vivixtopz

Zionisme, Analisis Sejarah dan Perkembangannya

Oleh: Ahmad Taufiq Abdurrahman

A. PENDAHULUAN

Zionisme adalah sebuah gerakan kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion[i], bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul di abad ke-19 ini ingin mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah yang kala itu dikuasai Kekaisaran Ottoman (Khilâfah Utsmaniyah) Turki.

Zionisme merupakan gerakan Yahudi Internasional. Istilah zionis pertama kali dipakai oleh perintis kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937), dan gerakan ini diorganisasi oleh beberapa tokoh Yahudi antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weizmann. Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya “Der Judenstaat” (Negara Yahudi) (1896). Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel[ii] pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru ini.

Rapat Dewan Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379[iii] tanggal 10 Desember 1975, yang menyamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi pada 16 Desember 1991, resolusi tersebut dicabut kembali.

Sejalan dengan berdirinya Israel dan kian membahayakannya keberadaan mereka terhadap kedamaian Timur Tengah, Pemerintah Inggris selaku pemegang mandat kuasa atas Palestina selepas merontokkan Turki Utsmani, mengeluarkan “Buku Putih” pada 1939 untuk memisahkan Israel dengan Palestina. Dari sinilah tragedi kemanusiaan mulai bergulir.

B. PEMBAHASAN

1. Sejarah Zionisme

Tidak ada perbincangan serius mengenai masalah Timur Tengah tanpa mengaitkannya dengan ideologi Zionisme. David Vital, profesor pada University of Tel Aviv dalam bukunya The Origins of Zionism (1975) menulis bahwa Zionisme modern (sering disebut juga Zionsime politik) pada mulanya merupakan impian seorang wartawan Theodore Herzl[iv] setelah menyaksikan pengadilan pengkhianatan Kapten Dreyfuss di mahkamah militer Paris. Zionisme modern lahir setelah Kongres Basel pada 29-31 Agustus 1897, seratus tahun yang lalu.

Sebelum lahirnya gerakan Zionisme modern, ide tentang Zion sudah cukup kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat Yahudi, khususnya kalangan Ashkhenazi (Yahudi Eropa). Di antara gerakan Zionis pra-Kongres Basel yang secara umum disebut sebagai proto-Zionisme, yang terpenting ialah Hovevei-Zion, Hibbat-Zion, dan Poalei-Zion.

Semua gerakan Zionisme tersebut sering juga dikenal sebagai gerakan “utopia”, dan baru setelah Kongres I di Basel, gerakan Zionisme menemukan jati dirinya sebagai gerakan politik yang mempunyai program jelas.

Semula Theodore Herzl ingin menggelar Kongres di Muenchen, Jerman. Namun ia mendapat tantangan keras dari kalangan pemuka agama Yahudi setempat dan kelompok pro asimilasionis yang khawatir Kongres Zionis dan kegiatan yang terkait dengannya hanya akan meningkatkan rasa kebencian masyarakat Jerman terhadap mereka. Oleh karenanya, Herzl terpaksa memindahkan tempat kongres di kota kecil Basel yang terletak di wilayah Swiss tapi masih berbatasan dengan Jerman. Kongres dibuka pada Ahad pagi tanggal 29 Agustus 1897 dengan mengambil tempat di gedung Kasino milik pemerintah kotapraja Basel.

Sungguh aneh sekalipun agama Yahudi mengharamkan perjudian, pelaksanaan kongres yang memperjuangkan kembalinya mereka ke tanah leluhur itu dilakukan di tempat judi. Ini bisa dimaklumi karena sebenarnya Theodore Herzl penggagas dan aktor utama kebangkitan Zionisme adalah seorang sekuler. Persiapan kongres dilakukan dengan matang dan rapi. Beberapa bulan sebelumnya Herzl sibuk melobi ke berbagai tokoh Yahudi di London, Paris, Polandia, Rusia, dan lain-lain tempat agar bisa mengirimkan wakilnya atau datang sendiri. Meski demikian, hanya sekelompok kecil yang berani ke Basel. Israel Zangwill, adalah sedikit dari intelektual terkemuka yang memberanikan diri hadir di kongres.

Kongres tersebut dihadiri antara 200 sampai 250 wanita dan pria yang datang dari 24 negara. Jumlah yang tampak tidak pasti ini karena beberapa delegasi khususnya yang datang dari Rusia meminta agar namanya tidak dicantumkan secara resmi. Dengan kata lain mereka datang secara ilegal. Beberapa delegasi tidak mau repot dengan mendaftar secara resmi karena mereka mungkin tidak menyadari sedang menghadiri kongres yang sangat bersejarah. Sebab, lima puluh tahun kemudian cita-cita mendirikan negara Israel berhasil diwujudkan dengan mengusir dan merampas tanah dari bangsa Palestina.

Pintarnya Herzl mengorganisasi Kongres I Zionis di Basel ini terlihat dari rapinya administrasi maupun agenda acara yang dibicarakan. Semua peserta yang hadir sebelum memasuki arena kongres sudah mendapatkan materi yang tercetak rapi. Masing-masing delegasi mendapatkan badge yang dirancang oleh Bodenheimer. Badge ini merupakan lingkaran biru dengan garis tepi merah dengan lambang singa dan bintang david sebanyak 12 buah. Di tengah-tengahnya terdapat kata-kata: “Berdirinya negara Yahudi merupakan satu-satunya jawaban yang masuk akal bagi penyelesaian masalah Yahudi”.

Sebagai wartawan profesional yang bekerja untuk koran Neue Freie Presse, Herzl mengerti benar pentingnya media massa dalam menyebarkan ide-idenya. Jauh sebelum orang menyadari pentingnya PR (public relations), Herzl sudah mengetahui pentingnya memanfaatkan media untuk kepentingannya. Koran Die Welt yang saat itu tirasnya cukup besar mendapat layanan khusus. Sebagai imbalannya, koran ini pun memuat edisi khusus Kongres I Zionis tersebut. Publikasi mengenai kongres juga terdapat pada koran-koran Eropa lainnya, seperti The Times of London, The Daily News, The Daily Mail, The Spectator, dan Pall Mall Gazette di Inggris. Koran Jerman yang memberitakan secara besar-besaran ialah Frankfurter Zeitung, Kolnische Zeitung. Koran-koran besar di sejumlah negara lain juga memuat berita kongres itu, misalnya di Hongaria, Rusia, Polandia, Swiss, Amerika Serikat, dan Prancis. Dengan demikian dari segi propaganda dan perebutan opini publik, Herzl sukses besar.

Kongres yang berlangsung selama tiga hari itu bisa berlangsung mulus karena sejumlah masalah pokok sudah diselesaikan dalam pertemuan pra-kongres yang berlangsung selama dua hari. Dalam pertemuan khusus ini berhasil ditunjuk 7 orang komite pelaksana yang diketuai Max Nordau. Mereka bertanggung jawab atas lancarnya sidang-sidang yang dilaksanakan. Meski demikian Herzl semula sempat ragu bahwa ia akan mampu menggelar kongres dengan baik.

Untuk memberi kesan bahwa kongres bukan dihadiri oleh orang-orang “gembel” saja, Herzl meminta semua delegasi yang akan memasuki ruang sidang memakai baju resmi, yakni jas panjang dan dasi putih. Ketika Nordau sebagai ketua pengarah sidang muncul di arena kongres hanya dengan mengenakan jaket biasa, Herzl memaksanya balik ke hotel dan mengganti dengan setelan resmi itu. Nordau berhasil dirayu Herzl agar ganti pakaian dan ia kemudian dipeluk pendiri Zionis itu dengan hangat. Seperti yang diharapkan Herzl, kongres berjalan lancar dan khususnya acara pembukaan berlangsung khidmat.

Konon, para peserta banyak yang mencucurkan air mata. Mereka terharu, untuk pertama kalinya warga Yahudi yang terserak-serak di berbagai negara dan berbeda bahasa bisa berkumpul dengan tujuan yang sama: memperjuangkan berdirinya Israel. Meski masih banyak yang sangsi akan mampu mendirikan negara khusus bagi bangsa Yahudi, tetapi langkah positif sudah mereka laksanakan yakni dengan menyatukan tekad dalam cita-cita yang sama.

a. Konspirasi Zionisme

Jika kita mendikusikan masalah Israel dan Zionisme dengan orang Arab atau mereka yang kurang dalam pemahamannya soal Timur Tengah, akan sangat mudah sekali kita terjebak ke dalam teori konspirasi. Banyak dikesankan bahwa Zionisme merupakan konspirasi kaum kolonial untuk melemahkan dunia Arab atau Islam. Tidak pernah dikaji secara mendalam bahwa gerakan Zionisme sukses karena kerja keras para pendukungnya ditambah dengan lemahnya atau cerai berainya bangsa Arab sendiri.

Hal ini bisa dilihat dari daftar siapa yang hadir dalam Kongres I di Basel tersebut. Dari 200 sampai 250 peserta yang hadir, hanya 162 orang yang berani mendaftarkan kehadirannya secara terbuka. Di antara mereka ini, selain Theodore Herzl maka yang mempunyai reputasi internasional hanyalah Israel Zangwill (intelektual Inggris) dan profesor Herman Schapira, pakar matematika dari Universitas Heidelberg, Jerman. Secara umum para delegasi Kongres I adalah kaum kelas menengah Yahudi, seperempat di antaranya kaum pengusaha, industriawan, dan keuangan. Kelompok terbesar ialah sastrawan, mahasiswa, dan kaum profesional seperti pengacara, wartawan, dokter, dan sebagainya. Juga terdapat 11 orang rabbi, seorang penjaga sinagog, seorang petani, seorang pemahat, dua orang ahli stenografi, dan seorang tukang cetak.

Mayoritas dari hadirin ialah kaum modernis dan liberal dalam pandangan agamanya. Ini untuk membedakan dari kelompok Orthodoks yang saat ini mendominasi kehidupan politik Israel. Bahkan, ada pula Yahudi yang ragu-ragu dalam kepercayaannya kepada Tuhan (agnostic). Bisa dikatakan hampir tidak ada kelompok ekstremis seperti kaum messianik karena mereka percaya bahwa kembalinya bangsa Yahudi dengan cara politik merupakan pengingkaran terhadap hukum Tuhan. Bangsa Yahudi, kata mereka, hanya akan kembali ke tanah suci dengan mukjizat.

Dari asal negara, sebagian besar dari Eropa Timur, terutama Rusia, Rumania, Serbia, Bulgaria, Austria, Polandia, Lithuania, dan Latvia. Beberapa kelompok datang dari Eropa Barat, Prancis, Inggris, Swiss, Jerman, dan Amerika Serikat. Mungkin yang pantas dicatat ialah tidak tampak wakil Yahudi dari negara-negara Arab atau Islam yang dikenal sebagai kaum Sephardim. Dengan demikian, sebenarnya Kongres I Zionis adalah Kongresnya Yahudi Ashkhenazi atau Yahudi Eropa.

Fakta ini menunjukkan bahwa “masalah Yahudi” (the Jewish question) adalah masalah Eropa. Bangsa Yahudi di dunia Arab atau Sephardim yang hidup berabad-abad lamanya dengan umat Islam tidak menghadapi masalah yang serius. Persoalan antara Yahudi dan Arab baru muncul justru setelah lahirnya Israel. Edward Said, intelektual Amerika terkemuka kelahiran Yerusalem mencatat bahwa di masa kecilnya sebelum adanya Israel, hubungan masyarakat Islam, Kristen, dan Yahudi di Palestina cukup baik. Memang sekali-kali muncul ketegangan tetapi masih dalam batas-batas yang wajar. Setelah gelombang Zionisme memasuki tanah Palestina dengan Deklarasi Balfour 1921, kerusuhan antara komunitas makin memuncak.

Setelah melalui perdebatan yang cukup seru, Kongres yang berlangsung selama tiga hari ini memutuskan empat pokok program kerja. Hal yang terpenting ialah disepakati bahwa Zionisme merupakan suatu gerakan yang bertujuan mendirikan “perumahan” bagi bangsa Yahudi di Palestina melalui jalan hukum. Untuk itu dirumuskan empat tujuan pokok sebagai berikut:

Pertama, memajukan tanah Palestina dengan hasil karya petani, seniman, dan pedagang Yahudi. Kedua, mengorganisasikan dan mempersatukan semua bangsa Yahudi dengan berbagai cara yang tepat sesuai dengan kondisi lokal dan sesuai dengan aturan umum yang berlaku di masing-masing negara. Ketiga, memperkuat rasa kebangsaan dan rasa kesadaran nasional Yahudi. Keempat, mempersiapkan berbagai tindakan dalam upaya mendapatkan izin pemerintah yang diperlukan bagi dicapainya tujuan Zionisme.

Semua program ini menjadi tanggung jawab kongres yang dalam sehari-hari ditangani oleh sebuah badan eksekutif di bawah pimpinan Herzl. Dialah, dengan pengalamannya sebagai wartawan internasional mulai menggarap beberapa politisi dan pejabat pemerintah di Barat untuk memberikan dukungan bagi Zionisme.

b. Manipulasi sejarah

Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basel merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah Palestina dari bangsa Arab. Namun hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai “perampok” tetapi malahan dipuja sebagai “pahlawan” dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai “teroris” dan penjahat yang perlu dihancurkan.

Salah satu kunci untuk memahami semua ini ialah karena sejak Kongres I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XX yakni: diplomasi, lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam perjuangan politik abad modern ini. Sejak Kongres I, ia sangat rajin melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan diplomasi ke berbagai negara. Hasilnya sungguh luar biasa. Zionisme lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.

Tokoh-tokoh Yahudi banyak terjun ke media massa, terutama koran dan industri film. Hollywood misalnya didirikan oleh Adolf Zuckjor bersaudara dan Samuel-Goldwyn-Meyer (MGM). Dengan dominasi yang luar biasa ini, mereka berhasil mengubah bangsa Palestina yang sebenarnya adalah korban kaum Zionis menjadi pihak “penjahat”.

Edward Said, dalam bukunya Blaming The Victims secara jitu mengungkapkan bagaimana media massa Amerika menciptakan gambaran negatif bangsa Palestina. Sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran atau TV Amerika terkemuka yang mempunyai wartawan Arab atau Muslim. Kondisi ini berbeda dengan media Eropa yang meskipun dalam jumlah terbatas masih memiliki wartawan Arab atau muslim. Dengan demikian laporan tentang Palestina di media Eropa secara umum lebih “fair” daripada media Amerika.

Edward Said yang terkenal dengan bukunya Orientalism (Verso 1978), menguraikan apa yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina merupakan praktik kaum Orientalis yang sangat nyata. Pertama, sejarah ditulis ulang, yakni Palestina sebelum berdirnya Israel ialah: wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak mempunyai tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

Yerusalem dan tanah Palestina tampaknya akan semakin panas. Zionisme yang semula dimaksudkan sebagai pemecahan terhadap masalah Yahudi (Eropa) ternyata malahan menimbulkan masalah yang baru: yakni persoalan Palestina yang sampai sekarang tidak pernah selesai.

2. Antara Zionisme dan Yudaisme

Dalam sejarah Islam, persentuhan sosial dan teologi antara Islam dan Yahudi sangat banyak tercatat. Persentuhan inilah yang kemudian melahirkan dinamika yang sesungguhnya –dalam sejarah- banyak bernuansa positif. Tapi sejak berdirinya negara Israel, kerukunan dan saling ketergantungan antara dua komunitas yang telah dicatat sejarah sepertinya sirna tiada bekas.

Ketika umat Yahudi terus dikejar-kejar dan diteror oleh komutas lain, khususnya Kristen yang menyalahkan kaum Yahudi sebagai “pembunuh” Nabi Isa AS, di saat itulah umat Islam begitu melindungi kaum Yahudi dari kezhaliman Kristen. Dan sikap toleransi yang diperlihatkan kaum Muslimin terhadap orang-orang ahli kitab telah terbukti sepanjang sejarah Islam. Selama berabad-abad, umat Islam memperlakukan kaum Yahudi dengan sangat bersahabat dan mereka menyambut persahabatan ini dengan kesetiaan. Namun, hal yang telah merusak keadaan ini adalah Zionisme.

Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka.

Hingga saat kemunculan Zionisme di Timur Tengah, ideologi ini tidak mendatangkan apapun selain pertikaian dan penderitaan. Dalam masa di antara dua perang dunia, berbagai kelompok teroris Zionis melakukan serangan berdarah terhadap masyarakat Arab dan Inggris. Di tahun 1948, menyusul didirikannya negara Israel, strategi perluasan wilayah Zionisme telah menyeret keseluruhan Timur Tengah ke dalam kekacauan.

Titik awal dari Zionisme yang melakukan segala kebiadaban ini bukanlah agama Yahudi, tetapi Darwinisme Sosial, sebuah ideologi rasis dan kolonialis yang merupakan warisan dari abad ke-19. Darwinisme Sosial meyakini adanya perjuangan atau peperangan yang terus-menerus di antara masyarakat manusia. Dengan mengindoktrinasikan ke dalam otak mereka pemikiran “yang kuat akan menang dan yang lemah pasti terkalahkan”, ideologi ini telah menyeret bangsa Jerman kepada Nazisme, sebagaimana orang-orang Yahudi kepada Zionisme.

Kini, banyak kaum Yahudi agamis, yang menentang Zionisme, mengemukakan kenyataan ini. Sebagian dari para Yahudi taat ini bahkan tidak mengakui Israel sebagai negara yang sah dan, oleh karenanya, menolak untuk mengakuinya. Negarawan Israel Amnon Rubinstein mengatakan: “Zionisme adalah sebuah pemberontakan melawan tanah air (Yahudi) mereka dan sinagog para Pendeta Yahudi.[v]

Pendeta Yahudi, Forsythe, mengungkapkan bahwa sejak abad ke-19, umat Yahudi telah semakin jauh dari agama dan perasaan takut kepada Tuhan. Kenyataan inilah yang pada akhirnya menimpakan hukuman dalam bentuk tindakan kejam Hitler (kepada mereka), dan kejadian ini merupakan seruan kepada kaum Yahudi agar lebih mentaati agama mereka. Pendeta Forsythe menyatakan bahwa kekejaman dan kerusakan di bumi adalah perbuatan yang dilakukan oleh Amalek (Amalek dalam bahasa Taurat berarti orang-orang yang ingkar kepada Tuhan), dan menambahkan: “Pemeluk Yahudi wajib mengingkari inti dari Amalek, yakni pembangkangan, meninggalkan Taurat dan keingkaran pada Tuhan, kebejatan, amoral, kebiadaban, ketiadaan tata krama atau etika, ketiadaan wewenang dan hukum.[vi]

Zionisme, yang tindakannya bertentangan dengan ajaran Taurat, pada kenyataannya adalah suatu bentuk fasisme, dan fasisme tumbuh dan berakar pada keingkaran terhadap agama, dan bukan dari agama itu sendiri. Karenanya, yang sebenarnya bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Timur Tengah bukanlah agama Yahudi, melainkan Zionisme, sebuah ideologi fasis yang tidak berkaitan sama sekali dengan agama.

Akan tetapi, sebagaimana yang terjadi pada bentuk-bentuk fasisme yang lain, Zionisme juga berupaya untuk menggunakan agama sebagai alat untuk meraih tujuannya.

a. Yudaisme

i. Dualisme agama dan ras

Yudaisme atau Agama Yahudi adalah kepercayaan yang unik untuk orang/bangsa Yahudi (penduduk negara Israel maupun orang Israel yang bermukim di luar negeri). Inti kepercayaan penganut agama Yahudi adalah wujudnya Tuhan yang Maha Esa, pencipta dunia yang menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan di Mesir, menurunkan undang-undang Tuhan (Torah atau Taurat) kepada mereka dan memilih mereka sebagai cahaya kepada manusia sedunia.

Kitab Suci agama Yahudi menuliskan Tuhan telah membuat perjanjian dengan Abraham bahwa beliau dan cucu-cicitnya akan diberi rahmat apabila mereka selalu beriman kepada Tuhan. Perjanjian ini kemudian diulangi oleh Ishak dan Yakub. Dan karena Ishak dan Yakub berasal dari bangsa Yahudi, maka mereka meyakini bahwa merekalah bangsa yang terpilih. Penganut Yahudi dipilih untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab khusus, seperti mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dan beriman kepada Tuhan. Sebagai balasannya, mereka akan menerima cinta serta perlindungan Tuhan. Tuhan kemudian menganugerahkan mereka Sepuluh Perintah Allah melalui pemimpin mereka, Musa.

Sinagoga merupakan pusat masyarakat serta keagamaan yang utama dalam agama Yahudi, dan Rabi adalah sebutan bagi mereka yang pakar dalam hal-hal keagamaan.

Kitab Ibrani disebut Tanakh dan terdiri dari 24 buku yang dihimpun dari 3 kumpulan: Torah atau Taurat (Pentateuch), Nevi’im (Para Nabi), dan Ketubim (Tulisan).

Selain itu terdapat juga Talmud yang merupakan terjemahan serta komentar mengenai Torah dari para rabi dan cendekiawan undang-undang. Ini termasuk Mishnah dan Halakah (kode undang-undang masyarakat utama penganut agama Yahudi), Gemara, Midrash dan Aggadah (legenda dan kisah-kisah lama). Selain itu, ada pula Kabballah, yaitu teks lama yang menurut kaum Yahudi berunsur mistik, dan menceritakan zat-zat Tuhan.

Kebanyakan penganut Yahudi mengikuti peraturan dalam memilih makanan yang tertulis di dalam Taurat yang melarang campuran susu dengan daging. Daging babi juga dilarang dalam agama Yahudi. Makanan yang disediakan harus menuruti undang-undang tersebut, dan daging harus disembelih oleh kaum Rabi, dinamakan kosyer.

Anak laki-laki juga diharapkan untuk disunat (sewaktu masih bayi) seperti perjanjian nabi Ibrahim dengan Tuhan. Apabila seorang anak laki-laki mencapai kematangan dia akan dirayakan karena menjadi anggota masyarakat Yahudi dalam upacara yang dinamakan Bar Mitzvah. Setelah kematian seseorang, orang-orang Yahudi akan mengadakan satu minggu berkabung di mana mereka membaca Kaddish. Agama dan kemasyarakatan saling berkaitan di dalam masyarakat Yahudi. Misalnya pengambilan riba dianggap berdosa sesama kaum Yahudi, tetapi dibenarkan dengan mereka yang bukan Yahudi.

Istilah “Yahudi”, sebenarnya merupakan istilah yang sedikit rancu. Sebab bisa merujuk kepada sebuah agama atau suku bangsa. Jika dilihat berdasarkan agama, istilah ini merujuk kepada umat agama Yahudi, tidak peduli apakah mereka keturunan Yahudi atau tidak. Namun berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada keturunan Eber (Kejadian 10:21) atau Yakub, anak Ishak, anak Abraham (Ibrahim) dan Sarah. Etnik Yahudi juga termasuk Yahudi yang tidak memegang kepada agama Yahudi tetapi beridentitas Yahudi dari segi tradisi.

Agama Yahudi ialah kombinasi antara agama dan suku bangsa. Dalam agama Yahudi, kepercayaan tidak menjadikan seseorang menjadi Yahudi. Di samping itu, dengan tidak memegang kepada prinsip-prinsip agama Yahudi tidak menjadikan seorang Yahudi kehilangan status Yahudinya. Tetapi, definisi Yahudi undang-undang kerajaan Israel tidak termasuk Yahudi yang memeluk agama yang lain.

Menurut Halakha, atau hukum-hukum agama Yahudi, syarat definisi Yahudi diberikan kepada seorang yang beribu Yahudi, atau seorang yang memeluk agama Yahudi menurut hukum-hukum Yahudi. Definisi ini diwajibkan oleh Talmud, sumber Hukum-Hukum Tak-tertulis yang menerangkan Taurat, kitab suci asal hukum-hukum Yahudi (lima kitab pertama kitab Tanakh/Perjanjian Lama). Menurut Talmud, definisi ini dipegang semenjak pemberian Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai kira-kira 3.500 tahun dahulu kepada nabi Musa. Sejarawan Yahudi non-Ortodoks berkeyakinan bahwa definisi ini tidak diikuti sehingga tidak lama berlaku, tetapi ia mengaku bahwa definisi ini digunakan sekurang-kurangnya 2.000 tahun sampai saat ini.

Pada akhir abad ke-20, dua kumpulan Yahudi (terutama di Amerika Serikat) yang liberal dari segi teologi, Yahudi Reformasi dan Yahudi Rekonstruksi telah membenarkan orang yang tidak memenuhi kriteria tersebut untuk menyebut diri mereka sebagai Yahudi. Mereka tidak lagi mewajibkan orang memeluk agama tersebut demi memenuhi adat istiadat pemelukan tradisional, dan mereka menganggap seseorang sebagai Yahudi jika ibu mereka bukan Yahudi, asalkan berayah Yahudi.

ii. Kelompok Yahudi

Dewasa ini ada tiga kelompok Yahudi utama, yaitu kaum Ashkenazim, Sefardim, dan Mizrahim atau “Orang dari Timur”.

Ashkenazim adalah bentuk plural daripada “Ashkenaz” dari bahasa Ibrani (אשׁכנזי) yang berarti “Jerman”. Dalam bahasa Ibrani juga dikenal bentuk אשׁכנזים. Ini mengartikan orang YahudiEropa, terutama dari Eropa Timur, bahasa yang mereka pakai biasanya adalah bahasa Yiddish. Jaman sekarang kaum Ashkenazim di Eropa sudah hampir punah, mereka banyak didapati di Amerika Serikat dan Israel. Kaum Ashkenazim, sebagai sebuah kaum yang cukup tertutup banyak yang mengidap penyakit turunan. Tetapi salah satu penyakit turunan yang berhubungan dengan penyakit otak, membuat mereka memiliki skor IQ tertinggi di dunia.

Sedangkan Sefardim (Ibrani: ספרדי, Standar Səfardi Tiberias Səp̄arədî; plural ספרדים, Standar Səfaradim Tiberias Səp̄arədîm) adalah sebuah sub-kelompok Yahudi yang berasal dari Jazirah Iberia, yang biasanya dibedakan dengan Yahudi Ashkenazi.

Sefardim adalah bentuk plural dari “Sefard”, yang berarti “Spanyol”. Kata ini digunakan untuk merujuk orang-orang Yahudi yang berasal dari Iberia (kini Portugal dan Spanyol), termasuk keturunan mereka yang diperintahkan meninggalkan Spanyol ketika penguasa Katolik Ferdinand dan Isabella merebut kembali dari tangan orang Islam Arab dan Yahudi Afrika Utara yang menginvasi Spanyol pada 711 M.[vii]

Perintah deportasi ini (dijadikan hukum dalam Dekrit Alhambra pada 1492), atau dari Portugal berdasarkan perintah Raja Manuel I pada 1497. Di zaman modern, istilah ini juga digunakan untuk orang-orang Yahudi yang mungkin tidak dilahirkan sebagai Sefardi (atau bahkan juga bukan Yahudi) tetapi menghadiri ibadah di sinagoga-sinagoga Sefardi dan mempraktikkan tradisi Sefardis. Kini ada sekitar 12.000 orang Yahudi di Spanyol dan 500 di Portugal.

Sementara Mizrahim, “mizrakh = timur (dalam bahasa hebrew/ibrani untuk “him” ini dalam bentuk plural). Mizrahim atau orang dari timur, yang dimaksud orang dari timur adalah orang suku Yahudi yang pada jaman dahulu berevolusi/mutasi/tinggal di daerah bagian timur (seperti negara yang ada di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tengah, India, dan bagian kecil di Asia Timur, yang masih mempunyai hubungan darah atau keturunan Yahudi sampai sekarang.

b. Zionisme merusak Yudaisme

Taurat adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa. Allah mengatakan dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)…” (QS al-Mâ`idah [5] :44). Sebagaimana pula dinyatakan dalam al-Qur`an, isi Taurat di kemudian hari telah dirubah dengan penambahan perkataan manusia. Itulah mengapa di zaman sekarang telah dijumpai “Taurat yang telah dirubah”.

Namun, pengkajian terhadap Taurat mengungkap keberadaan inti ajaran-ajaran Agama yang benar di dalam Kitab yang pernah diturunkan ini. Banyak ajaran-ajaran yang dikemukakan oleh Agama yang benar seperti keimanan kepada Allah, penyerahan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, mencintai Allah, keadilan, cinta, kasih sayang, menentang kebiadaban dan kedzaliman tertulis dalam Taurat dan bagian-bagian lain dari Kitab Perjanjian Lama.

Selain itu, peperangan yang terjadi sepanjang sejarah dan pembantaian yang terjadi ini dikisahkan dalam Taurat. Jika seseorang berniat untuk mendapatkan dalil – meskipun dengan cara membelokkan fakta-fakta yang ada – untuk membenarkan tindakan keji, pembantaian dan pembunuhan, ia dapat dengan mudah mengambil bagian-bagian ini dalam Taurat sebagai rujukan untuk kepentingan pribadinya.

Zionisme menempuh cara ini untuk membenarkan tindakan terorismenya, yang sebenarnya adalah terorisme fasis, dan ia sangat berhasil. Sebagai contoh, Zionisme telah menggunakan bagian-bagian yang berhubungan dengan peperangan dan pembantaian dalam Taurat untuk melegitimasi pembantaian yang dilakukannya terhadap warga Palestina tak berdosa. Ini adalah penafsiran yang tidak benar. Zionisme menggunakan agama sebagai alat untuk membenarkan ideologi fasis dan rasisnya.

Sungguh, banyak orang-orang Yahudi taat yang menentang penggunaan bagian-bagian Taurat ini sebagai dalil yang membenarkan pembantaian yang dilakukan terhadap warga Palestina sebagai tindakan yang benar. The Neturie Karta, sebuah organisasi Yahudi Ortodoks anti Zionis, menyatakan bahwa, nyatanya, Menurut Taurat, umat Yahudi tidak diizinkan untuk menumpahkan darah, mengganggu, menghina atau menjajah bangsa lain”. Mereka menekankan lebih jauh bahwa, “para politikus Zionis dan rekan-rekan mereka tidak berbicara untuk kepentingan masyarakat Yahudi, nama Israel telah dicuri oleh mereka”.[viii]

Dengan menjalankan kebijakan biadab pendudukan atas Palestina di Timur Tengah dengan berkedok “agama Yahudi”, Zionisme sebenarnya malah membahayakan agama Yahudi dan masyarakat Yahudi di seluruh dunia, dan menjadikan warga Israel atau Yahudi diaspora sebagai sasaran orang-orang yang ingin membalas terhadap Zionisme.

3. Deklarasi Balfour dan Berdirinya Negara Israel

a. Balfour 1917

Deklarasi Balfour (1917) ialah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya/Inggris; Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild, 2nd Baron Rothschild), pemimpin komunitas Yahudi Inggris, untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis.

Surat itu menyatakan posisi yang disetujui pada rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917, bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana Zionis buat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina, dengan syarat bahwa tak ada hal-hal yang boleh dilakukan yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.

Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani, dan batas-batas yang akan menjadi Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot 16 Mei 1916 antara Inggris dan Prancis. Sebagai balasan untuk komitmen dalam deklarasi itu, komunitas Yahudi akan berusaha meyakinkan Amerika Serikat untuk ikut dalam Perang Dunia I. Itu bukanlah alasan satu-satunya, karena sudah lama di Inggris telah ada dukungan bagi gagasan mengenai ‘tanah air’ Yahudi, dan waktunya tergantung pada kemungkinannya.

Kata-kata Deklarasi ini kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Sèvres dengan Turki Utsmani dan Mandat untuk Palestina.

Deklarasi Balfour 1917 merupakan peletak dasar terjadinya konflik antara bangsa Arab dengan bangsa Yahudi. Deklarasi Balfour ialah surat James Arthur Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris pada waktu itu, kepada Baron Rothchild, seorang Yahudi Amerika, yang berisi jaminan dan dukungan Pemerintah Inggris atas dibentuknya suatu negara Yahudi yang akan berkedudukan di Palestina.

Pertimbangan Inggris dalam memberi dukungan tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa terciptanya pemerintahan Yahudi di Palestina dapat memperkuat posisi Inggris di dunia Arab setelah PD-I. Dengan dukungan dana dan politik kaum Yahudi dunia, Inggris mengharapkan rute jajahannya ke India dapat dijalin secara aman.

Akibat langsung dari Deklarasi Balfour ini ialah kaum Yahudi dari seluruh dunia mulai bermigrasi ke Palestina. Mereka membeli tanah secara besar-besaran dari orang-orang Arab Palestina, disertai paksaan dan atau perampasan.

Semula hal itu dimungkinkan karena dukungan dana dari Jewish National Fund (Lembaga Keuangan Nasional Yahudi), salah satu cabang organisasi Zionis, yang bertugas membayar tanah-tanah yang dibeli dari orang Arab-Palestina. Akibat lebih lanjut ialah, proses pembelian tanah yang demikian itu telah menyulut konflik antara Arab Palestina dengan Yahudi pendatang.

Konflik Yahudi-Arab Palestina semakin menjadi-jadi bersamaan dengan semakin banyaknya jumlah Yahudi pendatang. Karena itu, Inggris berusaha mengurangi intensitas konflik tersebut, dengan mengeluarkan Churchill White Paper tahun 1922 (Buku Putih Churchill), dan menunjuk the Peel Royal Comission di tahun 1936 untuk menyelidiki situasi di Palestina.

Meskipun demikian, buku Putih Churchill bermakna mendua. Di satu pihak menenteramkan bangsa Arab, bahwa Inggris tidak akan menghapuskan eksistensi penduduk, bahasa, dan kebudayaan Arab di Palestina. Di pihak lain, Inggris menenangkan bangsa Yahudi, bahwa janji kepada Yahudi seperti yang tercantum dalam Deklarasi Balfour, tidak diingkari.

b. Balfour 1926

Deklarasi Balfour 1926 ialah pernyataan pada Konferensi Kekaisaran oleh pemimpin Kekaisaran Britania antara Oktober-November 1926 di London. Di sana dinyatakan bahwa Britania Raya dan semua Dominion “merupakan komunitas swatantra dalam Britania Raya, sama dalam kedudukan, dengan tiadanya yang lebih rendah antara satu dengan lainnya dalam tiap aspek urusan dalam maupun luar negerinya, meski dipersatukan oleh kesetiaan umum pada Raja, dan secara bebas terhubung sebagai anggota negara-negara Persemakmuran Britania“.

Pernyataan ini berbeda dengan Deklarasi Balfour 1917 yang mana Menteri Luar Negeri Britania menyokong Yahudi untuk mendirikan negara di Palestina. Itu dinamai, seperti dokumen awal, setelah Earl of Balfour (Arthur James Balfour, 1848-1930), Pemimpin Dewan dalam pemerintahan Britania Raya dan ketua ketua hubungan konferensi inter-Imperial. Komite ini menyusun persiapan dokumen pada persetujuannya PM kerajaan pada saat duduk pada 15 November.

Secara resmi deklarasi ini menerima kemerdekaan politik dan diplomatik yang sedang berkembang yang tampak terutama oleh Kanada sejak Perang Dunia I. Juga menerima bahwa Gubernur Jenderal, perwakilan raja, yang tetap menjadi kepala negara di tiap Dominion, takkan lama menjabat secara otomatis juga sebagai perwakilan pemerintahan Britania Raya dalam hubungan diplomatik antara 2 negara.

Pada titik ini, GubJen yang sedang mewakili pemerintahan Britania Raya dalam tiap Dominion digantikan oleh Komisaris Tinggi, yang tugasnya segera diakui secara sebenarnya sama pada DuBes itu. Yang pertama seperti Komisaris Tinggi Britania Raya dipilih ke Ottawa pada 1928.

Kesimpulan konferensi itu ditetapkan kembali dari 1930 dan digabungkan dalam Undang-undang Westminster Desember 1930 yang mana parlemen meninggalkan tiap otoritas legislatif atas urusan Dominion kecuali sebagaimana yang tegasnya tersedia dalam hukum Dominion.

c. Buku Putih 1939[ix]

Buku Putih 1939, yang juga dikenal sebagai Buku Putih MacDonald sesuai dengan nama Malcolm MacDonald, Menteri Negara Urusan Koloni Britania Raya yang memimpin penulisannya, adalah sebuah dokumen yang berisi kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah Britania di bawah Arthur Neville Chamberlain yang memutuskan untuk meninggalkan gagasan tentang pembagian Palestina di bawah mandat Britania, dan sebaliknya membentuk Palestina yang merdeka yang diperintah bersama-sama oleh orang-orang Arab dan Yahudi.

Dokumen-dokumen sebelumnya telah menyatakan bahwa Deklarasi Balfour bukanlah sebuah pernyataan setuju Britania tentang pembentukan sebuah negara Yahudi yang sesungguhnya di Palestina.

Pada Januari 1938, Komisi Woodhead dibentuk untuk menjajaki cara-cara untuk menerapkan rekomendasi-rekomendasi yang dibuat oleh Komisi Peel (1936). Laporan Komisi Woodhead diterbitkan pada 9 November 1938. Gagasan pembagian wilayah didukung, namun negara Yahudi yang diusulkan pada intinya jauh lebih kecil, wilayahnya hanyalah dataran pantai saja.

Pada Februari 1939, Konferensi St. James (juga dikenal sebagai Konferensi Meja Bundar 1030) diadakan di London; karena delegasi Arab menolak untuk resmi bertemu dengan delegasi Yahudi atau mengakuinya, usul-usul itu diajukan oleh pemerintah secara terpisah kepada kedua belah pihak, yang tetap tidak bisa menyetujuinya. Konferensi berakhir pada 17 Maret tanpa kemajuan apapun.

Buku Putih 1939 diterbitkan pada 17 Mei 1939, dan pokok-pokok utamanya adalah:

Bagian I. Konstitusi: Dinyatakan bahwa karena lebih dari 450.000 orang Yahudi kini telah bermukim di wilayah mandat itu, Deklarasi Balfour tentang “sebuah tanah air nasional untuk bangsa Yahudi” telah terpenuhi dan diserukanlah pembentukan sebuah negara Palestina yang independen dalam waktu 10 tahun, yang diperintah bersama-sama oleh orang Arab dan Yahudi:

“Pemerintah Sri Baginda percaya bahwa para penyusun Mandat yang di dalamnya Deklarasi Balfour terkandung tidak mungkin memaksudkan bahwa Palestina harus diubah menjadi sebuah Negara Yahudi berlawanan dengan kehendak penduduk Arab negara itu. [...] Karena itu Pemerintah Sri Baginda kini menyatakan dengan tegas bahwa bukanlah kebijakannya bahwa Palestina harus menjadi sebuah Negara Yahudi. Bahkan Pemerintah akan menganggap hal itu berlawanan dengan kewajibannya terhadap orang-orang Arab di bawah Mandat ini, dan juag dengan jaminan-jaminan yang telah diberikan kepada bangsa Arab di masa lampau, bahwa penduduk Arab di Palestina harus dijadikan kawula dari sebuah Negara Yahudi, yang berlawanan dengan kehenadk mereka.”

“Tujuan dari Pemerintahan Sri Baginda adalah pembentukan dalam waktu 10 tahun sebuah Negara Palestina yang merdeka dalam hubungan-hubungan perjanjian dengan Britania Raya sehingga akan memberikan kebutuhan-kebutuhan komersial dan strategis dari kedua negara itu dengan memuaskan di masa depan. [...] Negara yang merdeka itu haruslah satu saja, di mana orang Arab dan Yahudi bersama-sama memerintah dengan cara yang demikian rupa sehingga memastikan perlindungan kepentingan-kepentingan yang hakiki dari masing-masing komunitas.”

Bagian II. Imigrasi: Imigrasi Yahudi ke Palestina di bawah Mandat Britania akan dibatasi hingga 75.000 orang saja untuk lima tahun pertama, dan kelak akan ditetapkan berdasarkan persetujuan Arab:

“Pemerintah Sri Baginda tidak menemukan [..] apapun di dalam Mandat ini ataupun di dalam Pernyataan-pernyataan Kebijakan yang sesudahnya yang mendukung pandangan bahwa pembentukan sebuah Tanah Air Nasional Yahudi di Palestina tidak adpat dilakukan kecuali apabila imigrasi diizinkan berlanjut tanpa batas. Bila imigrasi menimbulkan akibat-akibat yang tidak dikehenadki terhadap posisi ekonomi negara ini, imigrasi harus dengan tegas dibatasi; demikian pula bila hal itu menimbulkan akibat yang merugikan secara serius terhadap posisi politik di negara ini, maka itu adalah faktor yang tidak boleh diabaikan. Meskipun tidak sulit orang berdebat bahwa imigran Yahudi dalam jumlah besar yang akan diterima sejauh ini telah diserap secara ekonomi, rasa takut orang-orang Arab bahwa arus masuk ini akan berlanjut tanpa batas hingga populasi Yahudi mendominasi mereka telah menghasilkan akibat-akibat yang sangat parah bagi orang-orang Yahudi maupun Arab, dan bagi perdamaian dan kemakmuran Palestina.

C. ANALISIS

1. Zionisme, Imperialisme Barat dan Terorisme

Sebelum berbicara mengenai Zionisme Israel, kita harus memahami terlebih dulu hubungan antara Yahudi dengan Zionisme. Dari apa yang dinyatakan Roger Geraudy dalam The Case of Israel-nya, ada isyarat bahwa ketika berbicara mengenai Yahudi, hal itu terkait dengan: (1) Yahudi sebagai agama; (2) Yahudi sebagai sebuah bagsa; (3) Yahudi sebagai keturunan; (4) Yahudi sebagai sebuah gerakan politik (baca: Zionisme). Para tokoh Yahudi sendiri memiliki penafsiran yang berbeda tentang permasalahan tersebut.

Sebagai sebuah agama, bangsa, sekaligus keturunan, Yahudi telah eksis sejak berabad-abad yang lalu; bahkan sejak zaman Nabi Musa a.s. Sementara itu, Yahudi sebagai gerakan politik adalah fenomena baru yang lahir pada masa imperialisme dan kolonialisme Barat. Dengan kata lain, Zionisme adalah pemikiran baru, bukan bagian dari historisitas Yahudi Internasional, tetapi derivat dari pemikiran Barat, khususnya Eropa. Pakar politik dan pemikir Kristen justru mengenal paham Zionisme sebelum paham itu terlintas di benak orang Yahudi.

Paham itu bermula dari pengusiran-pengusiran orang-orang Yahudi. Tidak tahan dengan perlakukan seperti itu, kaum Yahudi kemudian melakukan eksodus besar-besaran ke Eropa. Kejadian ini telah membuat orang-orang Eropa merasa risih terhadap keberadaan mereka. Akhirnya, orang-orang Eropa berkeinginan memindahkan mereka dari daratan Eropa. Hal ini telah mendorong mereka untuk mencari tempat berlindung. Inilah alasan yang menyebabkan negara-negara Eropa, terutama Inggris, membentuk gerakan-gerakan Yahudi bukan untuk kebaikan Yahudi, bukan pula sebagai wujud belas kasihan kepada Yahudi, tetapi sebagai jembatan untuk mempertahankan kepentingan Eropa di wilayahnya.

Zionisme adalah gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas Yahudi (di Palestina). Negara ini merupakan institusi yang mengumpulkan kembali orang-orang Yahudi yang sudah bertebaran di seluruh dunia (diaspora).

Secara politis, tahun 1882 adalah titik-tolak keinginan tokoh-tokoh Yahudi untuk mewujudkan negara Zionis Israel? Theodore Hertzl merupakan tokoh kunci yang mencetuskan ide pembentukan negara tersebut. Ia menyusun doktrin Zionismenya dalam bukunya berjudul ?der Judenstaad’ (The Jewish State)? Sejak tahun 1882, Zionisme merupakan sebuah gerakan politik yang secara sistematis berusaha mewujudkan negara Yahudi. Secara nyata, gerakan ini didukung oleh tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di Basel (Swiss) tahun 1895. Kongres tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang, mewakili 50 organisasi zionis yang terpencar di seluruh dunia. Mereka lalu mendirikan basis kekuatannya di Wina (Austria) tahun 1896.

a. Imperialisme Barat

Dilihat dari perkembangan sejarah dunia, terutama sejak masa renaissance di Eropa hingga kini, dunia telah dibentuk dengan ide-ide-baik yang mendasar ataupun turunan-yang sebagian besarnya dimunculkan oleh orang-orang keturunan Yahudi (Ini berarti terkait dengan Yahudi sebagai keturunan). Hal inilah yang disimpulkan oleh Max I Dimont seorang Yahudi, yang secara angkuh mengungkapkan dalam bukunya, Jews, God, and History. Buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Desain Yahudi atau Kehendak Tuhan ini, membuat sebuah paragraf penutup, “Jika seseorang memandang pencapaian Yahudi melalui kaca mata meterialistik, ia hanya melihat sebuah minoritas tak berarti yang hanya memiliki secuplik negeri? dan sedikit bataliyon. Ini tampaknya musykil. Akan tidak tampak musykil jika orang menanggalkan prasangka-perasangka yang menutup mata dan memandang dunia bukan sebagai “benda” tetapi sebagai sebuah “ide”. Si orang itu pasti akan melihat bahwa dua pertiga ide dunia beradab sudah diatur oleh ide-ide bangsa Yahudi-ide Moses, Jesus, Paul, Spinoza, Marx, Freud, Einstein,….”

Dalam sudut pandang ideologi, ada tiga ide besar yang tidak bisa dilepaskan dari pemikiran dan keterlibatan orang-orang Yahudi, yakni Kapitalisme, Sosialisme, dan Zionisme.

Kapitalisme dan Sosialisme pertama kali digagas di Eropa. Ideologi ini dibangun atas dasar pemikiran-pemikiran mendasar tentang manusia dan kehidupan. Peran orang-orang Yahudi untuk menghasilkan ide-ide yang merusak dunia ini sangatlah besar. Seperti yang ditulis oleh Max I Dimont ketika mengomentari masa kebangkitan Eropa (renaissance), “Tetapi citra akan terkaburkan jika kita menghapuskan nama-nama kontributor Yahudi. Dalam periode ini, menjulang tinggi figur-figur Yahudi seperti Marx, Freud, Bergson, Einstein…”.

Dari Karl Marx muncul ideologi Sosialisme, termasuk Komunisme. Masih dalam buku yang sama, Max I Dimont memberikan komentar tentang Karl Marx-tentunya dengan sudut pandang Yahudi-nya yang sangat kental, “Karl Marx, anak seorang Yahudi yang berada, dilahirkan pada tahun 1818 di Trier, Jerman…”

Ide ekonomi kapitalis dunia tidak bisa juga dilepaskan dari seorang David Ricardo. Dia dianggap sebagai Bapak Kapitalisme yang telah merumuskan teori-teori ekonomi Kapitalisme penting tentang utang, kepemilikan, upah, dan tentang kuantitas uang. Bagaimana kedekatan David Ricardo ini dengan Yahudi? Kembali Max I. Dimont menulis, “…Ayah Ricardo telah mengadakan kebaktian Yahudi untuk pemakaman anaknya itu…”

Apa yang dirasakan oleh manusia dengan kedua ideologi yang dicetuskan oleh orang-orang Yahudi ini? Kedua ideologi ini telah membawa kehancuran yang dahsyat bagi dunia, terutama karena kedua-duanya menjadikan imperialisme (penjajahan) sebagai instrumen untuk meneguhkan sekaligus mengembangkan dirinya ke seluruh dunia.

b. Relasi Zionisme-Imperialisme

Lalu, bagaimana hubungan antara Kapitalisme dan Sosialisme-yang sama-sama menggunakan imperialisme sebagai instrumennya-dengan Yahudi sebagai sebuah agama dan Yahudi sebagai sebuah gerakan politik (Zionisme)?

Sebagai sebuah agama yang hanya bersifat ritual dan spiritual, Yahudi tidak bisa berdiri sendiri. Agama Yahudi membutuhkan sebuah ideologi politik. Oleh karena itu, para penganut agama Yahudi ada yang bergabung dengan ideologi Kapitalisme dan ada pula yang bergabung dengan Sosialisme.

Namun demikian, sebagai sebuah gerakan politik (Zionisme), Yahudi lebih memanfaatkan Kapitalisme-yang memang lebih dominan sekaligus lebih berjaya dengan imperialismenya-sebagai kendaraan politiknya. Oleh karena itu, Zionisme berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan imperialisme Barat sejak dimulainya imperialisme tersebut hingga saat ini.

Dibandingkan dengan imperialisme Barat-meskipun secara tidak langsung dicetuskan oleh orang-orang Yahudi karena merekalah yang menggagas ideologi Kapitalisme-Zionisme jelas kalah pamor. Kepentingan imperialisme sendiri muncul lebih awal ketimbang kemunculan gerakan bersatunya Yahudi sebagai kekuatan politik yang sangat berpengaruh di Barat. Historisitas gerakan Zionisme bukan bagian dari historisitas Yahudi internasional dan tidak pernah dikenal oleh orang-orang Yahudi Yaman, India, atau Irak; tetapi hanya dikenal oleh orang-orang Yahudi di Dunia Barat. Gerakan ini juga tidak pernah dikenal pada abad pertengahan, melainkan baru dikenal pada abad ke-19, yakni bersamaan dengan meletusnya peperangan melawan imperialisme Barat di berbagai wilayah.

Karena kesadaran pengikut zionis akan pentingnya bersandar kepada pihak luar, maka mereka bergabung dengan sentral kekuatan imperialisme yang mampu untuk menjamin perlindungan dan keamanan terhadap mereka. Untuk itu, Yahudi memindahkan kegiatan dan markas mereka ke Amerika, agar terus mendapat jaminan perlindungan dan keamanan Amerika.

Simbiosis Barat imperialis dengan kaum Zionis Yahudi menemukan bentuk idealnya ketika mereka bersama-sama menghadapi kekuatan kaum Muslim yang saat itu berada di bawah naungan Daulah Islamiyah Utsmaniyah. Orang-orang Yahudi ?rela’ mengubur permusuhannya dengan orang-orang Barat Kristen. Padahal, mereka belum pupus ingatannya terhadap peristiwa yang menimpa warga Yahudi Eropa, tatkala Raja Spanyol yang beragama Katolik bertanggung jawab terhadap pembantaian dan pemusnahan kaum Yahudi dari daratan Eropa, tidak lama setelah jatuhnya benteng Islam terakhir di wilayah Andalusia-sekarang menjadi daerah Portugal dan Spanyol-tahun 1492.

c. Zionisme dan Terorisme

Kita tahu, sejak tampil sebagai pemenang dalam Perang Dunia II dan juga Perang Dingin hingga saat ini, pijakan kebijakan politik luar negeri AS-sebagai pengusung utama ideologi kapitalisme-sebetulnya tidak pernah berubah, yakni imperialisme (penjajahan). Yang berubah adalah cara dan sarananya saja. Jika di masa lalu imperialisme lebih menonjolkan kekuatan fisik (militer), maka saat ini instrumen yang digunakan adalah politik dan ekonomi.

Pada era imperialisme non-fisik inilah hubungan Zionisme dengan sentra kekuatan imperialisme Barat ini, terutama AS, jutru semakin erat dan bahkan semakin ?mesra’. Hal itu dapat dilihat dari berbagai kebijakan politik luar negeri (baca: imperialisme) Amerika, khususnya di Timur Tengah, yang selalu menguntungkan kaum Zionis. Keduanya bahkan sama-sama terlibat secara intens di dalam menebarkan teror di Dunia Islam.

Hal ini sebetulnya mudah dipahami ketika kita mengetahui siapa sesungguhnya yang menentukan kebijakan politik luar negeri Amerika. Menurut beberapa sumber bahwa politik luar negeri AS banyak dipengaruhi Kongres dan lobi Yahudi; di samping agen intelijen dan media massa.

Kongres dan lobi Yahudi yang dikenal dengan AIPAC (American-Israel Public Affairs Committee) memainkan peranan vital dalam politik LN Amerika sejak tahun 1960-an walaupun implikasinya tidak kentara (invisible) di lapangan, tetapi mereka yang bertanggung jawab dalam hal tersebut sangat merasakan sepak terjangnya yang kuat. Kongres memainkan peran substansial dalam membentuk kebijakan LN Amerika, terutama untuk kawasan Timur Tengah, antara lain dengan melindungi keamanan entitas Zionis, eksistensi, dan superioritasnya di berbagai aspek karena entitas ini diproyeksikan sebagai agen Barat kawasan ini. Konsekuensinya, Kongres konsisten membuat segala upaya untuk mengalokasikan porsi bantuan LN yang signifikan buat Israel pada saat konflik Israel vis-a-vis Arab terus bereskalasi.

Di saat PBB mengeluarkan resolusi yang sangat lunak tentang kebiadaban Israel baru-baru ini, Kongres AS berbuat sebaliknya. Mereka melakukan voting untuk mengecam Palestina. Hasilnya 365 suara? mendukung dan hanya 30 suara menentang. Inilah gambaran demikian kuatnya pengaruh Yahudi di Amerika Serikat.

Kenapa Yahudi demikian kuat di AS padahal jumlah mereka sedikit. Edward Tivnan dalam bukunya The Lobby, Jewish Political? Power and American Foreign Policy meneliti tentang sejauh mana kekuatan masyarakat Yahudi di AS. Dalam buku itu disebutkan beberapa sumber kekuatan Yahudi dalam politik AS, antara lain:

Pertama, senjata politik. Lewat ini kelompok Yahudi akan dapat mencap atau memberi label anti Israel, Pro Arab, atau anti semit kepada mereka yang mengeritik Israel.

Kedua, suara (vote) masyarakat Yahudi. Meskipun Amerika memiliki tradisi demokrasi yang kental, namun sesungguhnya hanya sedikit penduduk AS yang memberikan suaranya, bahkan hampir setengah dari pemilih tidak memberikan suara. Sebaliknya enam juta Yahudi yang hanya 3 % dari seluruh penduduk? bisa secara maksimal memberikan 90 % suara mereka.

Ketiga, kemampuan orang-orang Yahudi untuk memberikan uang dalam kampanye-kampanye politik. Kekuatan uang-yang menonjol-dalam pemilihan di Amerika Serikat hampir seusia dengan negara ini. Yahudi pertama yang memberikan dana politik nasional adalah seorang bankir Yahudi bernama Abraham Feinberg. Dia merupakan penyokong dana pemilihan Hary Truman dan John? F. Kennedy. Yahudi Amerika Serikat sangat ?dermawan’ terhadap calon yang mereka percaya akan mendukung kepentingan mereka.

Di samping itu, setiap orang mengakui bahwa media massa merupakan elemen tak terpisahkan dari proses politik Amerika yang secara tidak langsung memberikan kontribusi pada politik LN-nya. Liputan media selalu saja memberikan impresi negative dan pandangan miring terhadap orang Arab dan komunitas Islam. Pada sisi lain, media Amerika secara konsisten mempresentasikan Israel dalam a positive light, kendati kebrutalan dan kebiadaban terus dilakukannya. Tidak dipungkiri memang bahwa media Amerika telah didominasi oleh Yahudi yang berhasil menampilkan sosok rakyat Arab dan umat Islam seperti monster yang menteror dan mendestabilkan dunia.

Dari 1.700 koran terbitan AS, 3 % adalah milik Yahudi. Jumlah ini mencakup surat kabar yang terkemuka terutama dalam masalah internasional. Misalnya The New York Times dan The Washington Post. Hartawan Yahudi AS juga menguasai majalah mingguan yang berpengaruh seperti Newsweek, Time, US News & World Report, ataupun juga mingguan intelektual seperti Nation,? New Republic, The New York Times Review of Books, dan lain-lain. Mereka juga menguasai tiga televisi besar di AS seperti The Columbia Broadcasting System, The American Broadcasting Corporation, dan The National Broadcasting Corporation. Perlu dicatat orang AS lebih suka? menontot TV dari pada membaca. Dengan demikian, pengaruh TV di AS untuk membentuk opini sangatlah besar.

2. Zionisme dan Rasisme
Zionisme dan organisasi semisalnya yang menjadi cikal bakal kelahiran rezim ilegal
Israel di tanah Palestina, adalah sebuah gerakan ideologi rasialis, sementara agama hanya dijadikan sebagai alat untuk mendukung merealisasikan cita-citanya. Karena itu wajar jika kaum Zionis tidak pernah menghargai bangsa Arab khususnya Palestina, termasuk mereka yang beragama Yahudi. Sejak berdiri di negeri Palestina, Rezim Zionis telah melakukan berbagai macam kezaliman terhadap bangsa Palestina.

Zionisme terbentuk dari berbagai pemikiran, ideologi dasar, organisasi politik dan sebuah proyek sosial, dengan mencanangkan dua hal yang menjadi cita-citanya. Yaitu, kembali ke negeri yang dijanjikan dan membangun umat Yahudi. Kaum Zionis sejak sekitar 100 tahun lalu, ketika ide pemikiran Zionisme mulai digulirkan berusaha keras untuk mewujudkannya. Hal terbesar yang telah mereka lakukan adalah mendirikan sebuah rezim pemerintahan di negeri Palestina dengan nama Israel tahun 1948.

Lahirnya rezim ini diawali dengan perang yang menyengsarakan rakyat Palestina. Ratusan ribu warga Palestina tewas, terluka dan terusir dari negeri mereka. Semua itu terjadi didepan mata negara-negara adidaya dan sesuai dengan rencana dan skenario yang telah bersama-sama mereka susun. Berdasarkan skenario tersebut, Zionis harus menjadi yang terkuat di kawasan. Untuk itu, segala sarana baik alat-alat militer maupun pengaruh politik gerional dan global harus diperbantukan untuk Israel. Di saat itulah, rakyat Palestina yang tanpa penolong dipaksa mengungsi keluar dari tanah leluhur mereka.

Kisah keterusiran warga Palestina dari negeri mereka juga berusaha disamarkan oleh kaum Zionis. Dengan mendistorsi fakta sejarah, mereka mengatakan bahwa orang-orang Palestina tersebut meninggalkan negeri ini karena terbujuk oleh ajakan para penguasa Arab dan non Arab yang menawarkan perlindungan di luar Palestina. Dengan kata lain, orang-orang Zionis berusaha mengesankan bahwa negeri Palestina adalah negeri tanpa penghuni, sehingga langkah mendirikan negara bernama Israel di negeri ini dapat dibenarkan.

Para pemimpin Rezim Zionis Israel dan para pemikirnya tidak pernah mengakui adanya bangsa bernama Palestina yang hidup di sana. Sebab jika mengakuinya, rezim ini harus memberikan hak-hak kepada orang-orang Palestina sesuai dengan ketentuan internasional. Jika keberadaan rakyat Palestina diakui, berarti Israel harus pula mengakui gerakan perlawanan yang dilakukan para pejuang bangsa ini dalam rangka merebut kembali hak-hak mereka. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip dasar ideologi Zionisme.

Pengkaburan atau lebih tepatnya distorsi fakta sejarah itu ditentang luas oleh para peneliti independen, bahkan dari dalam Israel sendiri. Eylan Babey, dosen di universitas Haifa Israel mengatakan, dukomen dan data sejarah mengenai perang tahun 1948 membuktikan bahwa orang-orang Zionis telah melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Palestina untuk memaksa mereka keluar dari negeri ini. Kisah Palestina adalah kisah derita dan tragedi.

Dalam melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina sejak tahun 1948 hingga kini, Rezim Zionis dibantu oleh lembaga-lembaga khususnya antara lain Organisasi Zionisme Herzl. Organisasi ini dididirikan tahun 1897 oleh Theodor Herzl jurnalis Yahudi keturunan Hongaria yang tinggal di Swiss. Organisasi Zionisme Herzl dikenal sebagai sebuah organisasi rasialis dan ekstrem. Nama Zionisme diambil dari nama gunung Zion tempat berdirinya kota Beitul Maqdis atau Jerussalem.

Zionisme bentukan Herzl mencita-citakan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Palestina dan mendirikan tempat peribadatan Kuil Sulaiman di lokasi tempat Masjidul Aqsha berdiri. Dengan cita-cita tersebut, masyarakat dunia menyematkan label rasisme untuk gerakan Zionisme ini. Apalagi untuk mencapai tujuan dan cita-citanya, Zionisme merasa berhak menggunakan segala cara termasuk cara-cara yang paling tidak manusiawi.
Untuk dapat mencapai cita-cita besar seperti itu, orang-orang Zionis merasa perlu merangkul kekuatan-kekuatan adidaya untuk memperoleh dukungan dan bantuan. Upaya itu dituangkan dalam konferensi Baltimur yang digelar tahun 1942 di Amerika Serikat. AS dipilih sebagai tuan rumah konferensi karena di negara ini, orang-orang Yahudi Zionis memiliki pengaruh dan lobi yang cukup kuat. Lebih dari itu, pada dekade 1940-an, AS telah bersiap-siap untuk memimpin Blok Barat yang kapitalis.

Sejak terbentuk, Organisasi Zionisme Herzl telah menyelenggarakan lima tahap konferensi yang membahas berbagai hal berkenaan dengan gerakan ini. Tahap pertama antara tahun 1897 hingga 1903, tema pembahasan yang diangkat berkenaan dengan masalah keagamaan, kesulitan yang ada dalam mengorganisasi para pemeluk agama Yahudi di seluruh dunia, kajian tentang kondisi Palestina dan pengkaderan.

Tahap kedua antara tahun 1904 hingga tahun 1916 dibahas tentang pragram praktis di Palestina, pengkaderan orang-orang Yahudi dan penyelesaian friksi dan silang pendapat yang ada antara para pemuka dan tokoh politik Zionis.

Pada tahap ketiga antara tahun 1917 hingga 1947 pembahasan difokuskan pada masalah perombakan struktur organisasi dan upaya untuk memperluas jaringan sampai ke tingkat internasional.

Tahap keempat antara tahun 1948 sampai 1978 diwarnai dengan masalah perang dengan rakyat Palestina, pembagian negeri ini, pengumuman berdirinya Israel, pengukuhan, pengembangan dan modernisasi program untuk menduduki kota suci Beitul Maqdis atau Jerussalem, serta Judaisasi kota ini. Pada rentang masa tersebut, Rezim Zionis mendatangkan imigran Yahudi dari berbagai negara ke Palestina secara besar-besaran.

Antara tahun 1979 hingga saat ini, Zionisme mengagendakan program untuk mengeluarkan Israel dari keterkucilan dan membujuk negara-negara Aran untuk mengakui eksistensinya. Dalam rangka ini Israel berhasil merangkul Mesir lewat Perjanjian Camp David, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) lewat Perjanjian Oslo dan Jordania melalui perjanjian Wadi Arbah. Tidak hanya itu, sejumlah negara Arab juga menjalin kontak dan hubungan terselubung dengan Rezim ini.

Lembaga penting kedua yang mendukung program Zionisme adalah Organisasi Militer Haganah yang didirikan tahun 1921 di kota Beitul Maqdis. Organisasi inilah yang menjadi tulang punggung utama gerakan Zionisme setelah membentuk angkatan bersenjata untuk mendukung pembentukan negara Israel. Dengan menjalankan program-program Zionisme, barisan tentara ini berkembang dan membesar. Orang-orang Yahudi yang pernah terjun di perang dunia kedua membela Inggris ikut bergabung dalam barisan tentara Haganah. Mereka inilah yang lantas ikut memadamkan api perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan antara tahun 1936-1939.

Di penghujung dekade 1930-an, Haganah berhasil membentuk regu-regu perang di bawah komando salah seorang perwira militer Inggris. Kelompok ini menjalankan misi meneror dan menumpas gerakan perlawanan rakyat Palestina. Organisasi Haganah juga berhasil membentuk lembaga kepolisian Yahudi dengan jumlah personil yang bertugas sebanyak 22 ribu orang.

Lembaga berikutnya adalah Organisasi Samuel yang dibentuk tahun 1922, oleh Herbert Samuel yang dikenal sangat ekstrem. Organisasi Samuel didirikan untuk membentuk pemerintahan di negeri Palestina bersama dengan lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi Zionis lainnya. Berbekal dukungan dan bantuan Inggris, organisasi-organsasi Zionisme dengan getol menyeru kepada orang-orang Yahudi di seluruh dunia untuk berimigrasi ke Israel.

Sebagai pemikir utama organisasi, Samuel menyusun struktur pemerintahan di Palestina sesuai dengan ide imperialisme. Semua posisi penting diserahkan kepada orang-orang Yahudi, sementara untuk merekrut pegawai diupayakan jumlah Yahudi jauh lebih besar dari warga Palestina. Padahal sampai tahun 1930, prosentase warga Arab masih 93 persen di Palestina. Samuel juga mengumumkan bahasa Ibrani sebagai bahasa resmi setelah Arab dan Inggris.

Skenario lain yang dijalankan oleh Organisasi Samuel adalah memudahkan imigrasi Yahudi dari negara-negara lain ke Palestina. Dengan meninggikan pajak atas tanah perkebunan, warga Palestina yang bekerja sebagai petani ditekan dan dipaksa untuk menjual tanah mereka. Di masa itu, kaum Zionis mulai mengaku sebagai pemilik laut mati serta menguasai sungai Jordan, Yarmuk, Auja dan danau Tabariya. Organisasi Samuel dalam sebuah aksinya memberikan tanah-tanah milik warga Palestina kepada para imigran Yahudi. Selain itu organisasi ini juga menjual bank Ottoman, satu-satunya bank yang seratus persen sahamnya dimiliki oleh warga Palestina.

Dalam banyak kesempatan, Samuel dengan angkuh mengaku diri sebagai juru bicara umat Yahudi sedunia. Organisasi Yahudi Samuel saat ini bekerja dengan aktif melalui tiga komisi yang berkantor di Beitul Maqdis, London dan New York, tujuannya adalah untuk membantu Israel mewujudkan cita-cita Zionisme.

Organisasi Irgun adalah nama kelompok milisi bersenjata Zionis yang dianggotai oleh orang-orang Zionis ekstrem. Kelompok ini ikut membantu koloni Inggris menumpas gerakan perlawanan rakyat Palestina. Milisi Irgun terlibat dalam banyak kasus pembantaian warga Palestina termasuk dalam tragedi pembantaian massal di Deir Yassin tahun 1948.

Organisasi pendukung Zionisme berikutnya adalah organisasi Hashumir yang memanggul senjata dan melakukan berbagai aksi terorisme. Kelahiran keompok ini tahun 1907 dibidani oleh para tokoh Zionis termasuk David Ben Gurion. Ada pula kelompok lainnya bernama Organisasi Hairut yang merupakan pecahan dari Irgun. Menakheem Begin yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Rezim Zionis Israel ikut meramaikan aktivitas kelompok bersenjata Zionis ini.

Lembaga kepolisian pemukiman Zionis Hahayel adalah satu lagi lembaga yang membantu tereliasasinya cita-cita Zionisme. Lembaga kepolisian ini dibentuk pada masa koloni Inggris atas negeri Palestina antara perang Dunia Pertama dan Kedua. Satuan polisi yang dianggotai sekitar 20 ribu personil ini, sebenarnya dibentuk agar bisa dimanfaatkan oleh Inggris dalam perang dunia kedua. Inggris mengizinkan Hahayel untuk merekrut 30 ribu tenaga muda untuk ikut bergabung dalam satuan ini.

D. PENUTUP

Wal-hamdulillahi Rabbil-‘Âlamin. Allahumma ahlikil-kafarata wal-musyrikîn, wal-yahûdadz-dzâlimîn.



[i] Zion, atau kadangkala juga dieja sebagai Sion (dari Bahasa Ibrani: ציון, Tziyyon, Bahasa Arab: صهيونahyūn”)) adalah bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Sekarang ini, perkampungan Yahudi di kota lama Yerusalem berdiri di atas bukit Zion. Nama Zion biasanya merujuk ke kota Yerusalem dan tanah Israel.

[ii] Israel (bahasa Ibrani מדינת ישראל Medinat Yisra‘el, Arab دولة إسرائيل Daulat Isrā’īl) adalah sebuah negara di Timur Tengah, dikelilingi Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Selain itu dikelilingi pula dua daerah Otoritas Nasional Palestina: Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dalam pengertian Alkitab, Israel adalah nama kerajaan utara; kerajaan selatan adalah Yehuda.

[iii] Resolusi 3379 dikeluarkan oleh Dewan Umum PBB pada tahun 1975. Resolusi ini menyatakan bahwa Zionisme adalah sebuah bentuk rasisme. Resolusi ini lolos dengan 72 suara yang mendukung, 35 menolak dan 32 abstain. Jumlah 72 suara yang mendukung ini termasuk 20 negara Arab, 12 negara lainnya dengan mayoritas Muslim, termasuk Turki yang mengakui Israel kala itu, 12 negara komunis, 14 negara Afrika non-Muslim dan 14 negara lainnya termasuk Brazil, India, Meksiko, dan Portugal.

Pada tahun 1991, situasi dunia internasional menjadi berbeda setelah runtuhnya Uni Soviet, kemenangan pasukan sekutu di Irak yang dipimpin Amerika Serikat dan hegemoni negara adidaya ini di dunia internasional. Maka pada tanggal 16 Desember 1991, Dewan Umum mengeluarkan Resolusi 4686, yang menarik resolusi 3379 dengan 111 suara setuju dan 25 suara menolak. Sementara itu ada 13 yang abstain dan 17 delegasi tidak hadir. Sementara itu 13 dari 19 negara Arab, termasuk yang berunding dengan Israel menolak resolusi ini. Enam lainnya tidak hadir. Tidak ada Negara Arab yang setuju. PLO mengecam keras resolusi ini. Hanya tiga Negara non-Muslim yang menolak resolusi ini: Kuba, Korea Utara dan Vietnam. Hanya satu negara dengan mayoritas penduduk Muslim mendukung resolusi ini, yaitu Albania, lainnya abstain atau tidak hadir.

[iv] Theodor Herzl (bahasa Ibrani: Benyamin Ze-ev (בנימין זאב), bahasa Hongaria: Herzl Tivadar) lahir di Budapest tahun 1860. Ia dididik dalam semangat pencerahan Yahudi Jerman dan mengapresiasi budaya sekular. Tahun 1878 pindah ke Wina dan menuntut ilmu hukum di sana. Setelah lulus ia menjadi penulis drama (karyanya : the Ghetto), sandiwara dan wartawan koran liberal Wina Neue Freie Presse.

Setelah terjadinya peristiwa Dreyfus tahun 1894, di mana rakyat banyak meneriakkan “Matilah Yahudi” Herzl merasa perlu untuk berpikir agar kaum Yahudi punya negara sendiri. Ia menerbitkan der Judenstaat (Negara Yahudi) tahun 1896 dan diejek banyak orang Yahudi. Herzl mengusulkan program untuk mengumpulkan dana dari orang Yahudi untuk merealisasikan cita-citanya (ketika terbentuk organisasi ini disebut Zionisme).

Ia meminta bantuan dana dari orang-orang kaya Yahudi seperti Baron Hirsch dan Baron Rotschild, namun percuma. Walaupun begitu akhirnya ia bisa menyelenggarakan Kongres I Zionis di Basel, Swiss tahun 1897. Dalam delegasi itu ia mengemukakan Program Basel. Pada kongres itu ia diangkat jadi pemimpinnya.

Herzl berkeliling ke Israel, Istanbul, dan Jerman untuk mencari dukungan tapi gagal. Pada waktu ke Istambul, ia berupaya menyuap Sultan Abd-ul-Hamid II dengan uang 35 juta lira emas, membangun benteng pertahanan bagi khilafah Turki Utsmani dan pelunasan utang luar negeri agar ia mencabut larangan bagi Yahudi untuk menetap di Israel tak lebih dari 3 bulan dan agar Yahudi bisa ke sana. Namun Sultan menolak rayuan busuk Theodor Herzl dan mengirimkan memorandum berbunyi : “Saya takkan melepaskan Palestina meski sejengkal, sebab tanah itu bukan milik saya namun milik umat saya, yang meeka dapatkan dengan perjuangan dan tetesan darah. Simpanlah uang kalian. Bila khilafah hancur dan musnah suatu hari, sesungguhnya kalian bisa mengambilnya tanpa sepeserpun uang yang kalian bayarkan untuk tanah itu. Namun selagi hayat masih dikandung badan lalu kalian tusukkan pisau di jasad saya, sesungguhnya itu lebih mudah bagi saya, aripada saya harus menyaksikan Palestina terlepas dari khilafah Islam. Dan saya yakin ini takkan pernah terjadi selama saya masih hidup, sebab saya tak mampu menahan sakitnya badan saya dikoyak-koyak sedang saya masih bernafas.” (Sejak itulah Yahudi dan Freemasonry/Kebatinan Bebas berkonspirasi menghancurkan khilafah dan mendirikan Negara Yahudi di Palestina. Menariknya, saat Inggris menaklukkan Palestina 1917, jenderal Inggris Edmund Allenby berkata : “Baru sekarang Perang Salib selesai.” Sementara seorang jendral Prancis menginjak-injak makam Shalahuddin al-Ayyubi sambil berkata:”Bangunlah, he Salahuddin! Ini kami datang untuk kedua kalinya!” Lalu terjadi Deklarasi Balfour, 1917, lantas pendirian negara Yahudi rasis di sana.)

Ia kembali ke Inggris dan bertemu Joseph Chamberlain dan ia menawarkan daerah Uganda sebagai daerah swatantra Yahudi (dan usulan itu ditolak oleh aktivis Zionis tahun 1905 pada kongres ketujuh). Setelah itu ia pergi ke Rusia untuk memohon pada Tsar Rusia agar membantu Zionis memindahkan orang-orang Yahudi Rusia ke Tanah Israel.

Herzl meninggal pada tahun 1904 karena radang paru-paru dan lemah jantung karena kebanyakan kerja. Tahun 1949, jenazahnya dipindahkan ke Bukit Herzl di Yerusalem.

[v] Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19

[vi] Rabbi Forsythe, A Torah Insight Into The Holocaust, http://www.shemayisrael.com/rabbiforsythe/holocaust.

[vii] Finkelstein, hlm. 13

[viii] Rabbi E. Schwartz, Advertisement by Neturei Karta in New York Times, 18 Mei 1993

  1. FYI,

    Buku Dimont “The Indestructible Jews” juga sudah diterjemahkan dan diterbitkan dengan judul:
    “Dilema Yahudi, atau Suratan Nasib? Drama Eksistensialis Dalam 4.000 Tahun Sejarah Dunia”

  2. [...] adalah sebuah gerakan kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion[i], bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul di abad ke-19 ini ingin mendirikan [...]

  3. [...] melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel[ii] pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: