahwa sejumlah berita mereka begitu penting sehingga mereka mau mengamhil risiko menghadapi sanksi hukum, tapi itu soal lain yang akan diputuskan bersama dan dengan hati-hati oleh para redaktur, wartawan dan manajemen.

 

 

8

SUMBER DAYA JURNALISTIK

 

Kelompok Keanggotaan

American Society of Newspaper Editors

http://www.asne.org

Mewadahi para redaktur surat kabar di negara-negara Amerika.

 

Association for Women Journalists

http://www.awjdfw.org/index.html

Mempromosikan perlakuan adil terhadap wanita di media dan ruang redaksi melalui sebuah program beasiswa, hibah karier, jejaring, pembelaan, seminar kasus, dan Kompetisi Penghargaan Vivian Castleberry tahunan.

 

International Federation of Journalists

http://www.ifj.org/

Mewadahi sekitar 500.000 anggotanya di lebih dari 100 negara.

 

Investigative Reporters and Editors, Inc.

http://www.ire.org

Mewadahi para wartawan investigasi.

 

National Press Photographers Association

http://mw.ppa.crg/

Melayani wartawan media online.

 

Organization of News Ombudsmen

http://www.newsombudsmen.org/

Asosiasi International bagi para ombudsman atau kritikus internal media berita.

 

Radio-Television News Directors Association

http://www.rtnd.org

Kelompok keanggotaan bagi wartawan eletronik seluruh dunia.

 

Society of Professional Journalists

http://wwww.spj.org/

Himpunan wartawan profesional ini bekerja untuk meningkatkan dan melindungi jurnalisme. SPJ juga mempromosikan praktik jurnalistik yang bebas dan standar etika tingkah laku yang tinggi. Mendorong arus informasi bebas yang vital bagi masyarakat yang selalu mendapat informasi, bekerja untuk mendidik generasi wartawan mendatang, dan melindungi jaminan-jaminan Amandemen Pertama bagi kehebasan berbicara dan pers.

 

Society for News Design

http://www.snd.org/

Mewadahi para desainer, seniman grafik, ilustrator, dan wartawan visual lainnya.

 

 

Pelaporan dan Penyuntingan

 

 

Cyberjournalist.net

http://www.cyl,cyberjournalist.net/tips and tools/

Cyberjournalist.net adalah sebuah situs sumber daya yang berfokus pada bagaimana Internet, kovergensi/paduan (lihat catatan), dan teknologi baru mengubah media. Situs itu menawarkan petunjuk, berita, dan komentar tentang jurnalisme online, media warga negara, pelaporan berita secara digital, operasi berita terpadu, dan menggunakan Internet sebagai piranti pelaporan.

Catatan: Konvergensi/paduan dalam media merujuk pada pelaporan lintas-program. Misalnya, wartawan surat kabar menyusun berita untuk koran, situs koran itu di Web, dan bahkan stasiun televisi atau radio yang dimiliki koran itu.

 

Journalism.net

http://www.journalism.net

Sebuah situs jasa lengkap dengan lusinan link yang berguna, dikembangkan oleh seorang wartawan Kanada.

 

Newslab

http://www.newslab.org

Sumber daya, latar belakang berita, dan pelatihan bagi wartawan televisi dan radio.

 

Project for Excellence in Journalism

http://www.journalism.org

Organisasi nirlaba Amerika Serikat yang memiliki sumber daya dan penelitian

 

Reporter.org

http://www.reporter.org

Sumber daya bagi wartawan, termasuk link-link berorientasi pada “heat”

 

 

 

 

 

 

Jurnalisme Khusus

 

Kebanyakan kelompok ini adalah organisasi keanggotaan yang menawarkan pelatihan dalam konferensi-konferensi dan sumber-sumber daya dengan jadwal teratur pada situs Web mereka.

 

BISNIS: NationalCenter for Business Reporting

http://www.businessjournalism.org/

 

KONFLIK: Center for War, Peace, and the News Media

http://www.bu.edu/globalbeat/

 

LINGKUNGAN: International Federation of Environmental Journalists

http://www.ifej.org/

 

INVESTIGASI: International Consortium of Investigative Journalists

http://www.publicintegrity.org/icij/

 

ILMU PENGETAHUAN: International Science Writers Association

http://www.internationalsciencewriters.org

 

OLAHRAGA: Associated Press Sports Editors

http://www.apse.dallasnews.com/

 

 

 

 

Pelatihan Jurnalistik

 

American Press Institute

http://www.americanpressinstitute.org/

Pusat pelatihan bagi wartawan media cetak berpusat di Amerika Serikat. Situs ini menawarkan sumber daya termasuk link-link berguna pada The Jountalist’s Toolbox.

 

CIESPAL

http://www.ciespal.net/

Pusar jurnalistik internasional untuk Amerika Latin, berpusat di Ekuador. (Situs dalam Bahasa Spanyol)

 

European Journalism Centre

http://www.ejc.nl/

Lembaga pelatihan berpusat di Belanda ini punya informasi latar belakang tentang media dan sumber daya di Eropa.

 

IFRA Newsplex

http://www.newsplex.org/home.shtml

Pusat-pusat pelatihan terdapat di Amerika Serikat dan Jerman.

 

Independent Journalism Foundation

http://www.ijf.org/

Mendukung pers yang bebas di Eropa Timur dengan pelatihan di empat pusat pelatihan regionalnya.

 

International Center for Journalists

http://www.icfj.org

Pusat pelatihan berpusat di Amerika Serikat ini juga punya link ke peluang pelatihan dan beasiswa di seluruh dunia pada International Journalists Network miliknya: http://www.ijnet.org/

 

Internews

http://www.internews.org/

Kelontpok nirlaba A.S. ini menatwarkan pelatihan jurnalistik di seluruh dunia.

 

Institute for the Advancement of Journalism

http://www.iaj.org.za/

Lembaga pelatihan media Afrika Selatan.

 

Institute for War and Peace Reporting

http://www.iwp.net

Laporan-laporan khusus oleh kawasan itu dari lembaga nirlaba di London ini dalam bebagai bahasa.

 

John S. Knight Fellowship

http://www.knight.stanford.edu/program/index.html

Menawarkan beasiswa jurnalisme profesional selama satu tahun di Universitas Stanford bagi para wartawan pertengahan karier yang menonjol.

 

Journalismtraining.org

(Society of Profesional journalists)

http://www.journalismtraining.org/action/home

Menyediakan lokasi terpusat bagi wartawan yang mencari informasi tentang pengembangan profesi. Titik inti situs ini adalah sebuah database yang bisa dicari tentang program-program jurnalistik tingkat lokal, regional dan nasional.

 

No Train-No Gain

http://ww.notrain-nogain.org/

Para redaktur surat kabar berbagi ide dan latihan dalam situs ini

 

The Poynter Institute

http://www.poynter.org/

Sebuah sekolah jurnalistik di Amerika Serikat. Situsnya menyediakan sumber daya, informasi latar helakang berita, dan banyak link.

 

 

 

Kebebasan Berekspresi

 

 

Pasal 19

http://www.articlel9.org/

Kelompok-kelompok nirlaba internasional mendukung kebebasan berekspresi dan arus informasi yang bebas sebagai hak asasi manusia.

 

Canadian Journalists for Free Expression

http://www.cjfe.org/

Sebuah kelompok non-pemerintah yang membela hak-hak wartawan di seluruh dunia.

 

Freedom Forum

http://www.freedomforum.org/

Sebuah saluran berita yang terutama mengurusi isu-isu Amandemen Pertama A.S. dan Kehebasan Informasi.

 

Inter America Press Association

http://www.sipiapa.org/

Mendukung pers bebas di Belahan Dunia Barat.

 

Journalists for Human Rights

http://www.jhr.ca/

Lembaga nirlaba Kanada yang berfokus pada laporan tentang Afrika.

 

The Reporters Committee for Freedom of the Press

http://www.rcfp.org/

Sebuah organisasi nirlaba yang mengabdi pada bantuan hukum cuma-cuma bagi wartawan

 

Reporters Without Borders

http://www.rsf.org/

Sebuah organisasi pers internasional berpusat di Paris. Sumber dayanya tersedia dalam Bahasa Inggris, Francis dan Spanyol.

 

World Press Freedom Committee

http://www.wpfc.org/

Sebuah kelompok payung internasional yang membela dan mempromosikan kebebasan pers.

 

 

 

 

Buku

 

Clark, Roy Peter and Cole C. Campbell (eds)

The Values and Craft of American Journalism: Essays From the Poynter Institute. Gainesville, Fl. University Press of Florida, 2005.

 

The First Amendment Handbook Arlington, VA: The Reporters Committee for Freedom of the Press, 2003

http://www.rcf.org/handbook.index.html

 

Hachten, William A.

Troubles of Journalism: A Critical Look at What’s Right and Wrong With the Press. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, 3rd edition, 2004.

 

Hamilton, James T

All the News That’s Fit to Sell: How the Market Transforms Information Into News. Princeton, NJ: Princeton University Press, 2003.

 

Overholser, Geneva, and Kathleen Hall Jamieson.

The Press. New York, NY: Oxford University Press, 2005.

 

Sloan,. W David and Lisa Mullikin Parcell (eds)

American Journalism: History, Principles, Practices. Jefferson, NC: MeFarland & Company, 2002.

 

Sullivan, Marguarite H

A Responsible Press Office: An Insider’s Guide. Washington, DC: U.S. Department of State International Program, 2001.

http://usinfo.state.gov/products/pubs/pressoffice/

 

 

Kode Etika

 

American Society of Newspaper Editors

ASNE Statement of Principles. Revlon, VA: American Society of Newspaper Editors, 2002

http://www.acne.org/kiosk/archive/principl.htm

 

Radio-Television News Directors Association

Code of Ethics and Professional Conduct. Washington, DC: Radio-Television News Directors Association, 2000

http://www.rtnda.org/ethics/coe.shtml

 

Society of Professional Journalists

SPJ Code of Ethics. Indianapolis, IN: Society of Professional Journalists, 1996

http://www.spj.org/ethics.asp

 

International Center for Journalists

Code of Ethics (menurut negara dan kawasan), Washington, DC.

Versi Bahasa Inggris: http://www.ijnet.org/Director.aspx?P-Etlicis

 

 

 

 

 

Departemen Luar Negeri A.S. tidak berianggung jawab atas segala isi dan ketersediaan sumber daya dari instansi-instansi dan organisasi lain yang disebutkan di atas. Semua link Internet aktif sampai dengan musim gugur 2006.

 

 

 

 

Biro Program Informasi Internasional

DEPARTEMEN LUAR NEGERI AS.

http://usinfo.state.gov

— Kembali ke Muka … —

 

 

 

  1. Terima kasih author ^^
    Postingannya SANGAT membantu sekali ^^

  2. Terima kasih author ^^
    Postingannya SANGAT
    membantu sekali ^^

  3. POSTINGAN ini sangat sangat bermanfaaat,, karena berisi dasar dasar yang sungguh memberi pelajaran bagi jurnalis pemula…
    Tapi mohon maaf ini ada yang perlu diluruskan,,terkait entah paragaraf ke berapa, tapi yang isinya tentang Lady DIANA, pada angka tehun..he hehe..sukses selalu…

    Kejadian tak terencana sering menjadi berita utama.

    Kapal tenggelam, pesawat jatuh, tsunami, atau tanah

    longsor sangat layak berita bukan hanya pada saat

    kejadian tetapi juga sering berhari-hari dan

    berminggu-minggu sesudahnya. Luasnya liputan itu

    bergantung pada kedekatan dengan lokasi kejadian dan

    pada orang yang terlibat. Sebuah kecelakaan mobil yang

    fatal di Paris mungkin tidak akan menjadi berita besar

    kapan saja. Tapi kecelakaan yang terjadi di Paris pada

    1979 menjadi berita heboh, bukan saja di Prancis tetapi

    juga di seluruh dunia karena salah satu korbannya

    adalah Putri Diana.

    (Tahunnya dicek lagi…)

    • Terimakasih untuk koreksinya. Maaf salah mengetik agak terbalik. Seharusnya Lady Diana meninggal tahun 1997, bukan 1979.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: