vivixtopz

Pengantar Fotografi

Modul Pengantar Fotografi

Oleh: Ahmad aufiq MA

Pendahuluan

Siapa yang tidak mengenal kamera? Anak kecil zaman sekarang pun sudah terbiasa memegang dan bergaya di hadapan kamera. Yang perlu dilakukan hanyalah menekan satu tombol, momen yang ingin disimpan dapat tertangkap oleh kamera. Kawan Kampus dapat mencetaknya seperti biasa, atau menyimpannya dalam bentuk file. Karenanya terima kasih untuk kemajuan teknologi yang telah menciptakan fotografi digital, menjadikan semua terasa mudah.

Pada hakikatnya, fotografi merupakan teknik untuk menghasilkan gambar yang tahan lama melalui suatu reaksi kimia yang terjadi, ketika cahaya menyentuh permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jika ditilik sejarahnya, fotografi pertama kali ditemukan pada tahun 1839 oleh Louis Daguerre, sebagai konsekuensi langsung perkembangan di bidang kimia dan optikal. Istilah fotografi pun berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yang berarti menulis dengan cahaya.

Kini, fotografi telah menjadi bagian tak terelakkan dalam kehidupan manusia di seluruh dunia. Bahkan, orang awam dapat berhadapan dengan seribu hasil fotografi tiap harinya, baik dalam bentuk foto, iklan, dsb, di berbagai media massa sampai di pinggir jalan.

Fotografi baru masuk dan berkembang di Indonesia, kira-kira setelah berkembang selama hampir satu abad di Barat, tepatnya pada seperempat akhir abad ke-19 sebagai alat dokumentasi. Dalam perjalanan perkembangan fotografi di Indonesia, kini ada gejala menarik yang diperlihatkan oleh anak-anak muda di negeri ini. Semakin banyak dari mereka yang tertarik pada bidang fotografi dan berusaha mendalaminya. Kemudian semakin banyak pula sekolah atau pelatihan fotografi yang mengajarkan para muridnya teknik-teknik dasar fotografi, seperti penguasaan kamera, penataan cahaya, dan proses cuci cetak foto.

Lantas, sebenarnya apa yang menjadi daya tarik utama fotografi? Alasannya bermacam-macam, ada yang menganggap fotografi memiliki suatu keajaiban. Fotografi dianggap bisa menghadirkan kenyataan yang sudah lama. Realitas kita begitu luas dan ketika dibingkai dengan foto, kita mencuri secuil realitas dan menghadirkannya dalam bentuk gambar dua dimensi.

Tak dapat dimungkiri memang, dengan bantuan foto kita dapat melihat seperti apa keadaan lingkungan beberapa tahun silam, atau bahkan ratusan tahun lalu. Kita bahkan dapat melakukan perbandingan dulu dan sekarang dengan bantuan foto-foto dokumentasi. Seluruh manusia di muka bumi ini belajar mengenai tragisnya sebuah perang pun salah satunya berkat fotografi.

Membaca perkembangan fotografi di Indonesia dan juga memperhatikan betapa membuncahnya minat kaum muda terhadap fotografi, kita patut senang. Namun ada juga kekhawatiran atas mental para fotografer muda yang belajar fotografi langsung menggunakan kamera digital, tanpa melalui proses pengenalan kamera analog (kamera film), kamar gelap, dan sebagainya.

Padahal, fotografi meru[akan bidang yang memiliki aturan, langkah dan proses sendiri-sendiri yang harus dilalui. Ketika ada proses penting dilupakan, ada momentum yang hilang sehingga mental masing-masing fotografer akan berbeda.

Walau soal bagus atau jelek pada hasil akhir adalah hal yang relatif. Kita tidak dapat serta merta menjustifikasi fotografer yang tidak belajar kamera analog sebagai seorang fotografer yang bermental kurang baik. Hal ini tidak dapat dipandang benar atau salah, tapi memang kalau langsung meloncat ke digital, akan ada proses yang hilang.

Meski demikian, bagi para pengguna kamera digital, tak ada perbedaan berarti antara penggunaan digital atau analog. Itu dapat diantisipasi andai penggunaannya tergantung kebutuhan yang komprehensif.

Belajar fotografi

Banyak kalangan ingin mendalami fotografi namun tak memiliki dasar pendidikan fotografi formal. Saat ini rasanya kesulitan itu tidak perlu dikhawatirkan. Selain sudah banyak kursus dan workshop fotografi, mereka juga dapat belajar memotret secara otodidak dan terus belajar dalam karya.

Orang-orang yang menekuni fotografi dari latar belakang pendidikan yang beragam, sebenarnya memiliki warna tersendiri. Misalnya, mahasiswa desain atau arsitektur yang belajar fotografi, mereka punya pengetahun lebih tentang membuat konsep, warna, cahaya, unsur seni rupa, gambar, bantuk dan sebagainya.

Hanya saja, untuk menambah pengetahuan fotografi, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah berkumpul bersama orang-orang yang punya minat sama. Bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa (UKM) fotografi kampus, misalnya, boleh jadi akan membuat hunting foto lebih asyik. Tapi jangan lupa untuk aktif mendalami fotografi dengan terus mencari referensi foto sebanyak-banyaknya.

Selain referensi foto, peminat fotografi harus juga mencari referensi dari cabang seni rupa lainnya untuk mempertajam sense. Karena fotografi adalah cabang dari seni rupa. Selain itu, perbanyak pula referensi dari bidang lain, seperti teater, sastra, musik, dan sebagainya.

Keseriusan para penggemar fotografi dalam menggeluti dunia ini, sebenarnya memberi masa depan yang terbilang cerah, disamping memuaskan hobi dan talenta yang dimiliki. Meski belajar secara otodidak, selama langkah yang diambil tepat dan mengikuti rules fotografi yang benar, seseorang dapat berhasil di bidang ini. Contohnya, menjadi fotografer freelance untuk majalah alam jika kita senang berkelana naik gunung atau berpetualang alam.

Jadi, jangan ragu untuk mulai mengangkat kamera, memperluas wawasan dan meningkatkan kepekaan kita terhadap realitas sosial. Semakin kita menjiwai sebuah realitas, akan semakin berbicara foto kita!

Penyusun

Ahmad Taufiq MA

BAB 1

A. Fotografi dari Masa ke Masa

Fotografi secara umum baru dikenal sekitar 150 tahun lalu. Ini jika kita membicarakan fotografi yang menyangkut teknologi. Namun, jika kita bicarakan masalah gambar dua dimensi yang dihasilkan dari peran cahaya, sejarah fotografi sangatlah panjang. Dari yang bisa dicatat saja, setidaknya “fotografi” sudah tercatat sebelum Masehi.

Dalam buku The History of Photography (Alma Davenport, 1991) disebutkan bahwa pada abad ke-5 sebelum Masehi, Mo Ti sudah mengamati sebuah gejala awalnya. Pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang, ia memperhatikan di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Kemudian, pada abad ke-10 Masehi, Ibn al-Haitham menemukan fenomena yang sama pada tenda miliknya yang bolong.

Hanya sebatas itu informasi yang masih bisa kita gali seputar sejarah awal fotografi karena keterbatasan catatan sejarah. Bisa dimaklumi, di masa lalu informasi tertulis amat jarang. Fotografi lalu mulai tercatat resmi pada abad ke-19, lalu terpacu bersama kemajuan-kemajuan lain yang dilakukan manusia sejalan dengan gencarnya kemajuan teknologi.

Tahun 1839 dicanangkan sebagai tahun awal fotografi. Pada tahun itu di Perancis, fotografi dinyatakan secara resmi sebagai sebuah terobosan teknologi. Kala itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanent oleh penemu fotografi pelat logam, Louis Jacques Mande Daguerre. Si empu sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Namun Pemerintah Perancis, dilandasi berbagai pemikiran politik, berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma. Maka, saat itu manual asli Daguerre menyebar ke seluruh dunia, walau diterima setengah hati akibat rumitnya kerja yang harus dilakukan.

Meskipun pencanangan resmi sebagai teknologi temuan baru pada 1839, sebenarnya foto-foto telah tercipta beberapa tahun sebelumnya. Temuan Daguerre bukanlah murni temuannya sendiri. Seorang peneliti Perancis lain, Joseph Nicephore Niepce, pada 1826 sudah menghasilkan sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai foto pertama dalam sejarah manusia. Foto berjudul View from Window at Gras itu kini disimpan di University of Texas, Austin, AS.

Niepce membuat foto dengan melapisi pelat logam dengan sebuah senyawa buatannya. Pelat logam itu lalu disinari dalam kamera Obscura sampai beberapa jam hingga tercipta imaji. Metode Niepce ini sulit diterima orang, karena lama penyinaran dengan kamera Obscura bisa memakan tiga hari. Pada 1827, Daguerre mendekati Niepce untuk menyempurnakan temuan itu. Dua tahun kemudian, Daguerre dan Niepce resmi bekerja sama mengembangkan temuan yang mereka sebut heliografi. Dalam bahasa Yunani, helios adalah matahari, dan graphos adalah menulis.

Pada 1833, Niepce meninggal. Daguerre kemudian selama enam tahun bekerja sendiri, kemudian hasil kerjanya itu diumumkan ke seluruh dunia. Dari situ, fotografi kemudian berkembang sangat cepat, tak semata heliografi lagi, karena cahaya apa pun kemudian bisa dipakai, bukan hanya cahaya matahari. Penemuan cahaya buatan dalam bentuk lampu kilat pun menjadi aliran tersendiri dalam fotografi.

Cahaya yang dinamai sinar-X kemudian membuat fotografi menjadi berguna dalam bidang kedokteran. Pada 1901, seorang peneliti Conrad Rontgen menemukan pemanfaatan sinar-X untuk pemotretan tembus pandang. Temuannya ini lalu mendapat Hadiah Nobel, dan peralatan yang dipakainya dinamai rontgen.

Cahaya buatan manusia dalam bentuk lampu sorot maupun lampu kilat (blits) kemudian juga menggiring fotografi ke beberapa ranah lain. Pada 1940, Dr Harold Edgerton dibantu Gjon Mili, menemukan lampu yang mampu berkelip berkali-kali dalam hitungan sepersekian detik.
Lampu itu disebut strobo dan berguna untuk mengamati gerakan yang cepat. Foto atlet loncat indah yang sedang bersalto, misalnya, bisa difoto dengan strobo hingga menghasilkan rangkaian gambar pada sebuah bingkai gambar saja.

Demikian pula penemuan film inframerah yang membantu berbagai penelitian. Kabut yang awalnya tak tembus cahaya biasa, bisa tembus dengan sinar inframerah. Tidak mengherankan jika fotografi inframerah in banyak dipakai untuk pemotretan udara ke daerah-daerah yang banyak tertutup kabut.

Kemajuan Pesat

Kemajuan teknologi memang memacu fotografi dengan sangat cepat. Jika dulu kamera berukuran sebesar mesin jahit hanya bisa menghasilkan gambar yang tak terlalu tajam, kini kamera digital yang hanya berukuran sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam seukuran koran.

Temuan teknologi makin maju, sejalan dengan masuknya fotografi ke dunia jurnalistik. Karena belum bisa membawa foto ke dalam proses cetak, surat kabar mula-mula menyalin foto ke dalam gambar tangan. Dan surat kabar pertama yang memuat gambar sebagai berita adalah The Daily Graphic pada 16 April 1877. Gambar berita pertama dalam surat kabar itu adalah sebuah peristiwa kebakaran.

Pada tahun 1880, ditemukan proses cetak half tone, yang memungkinkan foto dibawa ke dalam surat kabar. Foto pertama yang ditayangkan adalah foto tambang pengeboran minyak Shantytown karya Henry J Newton, dan dimuat surat kabar New York Daily Graphic Amerika Serikat, pada 4 Maret 1880.

Banyak cabang kemajuan fotografi yang terjadi, tetapi banyak yang mati di tengah jalan. Foto Polaroid yang ditemukan Edwin Land, umpamanya, pasti sudah tak dilirik orang lagi karena kini foto digital juga sudah nyaris dapat langsung jadi. Juga, temuan seperti format film APSS (tahun 1996) yang langsung mati suri, karena teknologi digital langsung masuk menggeser semuanya.

Namun bagaimanapun juga, fotografi adalah bagian penting dari kebudayaan manusia.

B. Kronologi Sejarah Fotografi

Fotografi adalah dunia yang dinamis berdimensi luas. Pengetahuan bahwa citra dapat terbentuk pada sebuah permukaan dalam sebuah ruang gelap (camera obscura) diperkirakan berasal dari Cina Kuno yang kemudian berkembang hingga tak terbatas kini.

Tahun 1000, Al-Hazen, menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil.

Sekitar 400 tahun kemudian, Leonardo da Vinci, juga menulis mengenai fenomena yang sama.

Tahun 1558, Battista Delta Porta, diklaim sebagai penemu prinsip kerja kamera melalui bukunya tentang camera obscura. Karyanya itu kemungkinan didasari pada penemuan-penemuan da Vinci.

Awal abad 17, ilmuwan Italia, Angelo Sala, membuktikan bila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam. Dengan komponen kimia tersebut, ia berhasil merekam gambar-gambar, walau tak bertahan lama. Masalah yang belum bisa diatasinya adalah cara menghentikan proses kimia setelah gambar terekam, agar gambar-gambar menjadi permanen.

Tahun 1727, Johann Heinrich Schuize, profesor farmasi dari Universitas di Jerman, juga menemukan hal serupa pada percobaan yang tak berhubungan dengan fotografi. Ia memastikan bahwa komponen perak nitrat menjadi hitam karena cahaya, dan bukan oleh panas.

Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, berkebangsaan Inggris, bereksperimen merekam gambar positif dari citra yang telah melewati camera obscura (sekarang disebut kamera), tapi hasilnya masih sangat mengecewakan. Lalu ia berkonsentrasi seperti yang dilakukan Schuize, dengan membuat gambar-gambar negatif (sekarang dikenal dengan fotogram) pada kulit atau kertas putih yang telah disaputi komponen perak. Ia menggunakan cahaya matahari sebagai penyinaran.

Tahun 1824, setelah melalui berbagai proses penyempurnaan oleh banyak alhi berbagai bidang di berbagai Negara, akhirnya Joseph Nieephore Niepee, seorang lithograf Perancis berhasil membuat gambar permanen pertama yang dapat disebut “foto” (tidak menggunakan kamera). Ia melalukannya melalui proses heliogravure (proses kerja yang mirip lithograf) dengan menggunakan sejenis aspal (bitumen of judea) sebagai bahan kimia dasarnya.

Agustus 1827, Niepee berjumpa dengan Louis Daguerre, pria Perancis pelulis yang ahli dalam banyak ketetrampilan. Mereka bekerjasama untuk menghasilkan foto melalui penggunaan kamera.

Tahun 1829, Niepee secara resmi bekerjasama dengan Daguerre, namun Niepee meninggal dunia pada 1833.

7 Januari 1839, Daguerre mengumumkan hasil penelitiannya kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis. Hasil kerja berupa foto-foto permanen itu disebut Daguerretype, yang tak dapat diperbanyak (reprint/repro). Saat itu Daguerre telah memiliki foto studio komersil. Daguerretype tertua yang masih ada hingga kini, diciptakannya tahun 1837.

25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot, ilmuwan Inggris, memaparkan hasil penemuannya berupa proses fotografi modern kepada Institut Kerajaan Inggris. Berbeda dengan Daguerre, ia menemukan sistem negatif-positif di atas kertas, yang berbahan dasar perak nitrat. Walau telah menggunakan kamera, sistem itu masih sederhana.

Juni 1840, Talbot memperkenalkan Calotype, perbaikan dari sistem sebelumnya, juga menghasilkan negatif di atas kertas.

Oktober 1847, Abel Niepee de St Victor, keponakan Niepee, memperkenalkan pengunaan kaca sebagai base negatif menggantikan kertas.

Januari 1850, seorang ahli kimia Inggris, Robert Bingham, memperkenalkan penggunaan collodion sebagai emulsi foto, yang saat itu cukup populer dengan sebutan Wet-Plate Fotografi. Setelah berbagai perkembangan dan penyempurnaan, penggunaan roll film pun mulai dikenal.

Juni 1888, George Eastman asal Amerika, menciptakan revolusi fotografi dunia hasil penelitiannya sejak 1877. Ia menjual produk baru dengan merek KODAK, berupa sebuah kamera box kecil dan ringan, yang telah berisi roll film (dengan bahan kimia perak bromida) untuk 100 exposure. Pproduk baru itu memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa karena ukurannya yang relative kecil.

Hingga kini, teknologi fotografi terus mengalami perkembangan, dan berevolusi menjadi film-film digital mutakhir tanpa menggunakan roll film.

Bab II

A. Apa itu Foto?

Bagi kebanyakan orang, pertanyaan “Apa itu foto?” mungkin dianggap sepele dan tak perlu dipersoalkan lagi. Bahkan ketika diajukan kepada para peminat fotografi, jawaban yang biasanya mengemuka adalah definisi yang diberikan oleh kamus. Yaitu gambar yang dihasilkan dengan menangkap cahaya pada medium  yang telah dilapisi bahan kimia peka cahaya atau sensor digital (kombinasi dari kata “photo” yang berarti cahaya, dan “graph” yang berarti catatan, tulisan, atau lukisan). Tak banyak yang sadar bahwa di balik kesederhanaan artefak yang bernama foto, tersimpan kerumitan yang membuat definisi foto tidak sesederhana yang dibayangkan.

Pada level wujud, foto memang sebuah gambar, sebuah penyerupaan yang dihasilkan lewat proses yang dinamakan fotografi. Namun pada definisi paling dasar ini pun, tersimpan persoalan. Ada banyak jenis gambar yang dapat digolongkan sebagai foto. Pada abad ke-19, ada daguerrotype, heliotype, cetak albumen, cetak gelatin perak, photogravure, dan lukisan fotogenik. Di abad ke-20, ada polaroid, pindai elektronik (electronic scanner), foto digital, dan sebagainya.

Perbedaan-perbedaan wujud seperti itu mengingatkan kita akan kerumitan yang inheren pada sifat foto itu sendiri: Definisi foto sebagai objek selalu terkait dengan (dan bergantung pada) konteks sejarah, konteks sosial, konteks budaya, dan konteks teknologi. Dengan kata lain, konteks-konteks itulah yang sebenarnya menjadi salah satu penentu definisi, makna, dan nilai foto.

Kerumitan definisi foto tidak hanya terjadi pada level wujud. Secara fungsional, definisi, makna, dan nilai foto terus mengalami perubahan sejalan dengan transformasi dan metamorfosis wujudnya. Dari segi warna, foto hitam putih dan foto warna adalah dua hal yang berbeda. Dari segi ukuran dan bentuk, foto besar dan foto kecil, foto persegi dan foto persegi panjang atau bulat juga berbeda.

Kualitas pencetakan (mengilat atau dof, dicetak di atas kertas tipis atau tebal), media yang digunakan (analog atau digital), cara penyimpanan dan penyajian (dalam dompet, album, bingkai, atau media penyimpanan dan penyajian digital), dan tujuan penggunaan (untuk kartu tanda pengenal diri, koran, majalah, atau pameran di galeri) juga mengubah dan memengaruhi pemahaman kita terhadap nilai dan status foto sebagai objek. Foto KTP yang berfungsi sebagai penanda jatidiri, misalnya, boleh jadi berubah status dan mendapat tanggapan yang berbeda jika dipajang di galeri dan dinyatakan sebagai spesimen praktik fotografi yang khas.

Kerumitan definisi foto tidak hanya melibatkan wujud dan fungsinya, namun juga pada genre-genre yang dilabelkan kepadanya. Pengategorian foto ke dalam genre-genre yang berbeda merupakan upaya mengodifikasi referensi dan status foto menggunakan asumsi-asumsi yang dikonstruksi. Label genre foto seni, misalnya, melibatkan asumsi-asumsi yang berbeda dengan asumsi-asumsi yang disandang oleh foto dokumentasi. Akibat pengategorian dan konstruksi asumsi-asumsi yang dipakai untuk pengategorian itu, foto yang fungsional seperti foto dokumentasi, seringkali dianggap kurang bernilai dibanding foto yang kurang atau tidak fungsional, seperti foto seni.

Proses pengategorian foto menggunakan asumsi-asumsi yang dikonstruksi ini telah terjadi sejak masa-masa awal perkembangan fotografi. The Photographic Society, yang didirikan di London pada 1853 dan kemudian berubah nama menjadi The Royal Photographic Society, misalnya, didirikan dengan tujuan untuk menjadikan praktik fotografi sebagai bagian dari tradisi akademik seni rupa. Karena ketiadaan referensi yang dapat dijadikan sebagai landasan untuk menyusun hirarki dan melakukan pengategorian genre foto pada waktu itu, maka dipakailah asumsi-asumsi dari sumber seni visual terdekat, yaitu seni lukis.

Akibatnya, praktik fotografi terus dibayang-bayangi oleh “hantu seni lukis”, dan fotografi sebagai cabang seni pun tak memiliki tradisi akademik yang mandiri. Keberadaannya sebagai salah satu cabang praktik seni selalu dikaitkan dengan -dan didasarkan pada- tradisi akademik seni lukis. Oleh karena itu, kita tak perlu heran bila praktik, apresiasi, dan kritik fotografi hingga saat ini masih terus menggunakan paradigma-paradigma seni lukis itu.

Jadi, apa itu foto? Jawaban atas pertanyaan ini akan terus bergulir dan menjadi perdebatan.

Bibliografi

Clarke, Graham. The Photograph. (Oxford: Oxford University Press, 1997)

Newhall, Beaumont. The History of Photography (5th Edition). (New York: Museum of Modern Art, 2005)

Wells, Liz (Ed.). Photography: A Critical Introduction (3rd Edition). (London and New York: Routhledge, 2004)

B. Apakah Fotografi itu Seni?

Apakah fotografi sebuah seni? Apa ciri khas yang bisa membuatnya bisa dikatakan sebagai suatu cabang ekspresi seni? Demikian kira-kira gugatan yang masih terus berlanjut di kalangan pelaku fotografi dan seni. Jawaban atas pertanyaan itu bisa positif atau negatif, ya atau tidak.

Fotografi memang memiliki aspek teknologi dan estetika. Sebagai teknologi, fotografi pada awalnya diciptakan sebagai alat rekam. Kamera berikut perlengkapan yang memungkinkannya merekam citra (image) adalah aspek perangkat keras (hardware) teknologi fotografi. Sedangkan pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakan perangkat tersebut untuk menghasilkan citra adalah aspek perangkat lunaknya (software).

Penguasaan aspek teknologi saja tidak serta merta membuat orang menjadi seniman foto. Banyak orang mempunyai kamera dan pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakannya dengan baik, namun karena cara dan tujuan penggunaan teknologi tersebut, mereka tak dapat dikatakan sebagai seniman foto. Seorang ibu yang menggunakan kamera untuk merekam momen-momen penting dalam kehidupan keluarganya, atau para peneliti yang menggunakan kamera untuk mendokumentasikan objek penelitiannya, tak dapat dikatakan sebagai seorang seniman foto. Meski mungkin foto-foto yang dihasilkannya secara teknis sempurna dan boleh jadi memiliki nilai estetika yang cukup tinggi.

Demikian pula dengan seorang wartawan foto yang mengabadikan momen-momen penting sejarah. Meski karya-karya fotonya tergolong istimewa dari segi teknis dan muatan cerita karya-karya itupun tak dapat secara serapah dianggap karya seni, walau ia mempunyai nilai komersial tinggi, dikoleksi oleh museum atau dipamerkan di galeri-galeri terkemuka.

Seni tidak dapat dinilai dari aspek teknis dan komersialnya saja. Ada aspek yang lebih esensial yang membuat suatu karya bisa digolongkan sebagai suatu ekspresi seni, yaitu aspek kreatif eksploratif estetik. Dalam urutan ini, aspek estetik dicapai bukan semata karena kelihaian dalam memanfaatkan teknologi, namun yang lebih penting karena adanya kesengajaan dan keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru, lahir dari perenungan gagasan yang bersifat eksploratif. Dengan kata lain, perenungan eksploratif melahirkan gagasan untuk mencipta. Gagasan ini kemudian dicarikan bentuknya dengan memanfaatkan teknologi.

Jika teknologi yang ada belum memungkinkan untuk memberi bentuk ekspresi bagi gagasan yang dimiliki seorang seniman, maka seniman itu mungkin akan berusaha menggabungkan beberapa teknologi yang ada, atau memanfaatkan teknologi yang ada secara kreatif, atau bekerjasama dengan engineers menciptakan teknologi baru untuk mewujudkan gagasannya itu. Jadi, aspek teknologi atau kesempurnaan teknis, dalam hal ini tidak menjadi unsur utama, tapi hanya pendukung atau alat berkreasi. Ilustrasi berikut mungkin bisa sedikit menjelaskan mengenai hal ini:

Alif dan Baba sama-sama pencinta fotografi. Kedua-duanya menguasai dan lihai menggunakan teknologi inframerah untuk menghasilkan foto-foto yang indah. Jika aspek teknologi dan estetika saja yang digunakan, bisa jadi kita menggolongkan mereka sebagai seniman foto. Namun ada satu hal yang membedakan Alif dan Bana. Alif menggunakan teknologi inframerah untuk memberikan bentuk bagi gagasan kreatif-eksploratif yang dimilikinya. Karya-karya fotonya selalu mengandung ungkapan-ungkapan estetik yang kreatif dan “mengejutkan” (mungkin dengan pilihan subjek, sudut pengambilan, atau eksplorasi ide). Oleh karena itu, karya-karyanya mempunyai ciri khas yang menjadi signature kesenimanannya.

Baba juga menggunakan teknologi inframerah. Namun ia memanfaatkan teknologi ini bukan untuk memberi bentuk bagi gagasan-gagasan eksploratif kreatifnya, tapi sekedar karena curiosity (rasa ingin tahu/mencoba) kehebatan teknologi ini. Subjek dan sudut pengambilan yang dipilihnya boleh jadi sekedar meniru atau menjiplak dari orang-orang sekelas Alif. Tidak ada unsur kejutan kreatif yang secara konsisten melahirkan ciri khas yang bisa menjadi signature bagi karya-karya yang dihasilkannya. Dalam contoh ini, Alif dapat kita golongkan sebagai seniman foto, sedangkan Baba barangkali lebih tepat disebut sebagai tukang foto atau fotografer.

Memang contoh di atas bisa menimbulkan perdebatan. Di dunia kini, ketika segala sesuatu bisa diproduksi secara massal (mass-produced culture), sesuatu yang hari ini dianggap sebagai suatu bentuk ekspresi adikreasi estetik, besok boleh jadi sudah banyak ditemukan tiruan atau simulakrumnya. Karena fenomena inilah, apa yang sempurna secara teknis/teknolgis dan memiliki nilai estetika yang menyenangkan indera namun bersifat (dan diproduksi secara) massal, umumnya digolongkan ke dalam seni populer (pop arts). Sementara itu, ekspresi seni yang memunyai nilai orisinalitas yang tinggi dari segi gagasan ekploratif kreatif, biasanya digolongkan ke dalam arts (“Seni” dengan S besar).

Seni (dengan S besar) seringkali menjadi sumber inspirasi bagi seni (dengan s kecil) yang sifatnya lebih merakyat aatau populer. Suatu karya foto bisa masuk ke dalam Seni (dengan S besar) atau seni (dengan s kecil). Namun tergantung pada aspek apakah karya itu memiliki nilai kreatif eksploratif yang khas dan orisinil dari segi gagasan yang melandasinya, atau hanya sekedar tiruan atau simulakrum dari gagasan-gagasan inspiratif yang lahir dari proses perenungan kreatif para maestro.

C. Bebaskan Belenggu Karya Fotografi

Menghasilkan karya foto yang indah rasanya sudah menjadi suatu hasrat yang umum di kalangan pelaku seni fotografi. Bahkan seringkali menjadi obsesi bagi sebagian mereka. Dalam upaya itu, digelarlah puluhan lomba foto dengan intensitas dan frekuensi tinggi. Mulai dari lomba foto tingkat klub, sampai lomba bergengsi. Membajirlah ratusan, bahkan ribuan foto-foto juara yang telah diapresiasi dan dinilai sebagai foto yang “bagus”, “indah”, “eksotis”, “unik”, dan beribu penghargaan lainnya.

Yang menjadi pertanyaan: Bagaimana membuat sebuah foto yang indah? Apakah sebuah foto yang “indah” adalah foto dalam definisi keindahan eksplisit (bentuk, warna, komposisi, gelap-terang, pola) semata? Namun, bukankah keindahan adalah sesuatu yang sangat subyektif dan pribadi sifatnya?

Dan bagaimana mungkin seperangkat aturan standar dan general bisa menangkap seluruh dimensi perasaan banyak manusia lain?

Foto yang indah sebenarnya tidak selalu foto yang benar secara teknis. Karena keindahan membutuhkan “rasa”, esensi kesadaran paling mendalam dari si pelaku seni yang mengalir melalui hasrat dan panca inderanya, yang akhirnya mewujud dalam karya seni. Layaknya sebuah lukisan yang merupakan cermin jiwa si pelukis.

Dan “rasa” sangatlah subyektif. Karena ia terbentuk pada tataran alam bawah sadar hasil pengalaman-pengalaman empirik individu dalam berinteraksi dengan sesama manusia, budaya, dan alam sekitar. Indah menurut kita, belum tentu indah menurut orang lain.

Dalam sesi penjurian foto misalnya. Sesudah terpenuhinya aspek teknikal fotografi, seringkali sebuah karya foto dinilai 9 (“istimewa”), namun pada saat juri lain menilainya 1 (“sangat buruk”). Itu terjadi bukan karena masalah format/teknis. Tapi lebih karena “rasa” yang tidak selalu selaras antara seorang juri dengan juri lainnya.

Karena itu, jika karya foto hendak ditempatkan dan ingin diapresiasi sebagai sebuah karya seni, maka seyogianya ia harus diperlakukan sebagaimana kita mengapresiasi karya seni lainnya seperti seni lukis, seni patung, seni batik, seni sastra/puisi, dan lain-lain.

Rasanya hampir tak pernah kita dengar ada lomba lukis, kecuali untuk anak-anak. Hampir tak ada lomba seni patung, kecuali untuk pembuatan monumen yang spesifikasi wujudnya sudah jelas. Atau hampir tak ada lomba lukis batik, kecuali dalam program promosi museum yang kian sepi. Pada kenyataannya, para pelaku seni terus berkreasi dan berekspresi melalui medianyadan gayanya masing-masing, untuk mengkspresikan “rasa” individu masing-masing.

Everybody is unique. Karenanya, mencoba menilai sederetan karya seni dengan suatu kriteria teoritis, format maupun teknis baku, sama artinya dengan melakukan standarisasi impresi. Suatu tindakan yang justru bertentangan dengan spirit berkesenian yang membebaskan. Sungguh sangat tak patut memaksa pelaku seni untuk mengorbankan “rasa” demi mengikuti selera orang lain.

Bab III

Beberapa Singkatan dan Istilah dalam Fotografi

APS: Advanced Photo System.

DIL: Drop in Loading.

CID: Cartridge Identification Number.

FID: Film Strip Identification Number.

USC: Uniform Sigma Crystal/kristal sigma seragam.

Kristal Sigma: Butir-butir perak halida.

AFS: Auto Focus Silent Wave Motor.

AFD: Auto Focus Distance Information.

DIR: Development Inhibitor Releaser.

SPD: Silicon Photo Diode.

LCD: Liquid Crystal Display.

LED: Light Emitting Diode, lampu.

ISO/ASA: Derajat sensitivitas film.

ISO: International Standart Organization.

ASA: American Standart Association.

DIN: Deutsche Industry Norm.

NiMH: Nikel Metal Hydride.

NiCd: Nikel Cadmium.

DRAM: Data Random Acces Memory.

RISC: Reduce Intruction Set Computer.

CCD: Charge Couple Device (pada kamera digital).

CPL: Circular Polarizing.

USM: Ultrasonic motor.

ESP: Elektro-Selective Pattern (Sistem pengkuran cahaya otomatik, di saat kondisi kesenjangan kecerahannya sangat besar).

SLR: Single Lens Reflek; Kamera lensa tunggal yang menggunakan cermin dan prisma.

TLR: Twin Lens Refleks; Kamera yang menggunakan dua lensa, satu untuk melihat, lainnya utnuk meneruskan cahaya ke film.

Lens Mount: Dudukan lensa.

MF: Manual Fokus.

AF: Auto Fokus.

Fps: Frame per Second; Satuan kecepatan pengambilan gambar dalam gambar perdetik.

DOF: Depth of Field; Ruang tajam, merupakan jarak, dimana gambar masih terlihat tajam/focus, beragntung pada: difragma, panjang lensa dan jarak objek

GN: Guide Number; Kekuatan cahaya blitz merupakan perkalian antara jarak (dalam meter atau feet) dan diafragma.

AR Range: Tingkat terang cahaya dimana system aotufocus masih dapat bekerja, dalam satuan EV.

EV: Exposure Value; Kekuatan cahaya. Sample, EV=0 kekuatan cahaya pada difragma f/1,0 kecepatan 1 detik.

Exposure Mode: Modus pencahayaan, pada umumnya ada 4 tipe: Manual, Aperture priority, Shutter priority dan Programed (auto).

Aperture: Diafragma.

Lens Hood: Tudung lensa.

Aperture Priority: Prioritas pengaturan pada diafragma, kecepatan rana otomatis.

Shutter: Rana.

Shutter Priority: Prioritas pengaturan pada kecepatan rana, diafragma otomatis.

Exposure Compensation: Kompensasi pencahayaan, membuat alternatif pencahayaan dari normal menjadi lebih atau kurang.

Flash Exposure Compensation: Kompensasi pencahayaan blitzt.

Metering: Pola pengaturan cahaya, biasanya terbagi dalam 3 kategori: centerweighted, evaluative/matrix, dan spot.

Center Weighted Metering: Pengukuran pencahayaan pada 60% daerah tengah gambar.

Evaluative/Matrix: Pengukuran pencahayaan berdasarkan segmen-segmen dan presentase tertentu.

Spot: Pengukuran pencahayaan hanya pada titik tertentu.

View Finder: Jendela bidik.

Built in Dioptri: Dilengkapi dengan pengatur dioptri (lensa+ atau – bagi mereka yang berkacamata).

Eye Piece Blind: Tirai penutup jendela bidik.

Interchangeable Focusing Screen: Fasilitas untuk dapat mengganti focusing screen.

Focusing Screen: Layar fokus.

Bracheting: Pengambilan gambar yang sama menggunakan pengukuran pencahayaan yang berbeda.

Flash Sync: Sinkron kilat, kecepatan maksimum agar body dan flash masih bekerja harmonis.

TTL: Through The Lens, Sistem pengukuran pencahayaan melalui lensa.

Remote Flash: Melepaskan lampu kilat dari badan kameranya dan meletakkannya si duatu tempat untuk mendapatkan efek foto yang diinginkan.

Bounce: Cahaya lampu kilat yang di pantulkan ke langit-langit atau bidang lain sehingga cahaya menerangi objek secara merata.

Slave Unit: (Lampu kilat + mata listrik/elctric eye); adalah alat abntu yang sanggup menyalakan lampu kilat bila mata itu menerima sinar dari lampu kilat lain.

Wireless TTL: Sistem pengukuran TTL tanpa melalui kabel.

Multiple Exposure: Fasilitas pemotretan berulang pada fram eyang sama.

Pupup Flash: Blitz kecil, terbuat menyatu dengan body.

Stop: Satuan pencahayaan, 1 stop sama dengan 1 EV.

Red Eye Reduction: Fasilitas untuk mengurangi efek mata merah yang biasa terjadi pada pemotretan menggunakan blitz pada malam hari.

PC Terminal: Terminal untuk blitz di luar hot shoe.

Hot Shoe: Kaki blitz.

Mirror Lock up: Pengunci cermin, agar getaran dapat dikurangi pada saat rana bergerak.

Shiftable Program: Pada mode program, exposure setting dapat diubah secara otomatis dalam EV yang sama, misalnya dari 1/125 menjadi 1/250 detik, f 5.6 dmenjadi f 11.

Second Curtain Sync: Fasilitas untuk menyalakan blitz sesaat sebelum rana menutup.

Shutter Release: Pelepas rana.

Self Timer: Alat penangguh waktu pada kamera.

Vertical Grip: Alat pelepas rana utnuk pengambilan secra vertical tanpa harus memutar tangan.

Data Imprint: Fasilitas pencetakan data tanggal pada film.

Reloadable to Last Frame: fasilitas untuk mengembalikan film yang telah digulung di tengah ke posisi terakhir yang terpakai.

Fill In Flash: Blitz pengisi, dalam kondisi tidak memerlukan blitz, blitz tetap dinyalakan untuk menerangi bagian-bagian yang gelap seperti bayangan.

Intervalometer: Fasilitas epmotretan otomatis dalam jarak waktu yang tertentu.

Multispot: Pengukuran pencahayaan dari beberapa titik.

Back: Sisi belakang kamera, berfungis pula sebagai penutup film.

Bayonet: Sistem dudukan lensa yang hanya memerlukan putaran kurang dari 90 derajat untuk pergantian lensa

Bulk film: Film kapasitas 250 exposure

Wide lens: Lensa lebar, mempunya jarak titik bakar yang pendek, lebih pendek dari 50 biasanya:

· 16-22mm (lensa lebar super)

· 24-35mm (lensa lebar medium

· 6-15mm (lensa mata ikan)

Push: Meningkatkan kepekaan film dalam pemotretan, missal dari ISO 100-200/lebih

Pull: Kebalikan dari Push

Main Light: Cahaya pengisi/tambahan

Foto Wedding: Potraiture berpasangan (menciptakan rekaman gambar yang romantisme, baik dari posenya maupun dari suasananya

Foto wedding terbagi 2 yaitu:

· Neo Classic Potraiture, ialah bentuk visual foto berpasangan yang beraura romantis

· Classic wedding, ialah bentuk foto berpasangan yang harus menjadi kenangan

Blouwer: Kipas angin yang digunakan pada pemotretan model untuk menghasilkan efek angin

Reverse Ring: Digunakan untuk memasang lensa yang di balik, untuk membuat lensa makro alternatif agar cahaya yang masuk tidak bocor

Golden Section: Potongan kencana; Hukum komposisi yang mengatakan bahwa keselarasan akan tercapai kalau suatu bidang adalah kesatuan dari 2 bidang yang saling berhubungan

Komposisi: susunan garis, bidang, nada, kontras dan tekstur dalam suatu format tertentu

Siluet: Teknik pencahayaan untuk menampilkan bentuk objek tanpa menunjukkan detilnya

Framing: Pembingkaian objek untuk memberi kesan mendalam/ dimensi objek foto

Panning: Teknik pengambilan gambar dengan kesan gerak (berubahnya latar belakang menjaid garis-garis sementara objek utama terekam jelas

Sandwich: Teknik menggabungkan foto

Cross Process: Proses silang, biasanya di lakukan pada film positiv (E6) ke film negatif (C 41), sehingga menimbulkan warna- warna baru pada foto

Esai Foto: (Biar foto yang bicara):), merangkai foto menjadi cerita bertema

BAB IV

Foto Jurnalistik

A. Kriteria Penilaian Foto Jurnalistik

Foto jurnalistik yang baik tidak hanya sekedar fokus secara teknis,
namun juga fokus secara cerita. Fokus dengan teknis adalah gambar
mengandung tajam dan kekaburan yang beralasan. Ini dalam artian
memenuhi syarat secara teknis fotografi. Fokus secara cerita, kesan,
pesan dan misi yang akan disampaikan kepada pembaca mudah dimengerti
dan dipahami.

Kelompok kerja PWI bidang Foto Jurnalistik pernah membuat suatu rumusan
untuk menilai sebuah foto jurnalistik yang dilihat dari kuat
lemahnya sosok penampilan foto berita ialah:

1. Kehangatan/Aktual

Sesuai dengan prasyarat umumnya sebuah berita, subyeknya bukan
merupakan hal basi, sehingga betapapun suksesnya pengambilan sebuah
foto bila tidak secepatnya dipublikasikan, sebuah foto belumlah
memiliki nilai berita.

Contoh:

Photograph by Sugiharto, Surya Daily

Musibah Pacuan Kuda
Petugas official pacuan kuda di pertarungan kelas E 1.200 meter Piala
Wakil Gubernur Jatim, tertabrak kuda di arena pacuan yang berlangsung
di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (27/1). Korban selamat
meski sempat pingsan karena kerasnya sepakan kaki kuda yang menghantam
tubuhnya. Surya/Habibur Rohman


2. Faktual

Subyek foto tidak dibuat-buat atau dalam pengertian diatur sedemikian
rupa. Rekaman peristiwa terjadi spontan sesuai dengan kenyataan yang
sesungguhnya, karena ini berkaitan dengan suatu kejujuran.

3. Informatif

Foto mampu tampil dan dalam lebatan yang dapat ditangkap apa yang ingin
diceritakan di situ, tanpa harus dibebani oleh sekeranjang kata.
Pengertian informatif bagi tiap foto perlu ukuran khas. Sedikit berbeda
dengan sebuah penulisan yang menuntut unsur 5W + 1H dalam suatu paket
yang kompak, maka dalam sebuah foto jurnalistik minimal unsur who
(siapa), why (mengapa) jika itu menyangkut tokoh dalam sebuah
peristiwa. Dan keterangan selanjutnya untuk melengkapi unsur 5W + 1H
(sebagai pelengkap informasi) ditulis pada keterangan foto (caption).

4. Misi
Sasaran esensial yang ingin dicapai oleh penyajian foto berita dalam
penerbitan, mengandung misi kemanusian – merangsang publik untuk
menghargai apa yang patut dihargai atau sebaliknya menggugah kesadaran
mereka untuk memperbaiki apa yang dianggap kurang baik.

5. Gema

Gema adalah sejauh mana topik berita berita menjadi pengetahuan umum,
dan punya pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari dalam skala tertentu.
Apakah satu peristiwa atau kejadian cuma bersifat lokal, nasional.
regional atau internasional.

6. Aktraktif
Menyangkut sosok grafis foto itu sendiri yang mampu tampil secara
mengigit atau mencekam, baik karena komposisi garis atau warna yang
begitu terampil maupun ekspresif dari subyek utamanya yang amat
dramatis.

(Sumber Kreteria Penilain lomba foto Kelompok kerja PWI bidang Foto Jurnalistik)

  1. Sore Pak Ahmad Taufiq, saya Silvia mahasiswi DKV di Surabaya. Kebetulan saya tertarik untuk menggunakan beberapa teori yang bapak ungkapkan di modul pengantar fotografi ini untuk mendukung latar belakang masalah tugas saya. Kalau tidak berkeberatan apa saya bisa tahu dimana modul pengantar kuliah ini digunakan dan apakah bapak mengajar fotorafi? terimakasih sebelumnya pak.

    Silvia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: